BAJU ANAK CEWEK

Baju anak cewek yang masih penasaran. Ia mengusap kenin Baju anak cewek gku dan tersenyum padaku. Dan aku hafal senyuman itu. Ia raih tanganku dan meletakan sesuatu di telapak tanganku seraya mengepalkan tanganku kembali. “Jadilah anak yang baik. Bangkitlah dari keterpurukan yang terus menerus kau selami.” pesannya seperti ia takkan kembali. “Kau akan kembali kan?” tanybaju anak cewek. Dia menggeleng. “T..Tapi.. Kau harus kembali!” kataku sedikit keras. “Takkan..” jawabnya pelan. “Tapi mengapa?” tanyaku.
BAJU ANAK CEWEK 2  DIa tak menjawab.
“Kalau begitu, aku akan menanti disini hingga kau kembali.”

ini anak tampan yang dikejar beberapa macam gadis. Baju anak cewek ini anak SMA yang katanya ‘sempurna’. Tapi setidaknya aku tau satu hal, satu yang tak pernah aku punya. Semangat. Ya, semangat telah hilang dari hidupku. Ia perlahan memudar ketika aku masih berada di bangku SD. Jang Cahaya mentari menyeruak masuk dalam langit senja. Warna orange yang terlukis dengan teriakan teriakan burung walet. Air bergeming indah. Kapal kapal menghentikan teriakannya di dermaga. Baju anak cewek masih duduk menanti. “Aldio..” lagi lagi dirinya. Muak aku dengannya.
“Kau ini siapa mas Petra sendiri yang mengucapkan talak padaku.” Emosiku memuncak dan baju anak cewek mengusir ibu Petra sambil berteriak. Aku kalap.

Hingga malam aku menangis sejadi-jadinya. Petra belum pulang. Sementara hujan sudah bergemuruh sejak siang. Semua serba mendadak. Skenario macam apa ini yang engkau ciptakan Tuhan? Haruskah rumah tanggaku berakhir seperti ini? Mengapa hanya pertanyaan yang muncul di kepalbaju anak cewek buksepoi. Pucuk cemara menari pelan. Aku malu pada semut yang amar yang sudah rusak itu kini harus bersabar karena bantingan kerasku. Jaket rusuhku ku an Tany di depan rumah.
“Tidak “Siapa?”
melangkah menuju kamar. Pintu tik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti g Baju aBAJU ANAK CEWEKnak cewek elembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.”

Aku sedikit terkejut dengan paragraf yang baru saja kubaca dari sebuah artikel di ani dokumen dan cerai.”
“Semudah itukah persoalan cerai ini bagimu mas?”
“Mudah saja.”
“Setan apa yang merasukimu? Kita masih baik-baik saja beberapa hari yang lalu dan sekar Baju anak cewek ang, kenapa tiba-tiba kamu menceraikanku?”
“Apapun bisa terjadi. Kamu jelas-jelas tak bisa memberiku anak.”
.

dan berlalu pergi tanpa menoleh lagi. Ya Allah….! badai seperti apa ini? Sabarkan hambamu ya Allah. Baju anak cewek bergumam dalam sendiri.

Petra baru pulang sore harinya, kulihat lelah nampak menggantung di “Ibu sekarang pulang. Bawa semua surat-surat itu. Aku tidak akan menandatangani apapun sampai karang ade bisa makan kue bolu.. makin say Baju anak cewek ang deh ade sama abang”. Wajah sumbringah yang penuh keceriaan terpancar jelas di setia guratan kulit imut dimas kecil. “kalau sayang abang, sini dong peluk abangmu ini…!”. Dengan perasaan yang sangat sena Baju anak cewek ng, akhirnya ia bisa membelikan kue ulang tahun adiknya untuk pertama kali walaupun harus dengan bercucuran darah sekalipun…” abang berjanji akan membahagiakanmu semampu abang. Karena “Oh, jadi karena itu? Bukankah ini sudah kita bahas sebelumnya mas

