IDI PEDULI KELUD

Tiga kabupaten yang berbatasan dengan Gunung Kelud, antara lain Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, serta Kabupaten Malang. Pada saat itu, 66.139 jiwa di kabupaten Kediri terpaksa mengungsi. Hingga senin (17/2.2014), jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Kelud di Jawa Timur mencapai 87.629 jiwa. Puluhan ribu orang itu, tersebar di lima daerah yakni Kediri, Blitar, Malang, Jombang, dan Kota Batu.IDI PEDULI KELUD Di Kediri ada 39.018 orang yang tersebar di 82 lokasi pengungsian, di Kota Batu 14.559 orang yang tinggal di 45 pengungsian, Blitar mencapai 8.193 orang di tiga lokasi, kemudian di Malang 25.151 orang tersebar di 81 lokasi, serta 708 orang di enam lokasi pengungsian di Jombang. Demikian dikatakan Ketua Komite Tanggap Bencana IDI  Dr. Kamaruddin Askar dalam jumpa persnya pada acara “IDI Peduli Kelud” yang diadakan di Gedung Sekretariat PB IDI Jl. Samratulangi 29 Jakarta Pusat 24 Februari 2014.

Dalam acara jumpa Pers dipimpinan oleh Moderator Dr. Ulul Albab, dan diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua Umum PB IDI, Dr. Zaenal Abidin, MH dan dilanjutkan dengan pemaparan yang disampaikan oleh Dr. M Iqbal El Mubarak.

Turut hadir  Dr. Ardiansyah. M.Kes, Time Komite Tanggap Bencana PB IDI dan dari perwakilan Reckitt Benckiser Indonesia antara lain Faraz Shamsi, Marketing Director Reckitt Benckiser Indonesia, Ibu Intan Latief dan Agung Panditanegara.

Dalam sambutannya Dr. Zaenal mengatakan, Dettol merupakan mitra kerja IDI sejak tahun 2009 dalam berbagai program edukasi kesehatan seperti penyuluhan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) di sekolah, pengharagaan Dokter Kecil serta lokakarya kesehatan. IDI dan Dettol telah meluncurkan kampanye Misi Hidup Sehat pada tahun 2013 bersama dengan Kemenkes RI yang mensosialisasikan PHBS kepada masyarakat.

PB IDI akan terus mengajak pihak lain untuk memberikan bantuan maupun pelayanan kepada para korban bencana erupsi Gunung Kelud ini maupun korban bencana lainnya, sebagai bentuk tanggung jawab moril dan komitmen dalam menjaga kesehatan masyarakat Indonesia.

Dr. Askar menambahkan, kerugian yang ditimbulkan oleh erupsi ini sangatlah besar. Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Kediri mencatat lebih dari 19.000 bangunan rusak dan lebih dari 7000 hektar lahan pertanian hancur akibat erupsi ini. Hal ini dikarenakan muntahan materi vulkanis yang dikeluarkan oleh Gunung Kelud.

Sementara itu, Dr. M. Iqbal El Mubarak, Anggota Komite Penanggulanan Bencana PB IDI yang terjun langsung di Gunung Kelud menambahkan, tim dokter PB IDI memfokuskan pada Kecamatan Puncu dan Kepung, yang masuk dalam Kabupaten Kediri. Alasan fokus pada daerah itu karena pada daerah itu, belum ada bantuan terutama tenaga medis.

“Saat pertama kali datang, kami pertama berkoordinasi dengan SATLAK (Satuan Laksana) Bencana Kediri, di sana ada Basarnas, BNPB, dan Dinkes (Dinas Kesehatan). Kemudian, hasil observasi di Kepung dan Puncu belum ada yang dapat bantuan, akhirnya kami membuka balai pengobatan di sana,” tambahnya.

Pada saat ini, status Gunung Kelud memang sudah diturunkan, namun belum ada keputusan resmi kapan para pengungsi yang ada diperbolehkan untuk pulang. Walaupun demikian, sudah mulai banyak pengungsi yang pulang ke rumah mereka masing-masing tanpa mengindahkan bahaya yang masih mengancam untuk terjadi.

