EKSPLOITASI ANAK : SEBUAH PEMAHAMAN BAGI PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DALAM RANGKA PENGEMBANGAN KELUARGA PKH

EKSPLOITASI ANAK : SEBUAH PEMAHAMAN BAGI PENDAMPING PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DALAM RANGKA PENGEMBANGAN KELUARGA PKH

Marsaulina S Gultom

 

Pendahuluan

Kemiskinan dan himpitan ekonomi menjadi alasan mengapa masih banyak anak-anak dibawah umur dipekerjakan tidak layak. Anak dieksploitasi sebagai mesin pencari uang Berdasarkan data BPS jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2013 mencapai 28,55 juta orang atau 11,47% dibanding Maret 2013 terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin sebesar 0,48 juta orang. Peningkatan jumlah penduduk miskin ini tentunya akan semakin memberi peluang akan semakin terjadinya eksploitasi anak.

clip_image002Eksploitasi anak adalah perlakuan sewenang-wenang terhadap anak. Hal ini biasa dilakukan oleh seseorang maupun sekelompok orang dewasa dengan cara memaksa anak untuk melakukan sesuatu demi kepentingan ekonomi, sosial ataupun politik. Bahkan tahun 2014 diasumsikan rawan eksploitasi anak karena berbagai partai berlomba mengusung persoalan anak demi menarik perhatian public.

clip_image004Pemerasan tenaga anak ini tentu tanpa memperhatikan hak-hak anak dalam mendapatkan perlindungan sesuai dengan

clip_image005perkembangan fisik, psikis & status sosialnya. Bentuk eksploitasi seperti eksploitasi ekonomi dan eksploitasi seksual adalah dengan memanfaatkan anak demi kebaikan ataupun keuntungan sendiri, orang lain, maupun kepentingan bersama. Perlindungan anak dari eksploitas i perlu dipahami para pendamping PKH saat melakukan pendampingan. Membahas perlindungan anak

tentu tak terlepas dari undang-undang, namun sebaiknya dikemas dalam bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami.

Konsep Anak

Konsep mengenai “anak” didefenisikan dan dipahami berbeda sesuai dengan sudut

pandang dan kepentingan yang beragam seperti :

1. Undang Undang Republik Indonesia Nomor. 23 Tahun 2002 mengenai Perlindungan Anak, menyebutkan bahwa anak adalah : “seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.

2. UNICEF memberikan pengertian yang sama mengenai batas usia anak yaitu “anak sebagai

penduduk yang berusia diantara 0 s/d 18 tahun”.

3. Pengertian tersebut berbeda dengan pengertian yang terdapat pada Undang-Undang nomor 4 tahun 1974 tentang Kesejahteraan Anak yang menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah.

clip_image0074. Menurut The Minimum Ages Convention No. 138 tahun 1973 menyebutkan anak adalah seseorang yang berusia 15 tahun ke bawah. Sementara, Convention on the Minimum Right of the Child tahun 1989, yang telah diratifikasi

Indonesia melalui Keputusan Presiden RI No. 39 tahun 1990 menetapkan usia 18 tahun sebagai batas usia maksimum seseorang dikatagorikan sebagai anak.

5. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 3

tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, menyebutkan anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur

18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.

6. Undang Undang RI No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum, usia anak dibatasi di bawah

17 (tujuh belas) tahun dan atau belum menikah.

Dari berbagai sudut pandang diatas maka dapat disimpulkan bahwa kategori anak dimulai sejak usia dikandungan sampai dengan 18 tahun dan belum menikah.

Hak Anak

clip_image009Mengapa anak perlu diperhatikan haknya? Selain karena anak-anak merupakan titipan yang harus dipertanggungjawabkan kepadaYang

Maha Kuasa, Konvensi Hak Anak menyatakan bahwa setiap anak memiliki hak-hak sebagai berikut, yaitu :

1. Hak untuk hidup. Setiap anak di dunia ini berhak untuk mendapatkan akses atau pelayanan kesehatan dan menikmati standard hidup yang layak, termasuk makanan yang cukup, air bersih dan tempat tinggal. Anak juga berhak memperoleh nama dan kewarganegaraan.

2. Hak untuk tumbuh dan berkembang. Setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk

clip_image011mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Anak berhak memperoleh pendidikan baik formal maupun informal secara memadai. Konkritnya anak berhak diberi kesempatan untuk bermain, berkreasi, dan beristirahat.

