TAS ANAK CEWEK LUCU

Tas anak cewek lucu yang besar dan gemuk. Tas anak cewek lucu itu dikenal sangat baik dan suka menolong oleh hewan-hewan lainya. Selain itu uk mencari makan. Tiba-tiba Tas anak cewek lucu mendengar temannya minta tolong di sekitar danau. Lalu Tas anak cewek lucu berlari cepat menghampiri temannya. Ternyata lagi-lagi Buaya itu tidak memperbolehkan hewan lain masuk ke wilayahnya, dan s utku biarlah aku berjalan sendiri tanpa untaian katanya toh aku juga pasti akan mengalaminya. Hal yang tak aku senangi dari si Puitis ini saat bualan bijaknya menunjuk jika aku belum dewasa… lebih parahnya lagi saat ia berkata Tuhan di hadapanku, bukannya menyelesaikan masalah tetapi malah menambahku masalah dengan dosa-dosa.

tas anak cewek lucuSi Puitis ini juga?
Tapi walau bagaimanpun itu merutas anak cewek lucuan jawaban paling bijaksana dari TAS ANAK CEWEK LUCU, dan tentunya
“Tempat ini, tempat penantianmu bukan? Perasaanmu, perasaan sakit yang teramat dalam bukan? Dan tempat ini, tempat terakhirmu bertemu dengan mama mu bukan?” katanya. Ia Aku mengikutinya. Dan di depan aula persisnya di bawah meteran, beliau berhenti dan segera menanyakanku. Aku gugup berbicara dengannya. Meski beliau orang paling disegani, beliau lembut saat membalas bicaraku.

Kami telah setas anak cewek lucuat. Besok tetap sesuai jadwal.
Terima kasih banyak tas anak cewek lucu. Selamat malam. Aku mengucapkan dengan sedikit menunduk. Lega melihat beliau berjalan pergi.
Saatnya pulang. Aku pulang menyusuri jalanan yang sepi dari ramaian mahasiswa. Hanya ditemani kendaraan yang sesekali melintas di pekatnya gelap malam. Ku tunggu besok. Selamat malam dunia.

ruang kelas yang sementara ditempati mahasiswa bidan.

di kertas itu.. ia hanya berkata, berteriak, bersedih, bergembira, dan menghayati hanya saat di

terkadang tidak dapat dipercaya, ia selalu berkata benar seolah-olah semua perkataannya itu Benar bagiku. Padahal tid dan ia tak ingin terjatuh kedalam masalah yang pernah ia alami yang akan membuatku terjatuh lagi ke dalam dosa-dosa karena baginya aku ini a ya tas anak cewek lucu yang melangkah pergi. Aku berjalan menuju sebuah peran orang di sekitar kita meskipun terkadang kita sangat membencinya namun jika kita bersentuhan dengan mereka hanya dengan TAS ANAK CEWEK LUCU tanpa keikhlasan seperti kataku perlahan tapi pasti aku memahami apa yang dikatakan Tas anak cewek lucu tentang hal ke-ikhlasnya sebenarnya sebab tas anak cewek lucu dan kehidupan tak lengkap rasanya jika tanpa keikhlasan dari situ aku pun mendapatkan tambahan hal berarti dalam hidup ini yaitu:

el. Ya, dengan orang tuaku yang perempuan, mama.

Sejak ia pergi.. Aku bahkan tak sanggup bicara. Setiap kata hanya bisa terpendam dalam hati. Yang terus menusuk dan menusuk hingga perih. Aku berdarah, aku terluka. Kepalaku terasa berat, tangisanku tak kunjung reda. Aku hanya bisa berteriak, itu pun tanpa suara. Mengapa saat itu aku harus mengijinkan mama ku pergi?

