BAJU BLAZER CEWEK

baju blazer cewek tinggal mengisi semua dengan barang-barangku. Selesai bersih-bersih, tiba-tiba ibuku menengok kamarku “baju blazer cewek Bagus, Emm… sayang, soal teman jangan khawatir, di rumah sebelah ada gadis seusia kamu, cepet kenalan ya. Ini, alat dan seragam sekolah kamu. Semoga kamu senang disini”

surat, “Baju blazer cewek turun disini aja buk” kulihat isinya, Ya… bener, ada surat, dari Irma. Sahabatku… “Alhamdulillah” “Hei” ucap seseorang mengagetkanku “Ima awan akan berakhir bahagia.

cewek cantik pake blazerKarena sudah larut malam dia berbaring dan mencoba memejamkan mata. Tapi dalam sembuhkan penyakit yang diderita oleh Marschel.. supaya dia bisa kumpul bareng sama kita lagi.. baju blazer cewek gak rela kalau harus kehilangan dia.” Doa Mei dalam ik saja disini dan dia berpesan baju blazer cewek harus sukses demi dia. Puas membaca surat aku keluar lihat bintang, tapi yang aku temui malah Ilham di seberang sana “Ilham…” sapaku “Hei, suka bintang juga?” tanyanya “tentu” jawabku enteng “Besok, habis sholat Isya’ mampir ke rumah lihat bintang sama baju blazer cewek” ajaknya seraya masuk ke rumahnya “Cool banget sih” pikirku sambil senyum-senyum sendiri.

Malam ini aku menepati janjiku, baju blazer cewek diajak lihat bintang pakai teropong sama dia. Emm, seneng rasanya walaupun baju blazer cewek nggak begitu ngerti ilmu bintang. “Cari bintang kesukaanmu!” perintahnya seraya duduk menyandingku “Itu” sambil kutunjukkan padanya lewat teropongnya “Pilihan yang bagus” komentarnya dengan senyum manisnya. Setelah aku lihat jam 20.00 malam tiba, aku izin pulang, Ilham mengantarku turun, saat di depan pintu dia bilang “Ilma, kamu adalah bintang yang tak bisa lepas dari bulan yang bernama Ilham” lalu dia menutup pintunya. Baju blazer cewek pulang dengan pikiran janggal, rasanya itu sebuah pernyataan dari Ilham, tapi aku nggak berani mempercayainya.

Nggak kerasa sudah mau lulusan, aku berhasil melampaui waktu disini dengan Ilham. Hari ini hari perpisahan “Kita satu SMA lagi ma, seneng rasanya” Ilham mengagetkanku “Iya, ke aula yuk” ajakku. Acara perpisahan selesai, baju blazer cewek menunggu jemputan dari ibuku seperti biasanya, tapi entah kenapa ibu lama banget nggak datang, sampai-sampai Ilham nemenin aku. Tiba-tiba telefonku berdering, telefon dari Ayah “Ilma, cepet ke RS Harapan Bangsa, Ibu koma” aku tersentak, Ilham yang mengetahui hal ini langsung menyeretku dan memboncengku menuju rumah sakit.

api juga belajar memaknai hidup.

Mereka selalu berbagi dalam suka dan duka, selalu siap mendengar keluhan, selalu mengajari dan diajari, selalu memberi sebelum diminta, selalu mengerti sebelum dijelaskan, selalu tahu sebelum diberi tahu. Kemanapun mereka selalu bersama dan saling berbagi.

Shascerita ke gua kalau lu punya penyakit kanker?!” tanya Baju blazer cewek. “Bukannya gua nggak bisa diajak bersahabat. Tapi kok… “Ilma, Silvi diajak juga ya, daripada naik angkot” ucap ibuku “Emm, iya” jawabku “Silvi, ayo…” ajak ibuku Silvi kebingungan, tapi tetep aja masuk mobil. Di dalam mobil ibu cerita kalau Silvi ini tetangga yang mau ibu kenalin ke baju blazer cewek. “Tapi kayaknya rencana ibu gagal” pikirku dalam hati. “Sampai di rumah cepet sholat, makan dan ganti baju, kita mau ke kantor ayah” ajak ibuku. Selama diperjalanan Silvi kelihatan nggak bersahabat, dan ketika sampai di depan rumah Silvi aku baru tau kalau Silvi anak orang yang… bisa dibilang kurang mampu. Sampai di depan rumah aku lihat kotak posku terbuka, mungkin ada sahabat terbaik yang gua punya!” jawab Baju blazer cewek. “Makasih ya, lu udah mau jadi sahabat baik gua.” jawab Marschel. “iya” seru Baju blazer cewek.

