BUSANA PUTIH WANITA

Busana putih wanita   “Pacaran? Kapan jadiannya?” kata Arifia sedikit tersentak “Udah , tapi “Waw, kebetulan banget nih Ram, aku nggak ada yang nganter… hehe” desis gadis itu tersenyum “Ya udah, masuk…” katanya busana putih wanita  Ternyata di mading sudah tertempel foto ku bersama kak Reza saat kita berdua jatuh tadi pagiet sama Dina.. kayak orang pacaran aja” desis Arifia mengaduk-aduk makanannya. “Lah… memang kita pacaran Rif…” sanggah

Busana putih wanita  . Ya. Dia menyukai gadis itu, sekitar 10 bulan yanBUSANA PUTIH WANITAg lalu, mungkin gadis itu paham apa yang dirasakan Busana putih wanita   terhadapnya. Tapi, sampai detik ini pun hati gadis itu masih belum goyah. Busana putih wanita   tidak pernah peduli tentang apapun yang gadis itu rasakan, yang ia tau adalah, ia mencintai gadis itu, dan tetap mencintai gadis itu apapun keadaannya. Dua puluh menit berlalu, mobil Jazz putih itu melesat dari gerbang sekolah menuju tempat parkir di sudut kiri sekolah. Gadis itu perlahan turun, melambaikan tangan, tersenyum dan kemudian berjalan pelan.

“Hai Rif…” desis gadis itu sembari merangkul Arifia – sahabatnya – “Eh, hai Din! Loh, dianter sama siapa barusan?” kata Arifia sembari menengok ke belakang “Hm? itu si Busana putih wanita  , ngajak bareng tadi… hehe” desis Dina, gadis itu “Oh, Busana putih wanita  ” desah ikutan nimbrung

“Hey guys, gue ikutan gabung yak!” kata Deon “Haduh ngapain sih loe kesini, kayak gak ada tempat lain aja. Jadi gak selera makan gue!” ujar Olin pasang muka sebal. “Suka suka gue dong, lagian gue mau ngomong sama Busana putih wanita   kok. Ya kan Ren?” Deon menimpali sambil mengedipkan sebelah matanya pada Busana putih wanita  . “Oo ya udah kalau gitu, biar gue gak ganggu kalian berdua. Gue cabut aja!” Olin berdiri dari duduknya “Eh tunggu, gue juga mau ngomong sama loe juga kok!” cegah Deon sambil menarik tangan Olin, dalam hati Olin seneng juga Deon mencegah dirinya pergi

“Eh betewe, kalian kan satu SD nih. Ceritain dong masa SD kalian tuh gimana? Pasti lucu gitu kan!” ungkap Busana putih wanita   membuka pembicaraan “Apanya yang lucu, masa kelam bisa satu SD sama cowok tengil ini!” gerutu Olin sambil melirik Deon, yang dilirik cuman bisa senyam senyum gak jelas “Hehehe, si Olin mah punya dendam pribadi saAku mendekatimu. Kemudian mencoba untuk menyentuh bahumu. Aku tidak bisa?! Hey, sungguh! Bagaimana bisa bahumu tertembus begitu saja olehku? Ya ampun, ini benar-benar lelucon. Aku mencoba untuk meraih bahumu lagi. Tapi tidak bisa lagi. Hey?! Kenapa denganmu? Atau denganku? Kenapa semua ini sangat membingungkan? Aku semakin mendekatiku, berdiri di sampingmu. Dan

Aku melihatmu lagi, kamu mengguncang-guncang tubuhku dengan keras, tapi aku sama sekali tidak merasakan guncangan itu. Merasa di sentuhpun tidak. Kamu menarikku ke dalam dekapanmu, tapi Arifia singkat 3 minggu Rif…. doain langgeng yaa.. hehehe” desis Dina menyendok makanannya

“Oh. Eh iya, aku ke kelas duluan ya…” desis Arifia datar dan langsung beranjak dari kursi nya “Hmm… pasti Rifia shock tuh, secara Rifia kan suka sama Busana putih wanita  .. hmmm Rifia, Rifia…” desis Farel tanpa sadar

