Jodha Akbar Episode 71, Kisah Cinta Jodha Akbar

Jodha Akbar Episode 71, Kisah Cinta Jodha Akbar, Sinopsis Jodha Akbar, Pemeran Jodha Akbar, Foto Pemain Jodha Akbar

Sebelum dirinya dihukum, sambil menangis Maham Anga palsu mengatakan bahwa prajurit Jalal telah membakar rumahnya hingga hangus, sehingga putranya terbakar hidup-hidup di dalam rumah tersebut. Walau api nya telah padam, namun amarah di dalam dirinya masih membara. Dan dia mengatakan bahwa kedatangannya ke istana adalah untuk balas dendam. Dia menunggu saat yang tepat saat salah satu istri Jalal hamil, dan dia ingin agar Jalal merasakan penderitaan sama seperti yang pernah ia alami. Dirinya juga mengaku bahwa dialah yang membunuh calon anak Jalal yang ada di dalam rahim Ruqaiya. Tak disangka, Maham Anga palsu berusaha menyerang Jalal dari belakang dengan sebilah pisau. Namun tindakannya ini berhasil dihentikan oleh anggota dewan yang hadir di persidangan.

Jalal semakin geram melihat tindakan yang telah dilakukan Maham Anga palsu. Jalal pun menyuruh prajurit untuk membunuhnya dan memenggal kepalanya dan menunjukkan kepalanya di depan umum agar kedepan tidak ada lagi seorang pun yang berani melakukan tindakan ini. Namun sebelum dibunuh Jalal juga memerintahkan agar prajurit menghancurkan bentuk wajahnya karena ia tak ingin wajah penjahat ini sama dengan wajah ibu angkatnya. Jalal pun lega telah berhasil mengungkap pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Jalal menenangkan Maham Anga dan mengatakan bahwa dia terbebas dari semua tuduhan. Melihat hal ini Ratu Hamida sangat bangga pada Jalal karena telah menegakkan kebenaran. Namun menurut Jalal dia belum menegakkan kebeneran sepenuhnya karena tindakannya tempo hari yang menghukum Jodha dan saudaranya. Oleh karena itu, di depan umum Jalal meminta maaf kepada Jodha dan saudaranya serta berharap agar mereka mengerti tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang raja dan memaafkan dirinya. Sebagai perwakilan, Baghwan Das menjawab permintaan maaf dari Jalal. Baghwan Das mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan Jalal menundukkan kepala demi mereka, dan mereka juga telah mengerti akan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang raja. Selain itu Baghwan Das kagum kepada Jalal karena telah mengungkapkan siapa pelaku pembunuh sebenarnya serta telah memberi contoh yang baik sebagai seorang raja. Baghwan Das mendoakan Jalal agar terus berjaya.

Selesai sidang dewan, Maham Anga tertawa puas di dalam kamarnya. Resham mengagumi keahlian dan kepiawaian Maham Anga dalam mengatur siasat. Dan sekarang Resham yakin bahwa semakin kesini Jalal akan semakin menghormati Maham Anga. Maham Anga mengingatkan Resham agar dari sini kedepan jangan pernah lagi mengungkit masalah ini, karena hal ini telah selesai. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Jalal dan Ratu Hamida. Lagi-lagi Maham Anga berpura-pura dengan masih merasa kesal bahwa ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang melakukan kejahatan dengan menyamar sebagai dirinya dan dirinya juga merasa kesal karena tidak bisa menyelamatkan calon bayi Jalal. Dengan rendah hati Jalal menjawab bahwa ia memang kesal telah kehilangan calon bayinya namun ia akan lebih kesal lagi jika dirinya harus kehilangan ibu angkat kesayangannya. Jalal juga bersyukur bahwa dirinya dihindari dari melakukan kesalahan untuk tidak menghukum Maham Anga sebagaimana yang ia lakukan terhadap Jodha. Menurut Jalal sudah cukup mereka menderita dan ia tidak ingin lagi melihat adanya air mata. Dengan penuh kasih Jalal pun memeluk Maham Anga. Maham Anga lalu mengatakan bahwa seorang ibu tidak akan pernah merasa cukup untuk putranya, dan semua yang ia lakukan adalah untuk putranya sampai nafas terakhir. Mendengar hal ini, Jalal semakin sayang pada Maham Anga. Setelah Jalal dan Ratu Hamida pergi dari kamar Maham Anga, Resham pun memuji sandiwara yang dilakoni Maham Anga. Resham mengerti bahwa maksud Maham Anga tadi adalah bahwa Maham Anga akan melakukan apa saja untuk putranya Adham Khan, namun sayangnya Jalal tidak mengerti maksud Maham Anga ini. Resham tak berhenti memuji dan semakin salut pada Maham Anga.

