REVIEW FILM: SOMETHING THAT THE LORD MADE

Something that the lord made, sudah pernah dengar kalimat ini? Sudah pernah dengar istilah blue baby syndrome dan Tetralogy of Fallot? Mau tau siapa orang yang pertama kali mengoperasi jantung pada anak bayi yang pada masa itu mengenal istilah “never disturb the heart” pada saat operasi?

Pernah menonton film something the lord made yang mendapatkan nominasi untuk dua piala golden globes, memenangkan 11 piala dan 19 nominasi lainnya?

Alfred Blalock adalah seorang ahli bedah yang memulai karirnya di Johns Hopkins Medical School sebagai seorang dokter. Ia mengambil spesialisasi bedah di Vanderbilt University. Disini ia menemukan bahwa syok yang sering muncul saat pembedahan adalah karena perdarahan yang terjadi yang mengakibatkan banyaknya kehilangan darah. Dialah orang yang pertama mengenalkan penggunaan plasma darah atau whole blood untuk mengatasi masalah syok ini. Karena hasil penelitiannya, banyak tentara perang dunia kedua kala itu yang terselamatkan.

clip_image002
Portrait of Alfred Blalock by Yousuf Karsh, ©Karsh

Vivien Thomas adalah seorang remaja berusia 19 tahun, anak seorang tukang kayu berdarah Afrika-Amerika yang bercita-cita untuk masuk sekolah kedokteran. Cita-citanya harus dia kubur dalam-dalam karena semua tabungannya hilang saat Bank Nashville pailit. Karena tidak adanya biaya, akhirnya ia mencari pekerjaan dan mendapatkan pekerjaan sebagai teknisi laboratorium di Vanderbilt University Medical School bekerja bersama Dr. Alfred Blalock.

Sejak awalnya Vivien sudah menunjukkan ketertarikannya yang luar biasa terhadap pembedahan dan eksperimen yang sedang dilakukan Blalock, Blalock juga memberinya kebebasan yang lebih luas lagi karena keantusiasannya. Thomas juga dibekali ilmu anatomi dan fisiologi oleh Blalock dan rekan satu penelitinya, Dr. Joseph Beard. Vivien dengan dengan waktu yang singkat berhasil menguasai teknik bedah yang kompleks dan sangat rumit serta metodologi penelitian.

clip_image004

Blalock bersama dengan Vivien kemudian kembali ke Universitas Johns Hopkins. Di Johns Hopkins, dr Helen Taussiq mengkonsulkan mengenai masalah sindrom bayi biru. Dalam kebingungannya Helen Taussiq mengatakan hal yang dianggapnya tidak masuk akal. Ia sempat berkata, “yang paling mungkin adalah dengan ‘menyambungkan pipa-pipanya’ untuk meningkatkan aliran darah ke dalam paru”. Blalock dan Vivien saling memandang satu sama lain dan menyadari bahwa mereka pernah melakukan prosedur untuk meningkatkan aliran darah ke dalam paru di dalam laboratorium mereka. Setelah melibatkan lebih dari 200 anjing, akhirnya Vivien berhasil membuat replika bayi biru pada anjing. Setelah melakukan operasi yang disebut atrial septectomy yang dilakukan dengan baik oleh Vivien sehinggka bekas jahitannya pun hampir tidak kelihatan, sehingga Blalock berkata kepada Vivien, “Vivien, this looks like something the Lord made.”

Di Rumah Sakit Johns Hopkins, kata-kata “breakthrough”, terobosan, sangat jarang digunakan. Tetapi Vivien adalah salah satu tokoh kunci yang melakukan terobosan di Rumah Sakit Johns Hopkins. Operasi Blalock-Taussig shunt yang pertama dilakukan pada tanggal 29 Nopember 1944 pada bayi yang bernama Eileen Saxon yang menjadi berwarna “pink” segera setelah operasi. Walaupun operasi ini hanya memperpanjang hidup Eileen selama dua bulan, tetapi operasi ini menjadi pioneer dibidang bedah jantung anak. Selama operasi, Vivien selalu mendampingi Blalock begitu juga dengan 99 operasi jantung Blalock berikutnya. Vivien dan Blalock juga berkolaborasi dalam mendesain peralatan bedah. Inilah klem yang dibuat untuk oklusi temporer dari arteri pulmonalis.

clip_image005
Photograph by Marjorie Winslow Kehoe, 1996

Sebelum hari itu, jantung berada di luar batas para ahli bedah. Sekarang, bedah jantung sudah biasa dilakukan, dan dalam satu tahun saja, 6 juta pasien melakukannya. Kontribusi yang diberikan oleh Blalock ini mendapatkan penghargaan oleh para ahli bedah, baik nasional maupun internasional. Penghargaan yang diterimanya antara lain Chevalier de la Legion d’Honneur, the Passano Award, the Matas Award, and the Albert Lasker Medical Research Award.

Walaupun Vivien tidak pernah menulis ataupun berbicara mengenai keinginannya untuk kembali kuliah dan mengambil gelar dokter, Vivien pernah mengejar mimpinya untuk menjadi seorang dokter, tetapi Morgan State University, menyatakan bahwa ia harus memulai sama seperti yang lainnya. Vivien yang menyadari bahwa ia baru akan menamatkan kuliahnya pada usia 50 tahun, memutuskan untuk sekali lagi melupakan cita-citanya tersebut.

Vivien berada di laboratorium selama 35 tahun dan kemudian pada tahun 1976 ditunjuk sebagai instruktor bedah di Johns Hopkins University School of Medicine. Pada tahun yang sama, ia mendapatkan gelar honorary degree Doctor of Laws. Di tahun 1979, menjelang pensiunnya, ia menjadi instructor emeritus of surgery.

Operasi ini tidak hanya memecahkan ketabuan operasi jantung pada tahun 1940, tetapi juga mengurangi rasisme di masa itu. Walaupun Vivien adalah rekan kerja Blalock, isu rasial masih begitu kentalnya. Pada satu sisi, Blalock membutuhkan dan mempertahankan Vivien demi kepentingan penelitiannya dan setiap operasinya, tetapi di sisi lain, adanya pembatasan upah dan pengetahuan akademis dan interaksi sosial yang berbeda di luar ruang kerja membuat suatu hubungan yang aneh diantara mereka. Pertemanan antara Blalock dan Vivien sangat berbeda saat mereka di dalam ruangan penelitian dan rumah sakit dengan lingkungan sosial mereka.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*