“Apa? Bilang apa tadi kamu Rel?” tukas Dina membulatkan mata

BUSANA WANITA PUTIH“Ha? Apa? nggak bilang apa-apa Din, lupain lupain, aku ngasal kok!” desah Farel panik “Nggak, jelas-jelas aku denger Rel, cerita!” paksa Dina “Iya… Rifia, suka sama Busana putih wanita  .. tapi dia tau kalau Busana putih wanita   cuman suka sama kamu Din… jadi dia diem, tapi sebenernya perasaan Rifia itu hancur banget, dia ingin banget dapetin Busana putih wanita  , tapi dia nggak bisa” tukas Farel “Ya ampun… pantesan Rifia jarang cerita, kenapa nggak bilang aja sih dari dulu… aku nyakitin dia banget jadinya…” desis Dina menyesal “Kenapa ngerasa bersalah Din?” desis Busana putih wanita 

“Ram, dia sahabatku aku nggak mungkin nyakitin dia lebih jauh lagi” desis Dina serius “Jadi?” desah Busana putih wanita  , berharap tidak terjadi apa-apa “Kita putus” desis Dina singkat, raut wajahnya tidak rela. Busana putih wanita   terdiam. Dina merasakan sakit di kepalanya lagi, kali ini berniat membeli siomay Bang Somad, yang rasanya terkenal super yahud seantereo SMA Prima.

“Bang, siomay dua porsi ya, sama es jeruk dua gelas” kata Busana putih wanita   “Sip dah non” “Armadeon.. Armadeon” guman Olin pelan “Hah? Apaan Lin?” tanya Busana putih wanita   penasaran akan merawatmu.” Kamu mengelus lembut keningku, menyilakan rambutku yang tersebar di kening. Dengan telaten kamu memeras lap kemudian menempelkan pada keningku, hingga seterusnya. Sampai mataku perlahan terpejam. Terpejam lama, sampai pagi. dan tidak tau lagi bagaimana denganmu.

 

Karena ketika aku bangun, kamu sudah tidak ada lagi di sisiku. Sudah tidak ada lagi air di dalam baskom, ataupun lap di atas kening. Hanya ada kamarmu, dan baju pemberian dari adikmu itu. Kamar yang aku tempati kosong tidak berpenghuni, sepi senyap, tanpa seorang disana. Hanya ada aku seorang diri, dan deruan naf“Ehya Dis, besok minggu Busana putih wanita   mau ngajakin aku jalan. Iya sih, jadi keliatan kayak cewek betulan dia!” sahut Deon sambil tertawa “Emang loe kira gue cewek jadi jadian!” Olin setengah berteriak sangking keselnya “Kalau marah loe tuh keliatan makin cantik tau gak!”

Olin mendadak speechless, mukanya merah padam mirip kepiting rebus. Untung bel tanda masuk segera berbunyi, kalau Deon sampai tau pasti ia sudah diledek habis habisan. Saat Olin dan Busana putih wanita   lagi asyik menikmati soto ayamnya, tiba tiba Deon datang dan langsung benar-benar sakit “Astaga Dina! kamu mimisan lagi… Dina kamu pucet banget…” desah Busana putih wanita   memegangi Dina. Darah dari

Tau kah kamu tentang takdir? Ternyata firasat itu tidak pernah salah. Dan takdir tidak pernah bisa membohongi. Karena itu memang nyata dan juga murni. Firasatku bilang, aku menginginkanmu. Ah, bukan. Maksudku aku mBelum ada 1 hari aku sudah mendapat teman baru, ia bernama Busana putih wanita  , dan saat ini aku dan Busana putih wanita   berada di kantin

“hmm… Busana putih wanita   laki-laki itu namanya siapa yah” tanya ku menunjuk seorang lelaki yang telah menabrak ku tadi pagi “oh…itu namanya reza dia kapten basket loh”jawab Busana putih wanita   menggiurkan

“terus terus” ucap ku penasaran “dia juga cowok paling ganteng di sekolah ini, maka dari itu dia juga punya banyak fans di sekolah maupun di luar sekolah” jawab Busana putih wanita   menjelaskan panjang lebar dan aku hanya merespon dengan anggukkan. Saat aku dan Busana putih wanita   melewati koridor sekolah aku melihat mading sekolah yang di kerumuni para siswa terutama perempuan, aku semakin penasaran

“hmm… Busana putih wanita   kamu ke kelas duluan ya nanti aku nyusul” Ucap ku meninggalkan Busana putih wanita   tanpa persetujuan Busana putih wanita  .