3. Hak untuk memperoleh perlindungan. Artinya setiap anak berhak untuk dilindungi dari eksploitasi ekonomi dan seksual, kekerasan fisik

atau mental, penangkapan atau penahanan yang sewenang-wenang dari segala bentuk diskriminasi. Ini juga berlaku bagi anak yang tidak lagi mempunyai orang tua dan anak-anak yang berada di kampung pengungsian. Mereka berhak mendapatkan perlindungan.

4. Hak untuk berpartisipasi, artinya setiap anak diberi kesempatan menyuarakan pandangan dan ide-idenya, terutama berbagai persoalan yang berkaitan dengan anak

Kemudian, dalam Undang-Undang RI No 4 Tahun 1974 tentang Kesejahteraan Anak,dinyatakan bahwa setiap anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. Anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warga yang baik dan berguna. Anak juga berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. Anak juga berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar.

Bagaimana dengan Pekerja Anak ?

Undang Undang Nomor. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa pengusaha dilarang mempekerjakan anak kecuali anak tersebut sudah 18 tahun. Pengertian ini sejalan dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang menyatakan bahwa buruh anak adalah mereka yang bekerja di bawah usia 18 tahun. Data Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pekerja anak sebesar 1,7 juta jiwa. Rinciannya, 674 ribu berusia di bawah 13 tahun. Sebanyak 321 ribu berusia 13-14 tahun, dan sisanya 760 ribu berusia 15-17 tahun. Padahal, Indonesia punya target bebas dari pekerja anak pada 2020.

clip_image013Dalam persoalan pekerja anak, di dalam UU No.

13 tahun 2003 diatur jika anak dipekerjakan maka bentuk pekerjaan yang diperbolehkan antara lain:

1.Pekerjaan Ringan

Anak yang berusia 13 sampai dengan 15 tahun diperbolehkan melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik,mental dan sosial.

2. Pekerjaan dalam rangka bagian kurikulum pendidikan atau pelatihan.

Anak dapat melakukan pekerjaan yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan atau pelatihan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang dengan ketentuan :

Ø Usia paling sedikit 14 tahun.

Ø Diberi petunjuk yang jelas tentang cara pelaksanaan pekerjaan serta mendapat bimbingan dan pengawasan dalam melaksanakn pekerjaan.

Ø Diberi perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja

3. Pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat.

Untuk mengembangkan bakat dan minat anak dengan baik, maka anak perlu diberikan kesempatan untuk menyalurkan bakat dan minatnya. Untuk menghindarkan terjadinya eksploitasi terhadap anak, pemerintah telah mengesahkan kebijakan berupa

Kepmenakertrans No. Kep. 115/Men/VII/2004 tentang Perlindungan bagi Anak Yang

Melakukan Pekerjaan Untuk Mengembangkan Bakat dan Minat.

Apa Persyaratan Memperkerjakan Anak ?

Pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan harus memenuhi persyaratan:

1. Izin tertulis dari orang tua atau wali;

2. Perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali;

3. Waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam;

4. Dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah;

5. Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja;

6. Adanya hubungan kerja yang jelas; dan

7. Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kita juga banyak menemui anak sudah ikut sinetron/model/penyanyi atau artis cilik dengan alasan mengembangkan bakat dan minat anak. Dalam Kepmenakertrans No. Kep.

115/Men/VII/2004 dijelaskan bahwa pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat, harus memenuhi kriteria adalah :

1. Pekerjaan tersebut bisa dikerjakan anak sejak usia dini

2. Pekerjaan tersebut diminati anak

3. Pekerjaan tersebut berdasarkan kemampuan anak

4. Pekerjaan tersebut menambahkan kreativitas dan sesuai dengan dunia anak

Jika mempekerjakan anak untuk mengembangkan bakat dan minat yang berumur kurang dari 15 tahun, maka pengusaha/agensi wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Membuat perjanjian kerja secara tertulis dengan orang tua / wali yang mewakili anak dan memuat kondisi dan syarat kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2. Mempekerjakan diluar waktu sekolah.

3. Memenuhi ketentuan waktu kerja paling lama 3 jam/hari dan 12 jam/minggu.

4. Melibatkan orang tua / wali di lokasi tempat kerja untuk melakukan pengawasan langsung.

5. Menyediakan tempat dan lingkungan kerja yang bebas dari peredaran dan penggunaan narkotika, perjudian, minuman keras, prostitusi dan hal-hal sejenis yang memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan fisik, mental, dan sosial anak.