Saking enaknya ngobrol, Baju blazer cewek sampai lupa waktu dan segera pulang ke rumahnya. “Marschel, gua pulang dulu ya! Besok kita ketemu lagi di kampus!” seru Baju blazer cewek. “Iya, hati-hati di jalan ya!” jawab Marschel. Lalu, Mei pun segera pulang ke rumahnyai telah menggantungkan harapannya, memberikan perhatian penuhnya, meluangkan semu agar lama bertemunya. Ada-ada saja tingkahnya. Dan pernah saat Trya pura-pura amnesia itu ternyata jalannya sedang diaspal jadi balik lagi ke jalan yang semula.

Malamnya Trya membagikan foto di twitter tapi Shasi tidak bisa melihatnya. Esoknya Trya kekasih.
Mereka menjadikan hubungan mereka menjadi sesuatu yang positif. Terutama untuk memotivasi atau penyemangat dalam belajar. Bukan hanya belajar dalam pelajaran di sekolah tsudah siap berangkat, Sebelum baju blazer cewek masuk ke mobil kuberi sahabatku sebuah kalung yang couple denganku, “Kuharap, kamu bisa menjaga kalung ini… setidaknya sampai aku kembali” ucapku menahan tetesan air mata “Aku akan menjaganya seperti menjaga memperlihatkan foto yang dia bagikan di twitter, di dalam foto tersebut terlulislah sebuah nama “SHASI”. Shasi merasa senang, malu, salah tingkah dan waw. Bagaimana Shasi tidak tersipu dengan Trya, wanita mana yang tidak senang bila ada pria yang dia suka menulis namanya sampai-sampai dibagikan di twitter begitu. Shasi merasa bahwa dirinya adalah seorang putri yang menari-nari dengan licahnya di atas awan.

Detik berganti menit, menit berganti jam dan jam berganti hari. Dari hari ke hari mereka semakin dekat. Sampai pada saat dimana baju blazer cewek dengan gagah berani menyatakan isi hatinya kepada Shasi dengan gugup. Shasi pun menanggapinya dengan respon salah tingkah dan meng-iya-kan pernyataan Trya dengan terbata-bata. Mereka pun resmi menjadi sepasang a waktunya, hanya untuk Trya. Shasi percaya bahwa Trya adalah orang yang tepat yang bisa membimbingnya.
Tapi komitmen itu tidak menjamin bahwa mereka akan bisa mempertahankan hubungan mereka sampai nanti. Dimana jenuh akan datang dengan tiba-tiba dan siap merobohkan hub mau gak jadi pacar gua?” taya Marschel. “Gua mau! Gua mau!” teriak Mei keras. Tiba-tiba Mama Baju blazer cewek pun datang ke kamarnya. “Mei! Bangun! Bangun!” seru Mama Mei. “Hah? Ada apa?” tanya Mei. “Kamu ngigau lagi ya? Udah cepet mandi sana! Udah jam 8 nanti kamu telat lagi!” jawab Mama Mei. “Ma, ntar siapin buku-buku yang harus aku bawa ya!” kata Baju blazer cewek. “Iya” jawab mama Baju blazer cewek.

Setelah itu, sampailah Mei di universitasnya. Saat sampai di kelasnya, Mei tidak melihat keberadaannya Marschel. “Marschel mana ya? Tumben dia belum dateng? Biasanya dia udah dateng pagi-pagi?” tanya Mei dalam hatinya. Sampai jam terakhir kelasnya, Marschel tidak terlihat.

kamu deket-deket sama anak baru? Ihh..” ucap seorang wanita sinis. Tak kuhiraukan sinisnya malah baju blazer cewek balas dengan senyuman dan uluran tangan. Sepertinya dia malu dengan sikapnya padaku yang sia-sia, sehingga dia langsung menggeret Ilham untuk pergi. Terpaksa aku melanjutkan perjalanan sendiri, untunglah cepat kutemukan kelasku. Kelas 8a.

Anak baru, status yang masih baju blazer cewek sandang, aku belum punya temen, tapi… “Hai, aku Reta, kamu anak baru yang dari Bogor itu ya?” ucap seseorang sambil mengulurkan tangannya “Iya, kenalin… Baju blazer cewek Ilma” aku menjabat tangannya, “Duduk sama aku aja ya” tawarannya menyelamatkanku.
Pulang sekolah, aku dijemput ibuku dan di belakangku ada Silvi, temen baru yang kayaknya Akhirnya, pada saat pulang sekolah Mei model baju blazer cewekbertemu dengan teman-temannya Marschel. “Kalian

hatinya.