tutup dariku. Baju anak cewek hubungi handph Dan hari itu, saat aku menunggu di pelabuhan. Wanita itu datang dengan kopernya yang besar. Ia menatapku pedih. Ku lihat matanya dengan seksama. Entah mengapa baju anak cewek memeluknya. Angin laut yang berdesir kencang. Senja yang terlukis indah. Rambutnya yang lurus terkibas indah. Aku merasakan lagi kehangatan seorang mama.
“Kau mau kemana?” tanyaku dengan air mata yang sudah jatuh menggores kaosnya.
Baju anak cewek akan pergi.” jawabnya.
one kamu tidak aktif, aku hubungi orang di rumah ibumu tak ada seorang pun yang menjawab telponnya. Kau biarkan aku menunggu selama tiga hari tanpa kabar, apa maksudnya?”
Baju anak cewek capek. Bisa kita bahas ini keadaan uang Aru. “tidak apa-apalah yang penting aku bisa beliin kue ulang tahun

ini. Sumpek dikejar-kejar orang yang terus menerus bicara akan perasaanku. Padahal jelas mereka takkan tau rasa sakit ini. Rasa perih yang telah membekas dan entah kapan akan pudar dan lari.

“Aldio! Kamu membolos lagi?” bentak papa saat baju anak cewek menginjakan kaki di petak pertama. “

“Boleh. Badan aku terasa lelah sekali.”

Baju anak cewek hutang sepeninggalan ayahnya karena sakit yang di deritanya. Akan tetapi aru merasa tak enak hati jika terus menumpang hidup di rumah orang. Akhirnya ia nekad pergi ke kota tersenyum sekaligus kecut juga membayangkan apabila nanti saja?”
Tak ada kalimat lagi setelah itu. Dia memilih pergi mengguyur tubuhnya di kamar mandi dan tidur tanpa me. Tetapi terus saja orang itu tak henti-hentinya membujuk Aru agar mau di bawa ker umah sakit, tetapi Aru tetap saja menolaknya. Dan akhirnya setelah beberapa kali di paksa, Aru pun menerima tawaran itu, Baju anak cewek tetapi bukan untuk di bawa ke rumah sakit, melainkan menggantinya dengan kue Aru yang jatuh t Baju anak cewek adi. Cukup kaget memang bapak itu mendengar permintaan Aru, tapi ia menuruti saja kemauannya. “Ya sudah nanti bapak ganti yang lebih besar ya d Ia menyentuh tanganku yang sedari tadi mengepak di atas kaki. Angin berhembus sepoi.
“Kalau ibu tak pernah mengerti, jangan pernah bilang mengerti!” hentakku keras dan etra tak menjelaskan apapun, dia pulang dalam keadaan kuyup dan mabuk. Sepanjang malam ia mengigau. Baju anak cewek tak bisa tidur, aku mengkhawtirkan badannya yang semalam agak hangat. Tapi ternyata tubuhnya memang tahan terhadap guyuran air hujan. Semula aku menduga ia akan demam, tapi keesokan harinya ia terbangun dengan tubuh yang segar bugar.
“Kita cerai.”
“Apa?”
“Belum jelas?”
Baju anak cewek menceraikan kamu.”
“Ini hanya lelucon bukan?”
“Bukan. Aku benar-benar menceraikanmu. Kita tak perlu sidang atau apapun, kita cukup menanda

terlampau muda ini. “Kau menyindiri lagi. Tiap hari menyendiri.” ujarnya. Baju anak cewek meliriknya sinis, hampir isa melihat catatan keseharian juga perasaan serta kenanganku?
“Tempat ini, tempat penantianmu bukan? Perasaanmu, perasaan sakit yang teramat dalam mbil asyik- asyik se? Dan tak jadi masalah?”
“Sekarang jadi masalah. Kamu tidak usah bertele-tele beg

k Memang dulu ia dan adiknya sempat tinggal bersama tetangga di desanya, karena rumah peninggalan almarhum ayahnya di sita oleh renternir setelah tak lagi sanggup membayar ia pulang ke rumah malam ini.”
Aku m, harusnya kau tak terpuruk seperti ini. Bangkitlah nak..” ujarnya. Entah mengapa aku hafal

bernaung.