6. Menyediakan fasilitas tempat istirahat selama waktu tunggu

7. Melaksanakan syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja

Apa saja yang termasuk dalam kategori pekerjaan terburuk bagi pekerja anak?

Bentuk pekerjaan terburuk untuk anak menurut pasal 74 ayat 2 UU. No 13/ 2003, meliputi:

1. Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya.

2. Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno atau perjudian.

3. Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika , psikotropika dan zat adiktif lainnya dan atau

4. Semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral anak.

Apa saja jenis-jenis pekerjaan yang berbahaya bagi anak?

Jenis-jenis pekerjaaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak ditetapkan dengan Keputusan Menteri No: KEP. 235 /MEN/2003, yaitu :

1. Jenis-Jenis Pekerjaan Yang Membahayakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja :

Pekerjaan yang berhubungan dengan mesin, pesawat, instalasi & peralatan lainnya, meliputi : pekerjaan pembuatan, perakitan / pemasangan, pengoperasian dan perbaikan:

§ Mesin-mesin

§ Pesawat

§ Alat berat : traktor, pemecah batu, grader, pencampur aspal, mesin pancang

§ Instalasi : pipa bertekanan, listrik, pemadam kebakaran dan saluran listrik.

§ Peralatan lainnya : tanur, dapur peleburan, lift, pecancah.

§ Bejana tekan, botol baja, bejana penimbun, bejana pengangkut dan sejenisnya. Pekerjaan yang dilakukan pada lingkungan kerja yang berbahaya meliputi :

§ Pekerjaan yang mengandung bahaya fisik

§ Pekerjaan yang mengandung bahaya kimia

§ Pekerjaan yang mengandung bahaya biologis

Pekerjaan yang mengandung sifat dan keadaan berbahaya tertentu :

§ Konstruksi bangunan, jembatan, irigasi / jalan

§ Pada perusahaan pengolahan kayu seperti penebangan, pengangkutan dan bongkar muat.

§ Mengangkat dan mengangkut secara manual beban diatas 12 kg untuk anak laki-laki dan

10 kg untuk anak perempuan.

§ Dalam bangunan tempat kerja terkunci.

§ Penangkapan ikan yang dilakukan dilepas pantai atau perairan laut dalam.

§ Dilakukan didaerah terisolir dan terpencil.

§ Di Kapal.

§ Dalam pembuangan dan pengolahan sampah atau daur ulang barangbarang bekas.

§ Dilakukan antara pukul 18.00 – 06.00

2. Jenis-Jenis Pekerjaan Yang Membahayakan Moral Anak

· Pekerjaan pada usaha bar, diskotik, karaoke, bola sodok, bioskop, panti pijat atau lokasi yang dapat dijadikan tempat prostitusi

· Pekerjaan sebagai model untuk promosi minuman keras, obat perangsang seksualitas dan/atau rokok.

Selain pelanggaran terhadap hak-hak anak seperti eksploitasi anak secara ekonomi, ada pula eksploitasi secara seksual/ESKA. ESKA merupakan singkatan dari Eksploitasi Seksual Komersil Anak. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak asasi anak. ECPAT Internasional ( End Child Prostitution Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes) (dalam http://www.gugustugastrafficking.org) mendefinisikan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) sebagai: “Pelanggaran seperti adanya kekerasan seksual oleh orang dewasa dan

pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak, atau orang ketiga, atau orang-orang lainnya. Anak tersebut diperlakukan sebagai sebuah objek seksual dan sebagai objek komersial.”

ECPAT Internasional, membaginya menjadi lima jenis, yaitu:

1. Pelacuran anak; terjadi ketika seseorang mengambil keuntungan dari sebuah transaksi komersial di mana seorang anak disediakan untuk tujuan-tujuan seksual.

2. Pornografi anak; berarti pertunjukan apapun dengan cara apa saja yang melibatkan anak di dalam aktifitas seksual yang nyata atau eksplisit atau yang menampilkan bagian tubuh anak demi tujuan-tujuan seksual.

3. Perdagangan atau trafficking anak untuk menempatkan anak dalam situasi-situasi kekerasan atau eksploitasi seperti pelacuran dengan paksaan.

4. Wisata seks anak adalah ESKA yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang lain dan di tempat tersebut mereka berhubungan seks dengan anak-anak.