Kondisi di sekitar Gunung yang penuh dengan debu membuat banyak penduduk yang mulai mengalami berbagai gangguan kesehatan. ISPA merupakan gangguan yang paling banyak dialami oleh warga, dikarenakan banyaknya debu yang terhirup sehingga menimbulkan infeksi saluran pernapasan. Selain itu, faktor lain yang memperparah adalah karena menurunnya sistem imun dikarenakan kurangnya waktu istirahat. Apabila kondisi imun sudah menurun, maka akan banyak gangguan kesehatan yang bisa terjadi.

Kebanyakan  keluhan  kesehatan yang dialami oleh warga saat ini adalah ISPA, gangguan lambung, sakit kepala dan pusing, serta demam. Berbagai keluhan ini diperparah oleh ketidaksiplinan warga dalam menggunakan masker. Pasien mulai berdatangan ke berbagai rumah sakit yang terdapat di Kediri sejak sehari setelah erupsi terjadi. Keluhan yang banyak terjadi dikarenakan jatuh dari atap ataupun kecelakaan akibat jalanan yang tidak kondusif untuk digunakan akibat abu vulkanik.

Melihat kondisi ini, kata Dr. Askar, PB IDI merasa sangat perlu untuk berperan dalam penanganan korban erupsi Kelud. Begitu bencana ini terjadi, Komite Tanggap Bencana PB IDI kemudian melakukan koordinasi dengan IDI Cabang Kediri membahas bantuan apa saja yang dibutuhkan oleh korban di sana. Selain itu, beberapa dokter yang merupakan relawan dari Komite Tanggap Bencana langsung menuju ke lokasi untuk melihat kondisi korban pengungsian.

Pelayanan kesehatan di lokasi-lokasi pengungsian pun langsung dilakukan oleh Tim dari IDI cabang Kediri maupun oleh Tim dari Pusat yang berangkat ke sana. Hasil observasi memang menunjukkan bahwa kebutuhan akan masker dan selimut memang sangatlah tinggi. Dari laporan ini, PB IDI kemudian mencoba menghubungi berbagai pihak untuk dapat menyalurkan bantuannya.

Berbagai pihak kemudian memberikan respon positif untuk ikut memberikan bantuan. Misalnya saja sumbangan berupa selimut dari Golden Star an POPE dan dan juga Ibu Hastuti dari Medan. IDI Wilayah Aceh pun memberikan bantuan dana sebesar 5 juta rupiah. Selain itu, IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia) juga memberikan bantuan berupa masker. Tidak hanya itu, ada juga bantuan dari Reckitt Benckiser Indonesia berupa uang tunai sebesar 50 juta rupiah dan produk Dettol yang akan didistribusikan kepada para korban.

Dalam junpa pers tersebut juga secara simbolis dilakukan serah terima bantuan Dettol untuk mendukung Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan layanan pemulihan paska bencana berikut bantuan produk-produk antiseptik Dettol yang diserahkan oleh Faraz Shamsi, Marketing Director Reckitt Benckiser Indonesia dan diterima oleh Ketua Komite Bencana PB IDI Dr. Kamaruddin Askar.

Faraz Shamsi, Marketing Director Reckitt Benckiser Indonesia memaparkan keprihatinan kondisi korban bencana dengan kondisi fisik yang lelah, keterbatasan air bersih dan fasilitas sanitasi di pengungsian tentunya akan sangat rentan terhadap infeksi kuman-kuman penyakit seperti diare, infeksi kulit dan infeksi saluran pernafasan. Merupakan komitmen Misi Hidup Sehat Dettol untuk membantu masyarakat memelihara kesehatan dengan mendukung tenaga medis memberikan layanan pemulihan paska bencana serta menjaga kebersihan pribadi (self-hygiene). Harapannya masyarakat dapat segera pulih dari kondisi bencana dan kembali melanjutkan kehidupannya dalam kondisi sehat. (IDI ONLINE)

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*