Jodha Akbar Episode 68, Serial Jodha Akbar

Jodha Akbar Episode 68, Serial Jodha Akbar, Kisah Jodha Akbar, Sinopsis Jodha Akbar, Foto Pemain Jodha Akbar

Rahim yang ketakutan mengatakan bahwa ia tidak mencuri dan ia bukanlah seorang pencuri, ia pun memohon Jalal agar tidak menghukumnya. Namun Jodha masih terus membujuk Rahim untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Jalal. Tapi lagi-lagi Jalal membentak Jodha dengan mengatakan bahwa jangan coba untuk mempengaruhi Rahim. Dengan suara yang sedikit membentak, Jalal menanyakan Rahim apakah ia mengetahui tentang cawan itu. Rahim yang semakin ketakutan hanya menjawab bahwa ia tidak mencuri apa-apa dan Rahim juga mengatakan bahwa ia tidak mau lagi berbicara dengan Jodha karena ia wanita yang jahat. Rahim pun langsung berlari meninggalkan Jodha dan Jalal.

Jalal sangat marah kepada Jodha kenapa ia sangat tega melibatkan anak berusia 4 tahun untuk ikut berbohong, sedangkan kenyataanya Rahim sendiri tidak mengetahui apa-apa mengenai cawan yang berisi ekstrak racun datura. Tapi Jodha masih pada prinsipnya, ia sangat kesal Jalal tak dapat melihat kebenaran. Jalal mengatakan bahwa ia sangat setuju dengan Rahim yang mengatakan bahwa Jodha adalah wanita yang jahat. Namun Jodha memiliki pendapat lain, ia mengatakan bahwa Rahim tidak mengatakan yang sebenarnya karena Rahim takut jika Jalal menghukumnya karena telah mencuri cawan tersebut. Jalal meminta Jodha untuk pergi dari hadapannya sebelum dirinya hilang kesabaran. Jalal juga memperingatkan Jodha agar tidak mempengaruhi orang lain untuk menuduh Maham Anga. Sebelum pergi, Jodha memperingatkan Jalal bahwa jika Jalal ingin mengungkapkan kebenaran dari kasus ini maka ia harus objektif dan jika Jalal tidak bisa objektif maka sampai kapanpun Jalal tidak akan bisa melihat kebenaran. Jalal pun semakin penasaran kenapa Jodha berani menuduh Maham Anga sebagai pembunuh calon anaknya.

Jodha mengatakan pada Mothi bahwa ia sudah menghadapkan Rahim sebagai saksi mata kepada Jalal, namun sayang tidak sesuai keinginannya. Bukannya mengatakan yang sebenarnya, Rahim malah tidak berbicara apa-apa karena ketakutan saat melihat Jalal. Walau bagaimanapun, Jodha masih belum menyerah untuk mengungkapkan kebenaran dari kasus ini. Ia percaya jika Dewi Amba akan menuntunnya kejalan yang benar. Disaat Jodha sedang berharap, tiba-tiba datanglah seorang pelayan yang memberikan berkat untuk Dewi Amba. Dia mengatakan bahwa terdapat kuil Amba di Agra,tepatnya kuil tersebut terletak di pasar di luar istana. Mendengar hal ini Jodha sangat bahagia, ia yakin bahwa ini adalah pertanda yang baik dari Dewi Amba. Oleh karena itu Jodha berniat ingin pergi ke kuil untuk berdoa kepada Dewa.

Saat dalam perjalanan pulang ke Amer, tiba-tiba pasukan Raja Bharmal dihadang oleh pasukan Pangeran Pratap. Raja Bharmal pun turun dari kudanya dan menanyakan kenapa Pangeran Pratap menghalangi perjalanannya. Pangeran Pratap pun langsung menyerang Raja Bharmal dengan mengatakan bahwa ia akan menghalangi jalan siapa saja yang berkhianat. Pangeran Pratap terus saja memojokkan Raja Bharmal dengan menanyakan apakah setelah kejadian terbunuhnya Ratan Singh, Raja Bharmal akan menikahkan Sukanya dengan bangsa Mughal. Raja Bharmal menjawab bahwa ini adalah masalah pribadinya dan ia sangat tahu bagaimana cara menjaga hubungan dengan keluarganya. Raja Bharmal menyindir Pangeran Pratap dengan mengatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang menari diatas penderitaan orang lain. Raja Bharmal pun langsung pergi meninggalkan Pangeran Pratap tanpa menghiraukan ancamannya.

Jalal menanyakan Ruqaiya siapakah pembuat cawan tersebut. Ia ingin menemui dan menginterogasinya. Ruqaiya memberitahu Jalal bahwa pembuat cawan tersebut adalah Altaf Qadri yang memiliki toko kecil tak jauh dari istana. Ruqaiya pun menawarkan Jalal untuk memanggil pengrajin tersebut menemui Jalal di istana. Namun Jalal menolak, karena ia sendiri yang akan menemui si pengrajin di tokonya. Jalal yakin jika pelakunya saat ini berada di dalam istana dan ia tak ingin jika si penjahat tahu akan rencana Jalal ini. Ruqaiya pun diminta untuk tidak memberitahu siapa pun rencananya ini.