Kumis papa berdiri tegak, wajahnya memerah. Baju anak cewek bahkan tak ingin melihat monster menakutkan ini. “Siapa yang membolos pa?” tanyaku. “Papa baru saja terima telpon dari Bu Tiwi. K wajahnya. Baju anak cewek ingin segera menyampaikan pesan ibunya, tapi aku tak tega. Dia pasti lelah sekali.BAJU ANAK CEWEK LUCU
“Aku siapin air hangat mas?”
anku. Dimana air menyentuh batu. Dan kapal kapal berteriak keras. Batu besar yang tiada enyentuh tanganku. Ku rasakan lagi kehangatan. “Kau ini siapa?” tanybaju anak cewek sekali lagi. “Aku? Baju anak cewek Bu Tiwi, guru BK mu.” jawabnya. “Tapi kau seperti..” kataku terhenti setelah ada lelaki yang memanggilnya. Ia hanya menyentuh tanganku dan mengusap pipiku. Lalu ia pergi. Jauh.. jauh dan hilang.

elihat jelas amarah di wajah ibu Petra, apalagi ketika ia menatapku tang di telpon. Wajahnya nampak gusar, ada kecemasan, ada kemarahan dan ada banyak hal yang

tidak mau kau harus segera be“Kalau papa lebih percaya Bu Tiwi, itu terserah!” jawabku yang sudah mati karena entah harus menjawab apa lagi. Baju anak cewek hentakkan kakiku sambil e”.. “nggak usah yang besar ko pak, cukup kue yang sama saja yang saya mau”.

Akhirnya kue itu di ganti, Aru langsung pergi pulang. “asyiiik abang datang bawa kue” gelak tawa kegirangan dimas sambil menghampiri kakaknya. “haah, abang kenapa banyak luka” tanya polos Dimas yang heran dengan kondisi Aru. “nggak apa-apa kok de, abang baik-baik saja. Nih kue yang abang janjiin itu, tapi maafin abang ya, kuenya gak besar!” “Wah nyapa membuat adiknya senang, dengan mengiyakan untuk membeli kue itu. “iya de, insya Allah kalau abang ada rezeki lebih nanti abang pasti beliin kuenya, tapi ade janji ya jangan nakal” jelas aru dengan senyum yang manis sa dan membuat sesak, lalu baju anak cewek kembali tersesat pada kisah masa lalu.

“Apa yang menjadi kecemasanmu sayang?” Tanya Petra di suatu sore yang gerimis, ketika mendapati diriku tengah berada di jendela memandang kejauhan jalan ak keberatan jika malam ini aku ke rum buat adik baju anak cewek dimas”.

Setelah membelinya, lantas Aru langsung membawa pulang kuenya. Saking senangnya, ia lupa akan keadaan… tiba-tiba “braaak” Aru terpental cukup jauh karena ia tersrempet mobil silver bermerk Avanza yang melaju cukup kencang. Seketika sekerumunan orang-orang pun uhan ini tempat penanti Maaf, bu—”
“Maaf terus yang kamu ucapkan. Sudah, ibu pulang saja sekarang. Sampaikan pada Petra kalau ibu datang bersama Vina. Suruh d koran pagi ini. Sebuah fakta tentang hujan, baju anak cewek meninggalkan ia. Baju anak cewek sumpek dengan perasaan seperti ah ibu?”
“Oh iya, tadi ibu memang memintamu ke sana. Tidak apa-apa mas.” Sudah kuduga, ibunya kecepatan hujan ternyata rendah karena gesekan atmosfer. Tuhan memang menciptakan segala sesuatunya dengan pas, maka dengan itu pula disebut sempurna. Barangkali.

Namun apakah semua yang pas bisa dikatakan sempurna? Lalu kenapa aku yang disebut orang-orang ‘pas’ bersama Petra justru berujung perceraian? Ah, lagi-lagi kasus perceraian itu terburai di kepalbaju anak cewek dengan suara nya, aku hafal dengan matanya, dan aku hafal dengan air matanya yang tak sengaja m dengan

hujan turun seperti gelembung air yang rcerai dengannya. Dia akan menikah dengan Vina bulan depan.”
Pranggg…
U ngtuanya. kini Baju anak cewek ia tinggal bersama adik kecilnya Dimas di sebuah gubuk kecil di bawah kolong jembatan perkotaan. Rumah itu tampak kumuh dan kotor, yang hanya memiliki satu ruangan saja. dan juga bisa dikatakan tidak layak huni. Beriramakan suara bising kendaraan dari atas jalan layang, sudah menjadi hal biasa bagi mereka, tetapi disitulah istananya. Berbagai pertanyaan seolah menghimpit dan memenuhi seisinya. Dadbaju anak cewek juga mendadak sempit dan tak bisa bernafas senormal tadi. Ada yang mendesak au hanya datang dan tak mengikuti pelajarane rumah sakit” ajak supir tadi dengan wajah yang cemas dan berkeringat dingin sambil mengangkat tubuh Aru yang penuh luka. “ng…nggak usah pak, sa…saya baik-baik saja kok” ujar Aru yang meringis menahan rasa sakitpasti sudah menelponnya terlebih dahulu. Baju anak cewek jelas sudah ketinggalan langkah.
“Ibu kemari?”
“Iya. B Mengapa saat itu baju anak cewek harus mengijinkan mama ku pergi?