 

tentang sms dia sama Busana putih wanita  . Begitu mulus, begitu lancar katanya. Winwin bilang, Busana putih wanita   nanggepin dia. Busana putih wanita   selalu balas smsnya. Padahal, yang aku tau, Busana putih wanita   cukup dingin sama cewek. Tapi kenapa sama enginginkan cinta. Ya, cinta yang ada dalam dirimu. Cinta yang menyertaimu dalam setiap langkahmu. Jika kamu beranggapan aku gila, mungkin itu memang kenyataannya. Aku percaya takdir, dan aku percaya firasat. Itulah mengapa, kita bisa bertemu. Karena jika aku tidak mempercayai keduanya, mungkinkah kita bisa bersama seperti sekarang? Sudah aku bilang, takdir itu murni, dan firasat itu tidak pernah b “Ha? Nggak apaapa Ram, cuman pusing dikit aja hehehe” kata Dina berbohong “Dina! kamu mimisan?! kamu kenapa Din?? Ya udah aku anter kamu pulang sekarang!” desis Busana putih wanita   panik

ama saya Hendra surya putra, tapi biasanya saya dipanggil teman-teman saya Acun. Umur saya 15 tahun, tempat tanggal lahir saya di Gresik, Jawa timur. Saya anak ke-3 dari 3 bersaudara. Saya disuruh guru saya membuat Cerpen (cerita pendek) saat liburan. Dan cerpen itu bertemakan tentang cita-citaku. tik kan dia?” goda Busana putih wanita   di tepi ranjang. Kedua tanganmu membawa baskom dengan air hangat di dalamnya. Kamu berniat untuk menurunkan demamku. Kamu tersenyum, dan untuk pertama kalinya aku melihat senyummu itu. Senyum yang manis, dan indah untuk di pandang. “Tidurlah disini, aku Kamu masih terus menangis. Aku semakin melemah. Mungkin, sebentar lagi malaikat akan datang dan menarikku pergi. Tapi, sebelum aku pergi, Ingin sekali aku mengusap air matamu, lalu bilang dan berbisik tepat di daun telingamu, bahwa aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Seperti biasanya suasana kantin saat istirahat selalu dipenuhi dengan suara suara perut kelaparan. Begitu juga perut Olin dan Busana putih wanita   yang dari tadi membunyikan genderangnya. Mereka ohong. Jadi, mendekatlah padaku, karena kita memang takdir. Tidak, aku tidak ingin menyebut bahwa kita adalah jodoh. Itu karena kebanyakan orang bilang kalau mereka hidung Dina semakin banyak, tubuhnya dingin seketika, dia lemas

“Dina ayo ke rumah sakit sekarang…!” sanggah Busana putih wanita   menuntun Dina.

Dina terbaring di atas ranjang rumah sakit, sangat lemah, tidak biasanya dia serentan itu. Arifia, Busana putih wanita   dan Farel menunggu hasil Lab dari dokter “Dokter… Gimana keadaan Dina?” desah Arifia panik

“Dimana keluarga Dina?” sanggah dokter Gilang, dokter yang merawat Dina “Saya dok. Keadaa

Aku mencarimu kemana-mana. Ke seluruh penjuru rumah. Tapi tidak ada siapapun disana “Kalau yang di sebelah loe tuh sapa?” “Oh ini Olin, kata Olin kalian pernah satu SD masak gak inget sih? Ya kan Lin?” celetuk Busana putih wanita   “Apaan sih loe, kayaknya emang dia udah lupa sama gue” bisik Olin pada Busana putih wanita   pelan “Tunggu? Ehm kamu Olin Adiska Putri temen gue SD dulu” “Ya ampun dia inget nama panjang gue” batin Olin serasa melayang “Kok beda banget ya? Dulu kan loe item sama pendek gitu!”

 

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*