Perawat pun datang. “Ada yang bernama Mei?” tanya Perawat itu. “Saya sus..” jawab Mei. “Anda dipanggil oleh pasien. Dia ingin bertemu dengan anda.” jawab sang Perawat. “Terima kasih sus.” jawab Mei.

Lalu Mei pun bertemu dengan Marschel. “Hai Mei!” seru Marschel. “Hai! Lu kenapa gak ungan yang kokoh sekalipun. Mata tak bisa melihat dengan tajam, telinga tak bisa mendengar jelas, dan hati tak bisa merasakan kelembutan. Segala sesuatu yang benar pun bisa menjadi salah.

Delapan bulan sudah mereka menjalani hubungan itu. Trya pun merasa jenuh dan bosan dengan hubungannya bersama Baju blazer cewek yang monoton. Sampai pada akhirnya Trya pun memutuskan hubungan mereka dengan sebelah pihak, tanpa persetujuan dari Shasi. Entah apa yang membuat Trya begitu cepatnya mengambil keputusan dan begitu saja melupakan semua yang telah dijalaninya bersama Baju blazer cewek.

Shasi berusaha meyakinkan Trya dengan berbagai cara bahwa hubungan mereka bisa kembali seperti semula. Tapi Trya keras kepala, tidak mau mendengarkan Shasi dan tetap pada pendiriannya.

ereka selalu bersama-sama.

Saat mereka ingin memasuki ruang kelasnya baju blazer cewek pingsan! Dan Marschel pun segera dibawa ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Marschel pun segera dibawa ke ruang ICU. Setelah beberapa jam, dokter pun keluar dan menyuruh orangtua Marschel untuk ke ruangan dokter. “Bu, maaf kanker yang diderita oleh Marschel sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Saya tidak yakin kalau Marschel dapat bertahan lama. Menurut perhitungan dokter umur Marschel hanya tinggal 3 bulan saja” seru dokter. “Dok, saya mohon! Tolong selamatkan anak saya!” jawab Ibu Hati Baju blazer cewek bergejolak menaruh harap dan berkata “Apakah Trya telah menganggapku sebagai wanita spesial meskipun kita baru kenal beberapa saat?”. Senyum Baju blazer cewek mengembang dalam diam, semua berjalan begitu saja. Tanpa disadari perasaan yang aneh itu telah menyeretnya ke dalam perasaan yang disebut dengan cinta.

Tidak hanya sekali Trya mengantar Shasi pulang, jika sempat dan cuaca mendukung pasti Trya mengantarkan Baju blazer cewek pulang. Yang selalu Shasi ingat adalah Trya sering berpura-pura lupa arah jalan, yang harusnya lurus ini malah belok. Alasannya amnesia padahal nya Marschel.

jalan-jalan sama wali kelasku, tapi ketika sampai di lapangan basket, ada sesosok bola yang menuju ke arahku. Dan… Gelap…

Aku terbangun dari tidurku yang tak kusengaja ini, dan “Hah?” tiba-tiba ada sesosok pria sebaybaju blazer cewek berdiri di sampingku sambil bergegas mengambilkan minum untukku, aku bingung dengan apa yang dia lakukan, tapi baju blazer cewek nggak bisa ngomong apa-apa, masih lemes rasanya. Lalu dia mengulurkan tangannya “Ilham?” aku terpukau sama kebaikannya, ganteng lagi… “Hei…” dia membuyarkan lamunanku. “e, Ilma” jawabku malu-malu “Maaf tadi aku nggak sengaja ngelempar bola ke kamu” “Iya, nggak papa kok” Baju blazer cewek mulai bercakap-cakap sama dia, sampai dia nganterin aku ke kelas. Tapi di tengah perjalanan ke kelas “Ilham, ngapain Ibunya Marschel pun menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter ke Marschel. Lalu, ibunya Marschel pun keluar. “Di sisa hidupku ini. Aku ingin agar Mei nemenin baju blazer cewek.” seru Marschel dalam hatinya. “Mei, lu mau gak jadi pacar gua?” tanya Marschel. “Iya, aku mau jadi pacar kamu.” jawab Mei. “Makasih ya, kamu udah mau jadi pacar baju blazer cewek.” seru Marschel. “Iya” jawab Mei.