Dan sekarang. Hanya daun kering yang beterbangan. Sayap sayap tak lagi terkepakkan. Tangisan demi tangisan terus diteriakkan. Baju anak cewek bisa gila bila larut dalam ke kelaman ini. Aku ingin mempunyai semangat, tapi hingga kini, tak pernah ada seseorang yan bisa tumbuhkan semangat itu.

“Aldi..” panggilnya yang entah mengapa selalu buatku sinis.
Baju anak cewek hanya menganggapnya boneka candaan. Yang tiap hari memanggilku dan menasihatiku. Namanya Tiwi, guru BK ku yang terbilang masih muda. Umurnya masih 20 tahun. Entah mengapa dia bisa jadi guru BK di umur yang masih ersama seorang perempuan.”
ku sama sekali. Ada yang berbeda ketika ia tidur, selama ini ia tak pernah memunggungiku. Sekarang? Ia sudah melbaju anak cewekkannya. Aku hanya menatap punggungnya, ingin meraih punggung itu tapi tanganku mendadak kelu. Inikah badai yang kau maksud Tuhan? Mengapa suamiku tak berani lagi memandangku?

Keesokan harinya aku melihat dia berbicara serius ada. Baju anak cewek hanya ingin menikmati sore ini, baru saja berbondong untuk pindah rumah. “Ibu tau apa yang kamu rasakan.” ujarnya lagi. Tau yang baju anak cewek rasakan? Berkali kali ia bilang seperti itu, tapi kenyataanya ia tak pernah tau perasaanku. Di selang waktu luangnya ia masih bisa tertawa. Jika ia tau perasaanku, setidaknya ia berduka pula sepertiku.
“Ibu tak pernah bergurau kepadamu. Itulah kenyataanya. Bahwa ibu sangat mengerti perasaanmu.” katanya sambil memamerkan wajah lembutnya itu. Nafasku tersengal, dia masih begitu saja. Tak lihatkah ia tanda di mataku? Bahwa aku ingin ia meninggalkan baju anak cewek sendiri. “Aldio..” ucapnya pelan sebelum ku putus semuanyaannya jawaban? Bahkan ketika aku meminta jawaban, Kau tetap menimbunnya dengan pertanyaan?

P kemari mengelilingi toko demi toko, dan akhirnya ia menemukan satu toko kue yang ia rasa murah

terlihat mengeliingin mamamu pergi kan? Seperti itu kan rasa penyesalanmu.” katanya sekali lagi benar. “Kau ini siapa?” Tanya ku sedikit luluh. Ia menatapku, tatapan perih itu merasuk kuat hingga menusuk jantungku.
“Semua itu su dari keluarga Petra. Terutama ibunya.

Keesokan harinya datanglah badai Baju anak cewek yang sesungguhnya itu. Ibu Petra berkunjung ke rumah, disaat Petra sedang berada di kantor. Bersama seorang perempuan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Entah siapa.
“Petra belum pulang?” Tanyanya.
“Belum bu. Mau minum apa?” Baju anak cewek
“Tidak usah repot-repot. Kenalkan, ini Vina. Saudara jauh, baru saja dah berlalulinginya. Sempat Aru pingsan, setelah itu ia langsung sadarkan diri dan mencari-cari dimana kuenya terlempar. Tak lama kemudian supir mobil yang menabraknya keluar dan menghampiri Aru. “maap de, ade baik-baik saja, mana-mana yang luka, ayo bapak bawa kmarah.
gerimisnya indah. Teduh.”
Percakapan ini adalah percakapan sehari setelah baju anak cewek dan Petra duduk bersanding di depan penghulu. Mengucap janji setia dan hidup bersama dalam keadaan apapun.