5. Perkawinan anak yaitu perkawinan yang melibatkan anak dan remaja usia di bawah 18

tahun. Pernikahan dini dapat dianggap sebuah bentuk eksploitasi seksual komersial jika seorang anak diterima dan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan seksual demi mendapatkan barang atau bayaran dalam bentuk uang atau jasa. Dalam kasus-kasus tersebut biasanya orang tua atau sebuah keluarga menikahkan seorang anak untuk mendapatkan keuntungan atau untuk membiayai keluarga tersebut.

clip_image015Berbagai kasus perdagangan anak untuk tujuan seksual komersial dan eksploitasi ekonomi sesungguhnya telah banyak terjadi di sekitar kita. Di Pulau Batam dan Lombok, misalnya, fakta menunjukkan bahwa telah ditemukan ratusan anak-anak di bawah usia 16 tahun dipekerjakan di tempat-tempat prostitusi. Daerah

clip_image016pengirim perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual komersial m aupun eksploitasi ekonomi itu, umumnya adalah daerah-daerah kantong kemiskinan, seperti Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara. Daerah penerimanya adalah kota-kota besar, kota industri, dan wisata, seperti Jakarta, Lombok, Bali, dan

Batam. Di luar negeri, negara penerima adalah Singapura, Malaysia, Thailand, Hong Kong, Arab

Saudi, Taiwan, dan Australia.(http://sinarharapan.co/index.php/news/read/22510/menghapus eksploitasi-seksual-komersial-anak.html)

Sementara itu, aktor-aktor yang berperan dalam perdagangan anak adalah keluarga, teman, agen perantara pengiriman tenaga kerja, agen pemerintah antara lain dalam pembuatan KTP, paspor palsu maupun organisasi sindikat seks komersial, pedofilia dan distributor narkoba. Menurut ILO dalam bukunya Ketika Anak Tak Bisa Lagi Memilih ” Fenomena Anak Yang Dilacurkan Di Indonesia 2002”, walaupun kemiskinan merupakan sumber utama atau faktor pendorong anak dilacurkan, namun ada faktor non ekonomi lain yang turut

berperan, seperti kurangnya perhatian orang tua, disfungsi keluarga, beberapa kehidupan tradisional, kehidupan urban yang konsumtif, serta beberapa bentuk eksploitasi anak.

Sanksi apa yang akan diberikan jika terjadi eksploitasi pada anak ?

Secara khususnya pada pasal 13 UU No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak

menyatakan ;

”Setiap anak dalam pengasuhan orangtua, wali, atau pihak manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, ekploitasi ekonomi maupun seksual. Penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiyaan, ketidakadilan, serta perlakuan salah lainnya.”

clip_image018Dalam pasal ini dapat kita simpulkan bahwa orangtua atau siapapun itu bertanggung jawab agar anak mendapatkan perlindungan dari eksploitasi. Ketentuan pidana dalam hal orang yang mengekploitasi anak dapat dilihat dalam pasal 88 ayat (1) UU Perlindungan Anak yang menyatakan

“Setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp.200.000.000

Penutup

Tulisan sederhana ini diharapkan menambah wawasan pendamping PKH dalam melakukan pendampingan. Dengan demikian pendamping PKH dapat berkontribusi menghentikan eksploitasi anak. Jika karena ketidaktahuan, maka informasi ini dapat membantu orangtua manakala ada perilaku yang tidak disengaja menyebabkan anak terseret dalam eksploitasi. Mari kita bantu hentikan eksploitasi.

Penulis adalah Widyaiswara pada

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial – Kementerian Sosial RI

Daftar Pustaka

Utomo, Hadi. 2014. Buku Pegangan Fasilitator PKH. Jakarta : Unicef. Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja.

Undang Undang No. 20 Tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. 138 Tahun 1973 mengenai Batas Usia Minimum Diperbolehkan Bekerja.

Undang Undang No. 1 tahun 2000 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. 182 Tahun 1999 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: KEP. 235 /MEN/2003 tentang Jenis-Jenis

Pekerjaan yang Membahayakan Kesehatan, Keselamatan atau Moral Anak.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep. 115/Men/VII/2004 tentang Perlindungan bagi Anak yang melakukan Pekerjaan untuk Mengembangkan Bakat dan Minat.

http://www.gugustugastrafficking.org diunduh pada tanggal 14 Februari 2014 http://sinarharapan.co/index.php/news/read/22510/menghapus-eksploitasi-seksual-komersial

anak.html diunduh pada tanggal 14 Februari 2014

 

 

Penulis adalah Widyaiswara pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial – Kementerian Sosial RI

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*