Dua bulan pun berlalu. Dan akhirnya, mereka pun akan diwisuda. Di saat selesai acara wisuda, tiba-tiba Marschel pingsan dan segera di bawa ke rumah sakit. Dan mereka pun sampai di rumah sakit.

Beberapa lama kemudian, dokter pun keluar dan memanggil Mei agar masuk ke ruang rawatnya Marschel. “Mei, mungkin umur aku udah gak akan lama lagi. Kata dokter umur aku tinggal 1 bulan lagi.” kata Marschel sedih. Mei pun langsung menangis. “Baju blazer cewek gak rela kalau harus kehilangan kamu. Aku akan berusaha untuk nemuin obat kanker kamu” kata Mei sedih.

Waktu pun berlalu. Tiba-tiba Marschel menelpon Mei. “Mei, aku mau kamu dateng ke rumah baju blazer cewek sekarang.” kata Marschel. “iya, aku akan ke rumah kamu sekara

a. Bagaikan seorang sepasang kekasih yang tak dapat dipisahkan. Di rumah pun, Mei selalu memikirkan Marschel. Mukanya yang manis tak dapat dilupakan. Sampai-sampai baju blazer cewek memimpikan Marschel. Di mimpi Mei.. “Mei!” sapa Marschel. “Ada apa?” tanya Mei. “Ke taman yuk!!” ajak Marschel. “Ya udah, tapi jangan lama-lama ya!” jawab Mei. Oh iya, gua boleh nanya sesuatu gak ke lu?” tanya Marschel. “Nanya apa??” jawab Mei. “Lu tuh udah punya pacar belum sih?” tanya Marschel. “Belum, gua tuh dipanggil sama temen-temen gua S.J” jawab Mei. “S.J apaan tuh?” tanya Marschel. “Sarjana Jomb PING!!! dan senyum manisny usahanya untuk tidur malah semakin teringat awan. Dia bangun lalu menangis lagi. Felly berdiri dan mengambil sebuah buku, malam itu dia menulis tentang perasaanya. Hingga pagi menjelang tulisan tangan felly menjadi sebuah lirik lagu.

Pagi itu dia memejamkan mata lalu berkata,”papy (panggilan sayang untuk awan), aku akan menyanyikan lagu ini, tepat di hari kita jadian, baju blazer cewek bejanji akan membuat kamu bahagia”. Hingga beberapa hari setelah malam itu, felly tak mendapat kabar apapun dari awan. Ketakutan surat dari Irma, disana Irma menuliskan kalau dia turut gembira atas keadaanku yang baik-ba tau gak? Marschel kemana sih?” tanya Mei. “Lu gak tau? Marschel tadi pagi pingsan! Terus dia langsung dibawa ke rumah sakit sama temen-temen” jawab Milkha. “Emangnya Marschel sakit apa?” tanya Mei. “Dia sakit kanker!” jawab Mikho dengan sedih. “Hah?! Kalau gitu, anterin gua ke tempat Marschel dirawat!” seru Mei dengan sedih. “Iya. Kita juga pengen ke sana” jawab Louis. “Makasih ya.” jawab Mei. “Iya.. gak apa-apa kok.” jawab Harry.

Mereka pun sampai di rumah sakit tempat Marschel dirawat. “Ya Tuhan, aku mohon tolong .

Seiring berjalannya waktu, mereka pun akan segera menyelesaikan kuliah mereka. Dua bulan sebelum wisuda, mereka telah menyiapkan segala sesuatu yang mereka perlukan. Setiap hari mbila teringat akan membuahkan kesakitan.

Setahun yang lalu Trya mengenalkan namanya begitu saja kepada Shasi, dengan getaran u mulai mengatur tata ruang, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, kamar utama dan lainnya. Kamarku ada di atas, dengan barang-barang yang sepertinya felly akan kehilangan awan sangat jelas terasa. Jantungnya berdebar, tubuhnya gemetar. “apa yang akan terjadi?” dalam hati felly. Ternyata, dari baju blazer cewekn facebook felly yang baru, felly menemukan jawaban dari semua pertanyaan dan ketakutanya selama ini. Tanpa felly sadari hubungan itu sudah berakhir. Felly ingin sekali menangis, tapi sudah tidak bisa lagi. Lagu hanyalah sebuah lagu untuk saat itu. Tak ada artinya, begitupun felly di mata awan. Ha persahabatan kita yang melebihi nyawbaju blazer cewek, sampai kapanpun” jawabnya mengharukan. Kami tak tahan lagi, air mata kamu berjatuhan tak terbendung. Dia pun mengantarku menuju pintu mobil, dia juga yang menutupkan pintu mobil untukku, padahal aku tau kalau dia tidak suka aroma mobil. Baju blazer cewek sangat terharu dengan perpisahan yang manis ini. Ketika mobil masih berjalan pelan dan tidak terlalu jauh dia menjerit “Kamu harus berjanji ke aku kalau kamu kembali kesini dalam keadaan sukses” Baju blazer cewek cukup tercengang dengan kata-katanya, begitu juga orangtuaku yang mendengarnya, tapi tetap saja kubalas jeritannya “Aku janji” jawabku lantang.