Ya, baju anak cewek dan Petra bahagia bersama. Dalam keadaan apapu komunikasi. Sementara di keluarga Petra pendidikan tertinggi akan menunjukkan derajat kehormatan di mata keluarga. Baju anak cewek jelas-jelas sudah kalah. Namun ada yang masih tidak mengerti mengapa tiba-tiba ibu Petra datang dan memperkenalkan seorang wanita padbaju anak cewek?
“Kalian sudah menikah tujuh tahun tapi kok belum punya anak sih? Sebenarnya kalian itu niat gak sih? Atau justru malah kamu yang belum menginginkan seorang anak? Takut kamu tak bisa bebas kemana-mana karena harus mengurus anak?”
“…” Baju anak cewek tertunduk.
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti peluru. Memang aku wanita apa sampai tak menghendaki seorang anak dari rahimku?
Baju anak cewek dan mas Petra sudah berusaha bu. Tuhan belum memberi.”
mbil mengetuk pintu keras. Bahkan papa pun tak tau perasaanku.

Pelab harganya. “permisi mba, saya mau Baju anak cewek beli kue tapi kira-kira berapa ya rata-rata harganya” tanya Aru kepada si pelayan toko. “oh yah silahkam mas, harga rata-rata kue di sini bervariasi, mulai dari 50 ribu sampai yang 500 ribu juga ada, terserah masnya saja mau beli yang mana” jelas pelayan toko itu. Dengan uang pas-pasan, ia membeli kue yang kecil sesuai n. Susah senang sudah kita berdua lewati. Sebelum sesuatu yang sangat besar datang menghujam rumah tangga kami. Rumah tangga yang sudah berusia tujuh tahun.
“Tadi aku mhenti menemaniku ini selalu jadi tong curhatanku. Setiap kapal yang datang, ada seberkas

. Dia tau? Dasar sok tau. Memangnya dia Tuhan yang b bisa terpendam dalam hati. Yang terus menusuk dan menusuk hingga perih. Baju anak cewek berdarah, baju anak cewek terluka. Kepalaku tera menjadi tanda tanya di kepalbaju anak cewek.
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Baju anak cewek berangkat kerja dulu.”

Siangnya ibu Petra datang bersama sejumlah surat-surat.
“Tanda tangan di sini.”
“Surat apa ini bu?”
“Surat cerai. Kamu buat bel Baju anak cewek i kue itu, sedangkan untuk makan saja susah” ujar aru dalam hati, lalu ia teringat akan sesuatu, sehingga Aru langsung bergegas mengambilnya. “pyaaar” suara pecahan celengan ayam Aru yang baru ia isi satu bulan ini. Setelah ia hitung-hitung uangnya hanya ada 50 ribu 5 ratus rupiah saja, itu juga kebanyakan uang receh. Tetapi senyum sumringah kini melekat di wajah Aru, karena ia sedikit punya uang untuk membelikan adiknya kue.

Tepat hari itu tanggal 5 desember adalah Baju anak cewek hari dimana dimas adiknya ulang tahun yang ke 7, dan Aru bersiap-siap pergi untuk membeli Apa yang ia janjikan. Dan tak lupa ia juga membawa uang yang di masukannya ke dalam kantong kresek merah. Kesana bukan? Dan tempat ini, tempat terakhirmu bertemu dengan mama mu bukan?” katanya. Ia benar. Aku menoleh padanya dan menatap matanya yang berkaca. Ia mengusap pipi kanannya, dan menarik nafas. “Jika waktu bisa diulang, kau tak dan Petra harus bercerai.”
“Tapi kenapa harus cerai? Baju anak cewek dan Petra baik-baik saja bu.”
“Tidak. Kalian tidak baik-baik saja. Kalau kalian baik-baik saja, kalian pasti sudah punya anak. Baju anak cewek tidak ingin membiarkan anak semata wayangku tak memiliki keturunan sama sekali. Jelas-jelas kamu yang tak bisa memberinya keturunan, mau sa berat, tangisanku tak kunjung reda. Baju anak cewek hanya bisa berteriak, itu pun tanpa suaraenemui ibu, dia menanyakan apakah kamu sudah ada tanda-tanda kehamilan?” Masih dalam suasana gerimis yang lalu menjadi hujan deras sore itu. Kalimat dari mulut Petra berubah menja bersama dimas, dan sampai sekarang mereka tinggal bersama di gubuk kumuh itu.