Sebelum pergi ke kuil di luar istana, Jodha ingin meminta izin kepada Jalal. Namun karena Jalal sedang keluar maka Jodha meminta izin kepada Ratu Hamida sebagai perwakilan. Betapa bahagianya Jodha saat Ratu Hamida mengizinkan Jodha untuk ke kuil di luar istana. Sesampainya di kuil, Jodha langsung membersihkan kuil dan berdoa kepada Dewa. Ia meminta agar Dewa menolongnya dengan menunjukkan kebenaran kepada Jalal.

Jalal yang sedang berada di luar istana untuk menemui pengrajin, menyamar sebagai pengemis yang sedang meminta-minta. Tak disangka pada saat itu Jalal melihat Jodha yang sedang berada di kuil memerintahkan pelayan untuk selalu membersihkan dan menjaga kuil dewa Amba sebaik mungkin. Sewaktu Jodha beranjak dari kuil, Jodha mendengar percakapan dua orang lelaki yang sedang menghina Jalal atas perlakuan Jalal yang tak adil kepada Jodha serta mengatakan bahwa Jalal adalah seorang yang munafik. Mendengar hal ini Jodha pun memarahi kedua pria tersebut. Jodha mengatakan bahwa tidak sepantasnya jika rakyat menghina rajanya sendiri. Karena bagaimanapun seorang raja dan ratu adalah manusia biasa dan orang lain tidak berhak membahas masalah keluarga mereka. Jodha juga mengatakan bahwa bagi seorang rakyat, raja bagaikan ayah kandung mereka dan tidak pantas jika seseorang menghina ayahnya sendiri. Sesaat Jalal tertegun dengan perbincangan Jodha dan kedua pria tersebut.

Jodha pun pulang ke istana. Dalam perjalanan pulangnya, Jodha memberi sedekah kepada beberapa pengemis. Jalal yang menyamar sebagai pengemis langsung bisa dikenali oleh Jodha. Ia melihat gelang yang dipakai Jalal. Gelang tersebut merupakan pemberian ayahnya kepada Jalal saat pernikahan mereka. Jalal pun kagum akan ketelitian Jodha mengenali dirinya. Jodha pun mengatakan bahwa tidak pantas jika seorang istri melihat suaminya meminta-minta di jalan.

Jalal pun sampai di toko si pengrajin yang membuat cawan. Awalnya si pengrajin tidak mengetahui kalau Jalal sedang menyamar sebagai pengemis, ia pun memberikan Jalal beberapa uang, tapi Jalal menolaknya. Lalu Jalal pun mengeluarkan sebuah cawan dari dalam tasnya. Betapa terkejutnya si pengrajin melihat cawan yang pernah dibuatnya itu. Kemudian Jalal mengakui dirinya adalah Raja Jalal. Kemudian Jalal menyuruh Altaf Qadri untuk ke istana dan menggambarkan ciri-ciri si pelaku. Dengan bantuan seorang pelukis, Altaf Qadri berhasil menggambarkan si pemesan cawan. Betapa terkejutnya Jalal saat melihat lukisan wanita yang bercadar tersebut. Ia sangat mengenali mata di dalam lukisan itu. Seorang wanita yang tak lain merupakan pembunuh calon anaknya adalah Maham Anga. Jalal pun menangis dan masih tidak percaya dengan yang ia lihat.

Baca>> Episode Lengkap Jodha Akbar

Serial Jodha Akbar (1)

Serial Jodha Akbar (2)

Serial Jodha Akbar (3)

Serial Jodha Akbar (4)

Serial Jodha Akbar (5)

Serial Jodha Akbar (6)

Serial Jodha Akbar (7)

Serial Jodha Akbar (8)

Serial Jodha Akbar (9)

Serial Jodha Akbar (10)

Serial Jodha Akbar (11)

Serial Jodha Akbar (12)

Serial Jodha Akbar (13)

Serial Jodha Akbar (14)

Serial Jodha Akbar (15)

Serial Jodha Akbar (16)

Serial Jodha Akbar (17)

Serial Jodha Akbar (18)

Serial Jodha Akbar (19)

Serial Jodha Akbar (20)

Serial Jodha Akbar (21)

Serial Jodha Akbar (22)

Serial Jodha Akbar (23)

Serial Jodha Akbar (24)

Serial Jodha Akbar (25)

Serial Jodha Akbar (26)

Serial Jodha Akbar (27)

Serial Jodha Akbar (28)

Serial Jodha Akbar (29)

Baca Terus Majalah Online

2

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*