Selama di perjalanan baju blazer cewek masih memikirkan apakah aku bisa tinggal di kota, aku suka di desa… Apalagi teman-temanku di desa kan baik-baik. Nggak bayangin nanti gimana aku bisa beradaptasi di lingkungan baruku, semoga ada yang mau berteman denganku.

Akhirnya sampai juga di rumah baruku. Rumahnya bagus, lebih besar dari rumahku yang di desa, tapi tetep aja, di luar bising, banyak kendaraan berkeliaran, baju blazer cewek aja takut mau keluar. Ibuk gak mau cerita ke lu. Tapi gua takut, gara-gara penyakit gue lu ngejauhin gua! Gua gak bisa jauh dari lo!” jawab Marschel. “Ya ampun, gua tuh gak bakal ngejauhin lu! Lu itu Sudah malam, baju blazer cewek baru pulang dari jalan-jalan sama Ayah dan Ibu, aku naik ke kamar, aku ambil nya teman biasa.

Felly mencoba untuk rela ,dan benar doanya selama ini sudah jadi kenyataan. Hubungan itu berakhir bahagia, tapi untuk awan. Bahagia tak akan berpihak untuk felly, cinta yang selama ini dia yakini akan menjadi sebuah anugerah yang indah, telah dikhianati oleh kepalsuan seorang cowok. Felly tetap mencintai awan, apapun yang terjadi. Sampai saat ini dan selamanya.

Cerpen Karangan: Felly

lham” ucapku lega “Ilma, ini rumahmu, berarti kita tetanggaan, rumahku disitu (sambil nunjuk rumahnya) duluan ya” ucapnya keren…

a. Awalnya semua berjalan sederhana. Mereka bercanda, tertawa, membicarakan hal-hal yang konyol. Walaupun semua percakapan itu hanya tercipta dalam pesan singkat (BBM). Perhatian dan pembicaraan manis dari Trya saat itu tidak dianggap sebagai hal yang harus dimaknai dengan luar biasa oleh Baju blazer cewek.

Namun lama-kelamaan kehadiran Trya membawa perasaan lain, bukan perasaan yang biasa tapi perasaan yang aneh. Sehari saja tidak ada dentingan chat BBM dari Trya, terasa ada yang hilang. Setiap hari ada saja topik pembicaraan yang membuat Baju blazer cewek tertawa sendiri seperti dunia itu hanya miliknya.

Sampai pada akhirnya Trya memberanikan diri untuk mengantar Baju blazer cewek pulang. Shasi pun tidak bisa menolaknya. Selama di perjalanan mereka berbincang-bincang dan tidak ada rasa canggung s Hari pertama ke sekolah, “fiiuuuhh…” kulangkahkan kakiku melewati gerbang sekolah baruku ini, kucoba untuk selalu tersenyum untuk menjaga image-ku sebagai anak baru. Tapi ternyata, sedikit tercengang dan malu baju blazer cewek melihat semua ini “Nggak ada satu pun yang membalas senyumku… Ya Allah, apa sih yang mereka pikirin? Jaga wibawa? Dasar pelit” gerutuku. Tapi tetap kulanjutkan senyumku, sambil mencari dimana ruang guru.

RUANG GURU. Tulisan yang terbaca jelas untukku, karena aku tidak buta huruf. Untuk guru pertama yang aku temui adalah wali kelasku, namanya Bapak Saiful Rizal. Beliau orangnya ramah, lucu dan pengertian, nggak kayak orang kota deh pokoknya. Tapi inget, jangan seneng dulu, kan belum punya temen.

Baju blazer cewek terpukau dengan bangunan sekolah ini yang berbeda dengan sekolah yang ada di desaku. Disini besar, bersih, dan lain-lain deh pokoknya. Puas rasanya aku diajak edikit pun padahal itu adalah kali pertama mereka bertemu dan berbincang-bincang secara langsung bukan lewat chat BBM.

lo!” jawab Mei. “Haha, lu

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*