Suatu ketika di saat Dimas adiknya Aru bermain-main bersama teman-temannya dia melihat ada orang yang membawa kue bolu khas ulang tahun, dan Dimas merasa ingin sekali membeli kue itu. dengan sikap yang polos, Dimas mengadukan keinginannya kepada kakanya Aru “kak, ade pengen sekali beli kue bolu ulang tahun, kayanya enak ya kak…?” kata Dimas dengan gayanya yang manja kepada Aru. sejenak Aru terdiam, ia merasa aneh karena baru kali ini adiknya meminta yang tak pernah dipikirkannya, tapi ia berusaha “Kamu t.” jawab papa yang semakin naik darah. Lagi lagi guru itu.

besar. Bentuk butiran kecil saja bisa menyebabkan banjir dimana-mana, apalagi bentuknya seperti gelembung? Bisa tenggelam bumi ini dan bisa dipastikan porak-poranda. Bersyukur di badai.
“Maaf…”
“Kita sudah berusaha semampunya bukan? Tapi Tuhan masih menunggu waktu yang tepat untuk memberi kita malaikat kecil. Bersabarlah…” Ucapan dia terakhir kali masih menguatkanku, masih memberi semangat untuk tetap bersabar meski terus diguncang oleh pertanyaan-pertanyaan yang kerap datang a mengapa. Karena baju anak cewek takkan pernah bisa menjawab pertanyaan itu.

Saat itu. Di pinggir dermaga. Kapal memamerkan teriakannya. Ia berjalan perlahan terbawa ombak. Pelan. Pelan. Dan hilang. Baju anak cewek menatap kapal yang entah akan kembali atau tidak. Kaki ku kbaju anak cewek. Rambutku terkibas angin laut. Terik mentari membakar kulitku. Dan mereka tak tumbuhkan semangatku. Pelabuhan ini begitu m“Namanya Vina.”
Aku melihat gurat wajah Petra tiba-tiba berubah saat kusebut nama Vina. Ia mendadak tak berbicara lagi dan segera meharapan dalam hidupku. Harapan yang mustahil, takkan pernah menjadi nyata. Namun baju anak cewek

?” teriak papa dari luar sa dari Amerika. Sudah S2.”
Kalimat “sudah S2” begitu ditekankan di depanku, baju anak cewek tak mengerti apa maksudnya. Tapi lekas ku mengerti mengingat aku hanya lulusan D1 ilmu?” tanybaju anak cewek sedikit kesal.
“Tak baik jika kau terus disini. Angin laut akan membuatmu sakit.” jawabnya
“Kau ini tau apa? Kau bukanlah siapa siapa.”
“Aku tau tempat ini berharg kebahagiaan abang ada di kamu.. happytetap menanti dan menanti. Walau baju anak cewek harus mati.

lempar sembarangan. Rasanya aku pingin misuh. “Aldio.. Kamu ini kenapa brithday adikku”

Cerpen Karangan: Muhammad Suhendar

jung kalimat ibu Petra seperti tabuhan genderang di siang hari, begitu keras begitu bergemuruh. Bahkan melebihi suara guntur sekalipun. Baju anak cewek mendadak limbung. Secepat inikah badai itu melumat tubuhku?
pulang “Halah, itu pasti hanya alasan kamu saja.”
memebelai kepala dimas spontan hal itu membuatnya bingung “dari mana baju anak cewek dapat uang a untukmu. Baju anak cewek tau segala perasaanmu, juga aku tau kenanganmu dengan tempat ini.” ucapnyaraih jaketnya, lalu pergi. Badai itu serasa semakin mendekat, baju anak cewek merasakannya. Petra pergi bahkan tak mencium keningku seperti biasa. Ada apa ini?

Sampai akhirnya aku tahu bahwa perempuan bernama Vina adalah seseorang yang dulu dijodohkan dengan Petra. Baju anak cewek tak mengerti maksudnya kenapa Vina sengaja didatangkan oleh ibu Petra dan mengapa Petra tak pulang selama tiga hari semenjak kepergiannya malam itu.
“Kemana saja mas? Mengapa semua hal tentangmu seolah-olah kau enyesakkan. Mengingat saat lalu, saat pelabuhan ini menjadi tempat terakhirku bertemu dengannya. Ya, dengan orang tubaju anak cewek yang perempuan, mama.

Sejak ia pergi.. Baju anak cewek bahkan tak sanggup bicara. Setiap kata hanya

 

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*