Jalal menemui Jodha di kamarnya. Jalal mengatakan bahwa ia memiliki kabar baik untuk Jodha. Namun sayangnya Jodha bisa menerkanya, dirinya yakin bahwa Jalal telah mempersiapkan rencana kepulangan Jodha ke Amer. Dengan raut yang sedih Jodha mengatakan bahwa dirinya sangat senang. Melihat ekspresi di wajah Jodha berbeda dengan perkataanya membuat Jalal bertanya-tanya. Kemudian Jodha melanjutkan kata-katanya. Ia mengungkapkan bahwa sebagai wanita yang telah dicampakkan suaminya ia merasa sangat sedih, namun paling tidak ia bisa pulang ke Amer kembali berkumpul bersama keluarganya. Di Agra dirinya merasa tidak pernah merasa bahagia. Walaupun dirinya sebagai wanita yang dicampakkan, ia merasa yakin bahwa kedua orangtua serta keluarganya di Amer akan menerimanya walaupun hal ini membuat keluarga Jodha menjadi sangat malu. Jodha pun mengatakan bahwa daripada seumur hidup harus tinggal bersama seorang yang tidak memiliki hati lebih baik dirinya menghabiskan sisa hidupnya di tanah kelahirannya. Karena ia hanya mati sekali namun di Agra ia selalu merasa mati. Jalal pun merasa gerah karena Jodha selalu menyebut Amer, Amer, dan Amer. Jalal mengingatkan bahwa bagaimanapun saat ini Jodha masih berada di Agra. Jodha menantang Jalal agar meluapkan amarahnya kepada Jodha agar dirinya merasa puas. Namun Jalal menjawab bahwa sebenarnya banyak yang ia ingin katakan, namun ia merasa bahwa tidak ada gunanya meluapkan perasaannya pada seorang tamu.

Sewaktu Rahim sedang bermain, Maham Anga mendekati Rahim dan langsung memegang kalung Rahim seolah-olah dirinya ingin mencekik Rahim sambil menanyakan apakah Rahim yang telah mencuri cawan tersebut. Rahim yang ketakutan langsung berlari menuju kamar Jodha. Jodha sedikit menasehati Rahim. Jodha mengatakan bahwa Rahim tidak boleh terus menerus merepotkan ibunya dengan mengejar dirinya. Namun Rahim langsung memotong omongan Jodha, Rahim mengatakan bahwa Maham Anga lah yang mengejar dirinya bukan ibunya. Jodha pun penasaran kenapa Maham Anga mengejar Rahim.

Melihat kedatangan Maham Anga, Rahim langsung bersembunyi dan memeluk Jodha. Namun Maham Anga seolah-olah peduli mengapa Rahim bersembunyi darinya setelah melihatnya. Maham Anga mengatakan bahwa dia hanya ingin menanyakan keadaan Rahim dan menanyakan apakah Rahim masih ingat akan dongeng yang pernah diceritakan oleh dirinya. Dengan polos Rahim menjawab bahwa ia sudah lupa. Maham Anga pun tertawa dan berkata bahwa ingatan anak kecil belum lah baik. Jodha sedikit curiga dengan perkataan Maham Anga ini. Setelah Rahim pergi, Maham Anga kembali mengungkit campuran safron yang pernah dibuat Jodha di dapur. Jodha semakin mencurigai Maham Anga dan mulai ragu bahwa Maham Anga palsu adalah pelakunya.

Baca>> Episode Lengkap Jodha Akbar

Kisah cinta Jodha Akbar (1)

Kisah cinta Jodha Akbar (2)

Kisah cinta Jodha Akbar (3)

Kisah cinta Jodha Akbar (4)

Kisah cinta Jodha Akbar (5)

Kisah cinta Jodha Akbar (6)

Kisah cinta Jodha Akbar (7)

Kisah cinta Jodha Akbar (8)

Kisah cinta Jodha Akbar (9)

Kisah cinta Jodha Akbar (10)

Kisah cinta Jodha Akbar (11)

Kisah cinta Jodha Akbar (12)

Kisah cinta Jodha Akbar (13)

Kisah cinta Jodha Akbar (14)

Kisah cinta Jodha Akbar (15)

Kisah cinta Jodha Akbar (16)

Kisah cinta Jodha Akbar (17)

Kisah cinta Jodha Akbar (18)

Kisah cinta Jodha Akbar (19)

Kisah cinta Jodha Akbar (20)

Kisah cinta Jodha Akbar (21)

Kisah cinta Jodha Akbar (22)

Kisah cinta Jodha Akbar (23)

Kisah cinta Jodha Akbar (24)

Kisah cinta Jodha Akbar (25)

Kisah cinta Jodha Akbar (26)

Baca Terus Majalah Online

2

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*