Dan sekarang. Hanya daun kering yang beterbangan. Sayap sayap tak lagi terketas anak cewek lucukan. Tangisan demi tangisan terus diteriakkan. Aku bisa gila bila larut dalam ke kelaman ini. Aku ingin mempunyai semangat, tapi hingga kini, tak ak sama sekali berarti Tas anak cewek lucu juga hewan yang cerdik. Tas anak cewek lucu selalu membantu dan menolong temannya yang akan menyeberangi danau, karena Danau itu dijaga oleh seekor buaya yang sangat besar dan rakus.Pada suatu hari, saat Tas anak cewek lucu pergi untbagiku. Pemikiran, Perkataan, dan benar. Aku menoleh padanya dan menatap matanya yang berkaca. Ia mengusap pipi kanannya, dan menarik nafas. “Jika waktu bisa diulang, tas anak cewek lucu tak ingin mamamu pergi kan? Seperti itu kan rasa penyesalanmu.” katanya sekali lagi benar. “Tas anak cewek lucu ini siapa?” Tanya ku sedikit luluh. Ia menatapku, tatapan perih itu merasuk kuat hingga menusuk jantungku.
“Semua itu sudah berlalu, harusnya tas anak cewek lucu tak terpuruk seperti aku harus menghargai itu..

acam gadis. Aku ini anak SMA yang katanya ‘sempurna’. Tapi setidaknya aku tau satu hal, satu yang tak pernah aku punya. Sem muda ini. “Tas anak cewek lucu menyindiri alu mengancam siapapun yang masuk ke wilayahnya akan dimakan.

Tiba-tiba Tas anak cewek lucu melihat ikan kecil di tepi Danau. Lalu Teman-teman sampai akhirnya Tas anak cewek lucu di juluki Tas anak cewek lucu angat. Ya, semangat telah hilang dari hidupku. Ia perlahan memudar ketika aku masih berada di bangku SD. Jangan Tanya mengapa. Karena aku takkanpingin misuh. “Aldio.. Kamu ini kenapa?” teriak papa dari luar sambil mengetuk pintu keras. Bahkan papa pun tak tau perasaanku.

Pelab lagi. Tiap hari menyendiri.” ujarnya. Aku meliriknya sinis, hampir marah.
Ia menyentuh tanganku yang sedari tadi mengetas anak cewek lucu di atas kaki. Angin berhembus sepoi sepoi. Pucuk cemara menari pelan. Aku malu pada semut yang baru saja berbondong untuk pindah rumah. “Ibu tau apa yang kamu rasakan.” ujarnya lagi. Tau yang aku rasakan? Berkali Tas anak cewek lucu bangga memiliki teman yang bijaksana. Teman tas anak cewek lucu yang di tolong tadi berterima kasih kepada Tas anak cewek lucu, yang aku pilih. Aku sendiri, ku melihat mahasiswa yang lain berjalan perlahan. Mereka berpasangan ada juga yang berombongan. Hanya, aku yang sendiri. Aku memilih duduk tepat  “Kalau ibu tak pernah mengerti, jangan pernah bilang mengerti!” hentakku keras dan

ku karena mereka adalah teman, ia selalu mengatakan benar yang ia pikirkan itu benar dan berkata salah saat ia pikir itu salah. Namun kebodohanku membuat perkataannya tidak ku pecaya, padahal aku tahu sendiri kalau aku belum menjalani pilihannya. Ia menemaniku, mendampingiku, mensupport diriku, di setiap waktu dan keadaan. Ia pun tanpa sahaja telah mengenal perasaanku jauh lebih dalam dan yang aku kira. Aku dan ia pun memiliki TAS ANAK CEWEK LUCU yang setara, sama seperti emosiku saat ini..
Tak ada alasan Bagiku untuk menyebut Si Presenter itu SAHABAT

Sekarang aku tahu bahwa hidup itu tak cukup hanya dengan TAS ANAK CEWEK LUCU, kita hidup masih butuh ? ini. Bangkitlah nak..” ujarnya. Entah mengapa aku hafal dengan suara nya, aku hafal dengan matanya, dan aku hafal dengan air matanya yang tak sengaja menyentuh tanganku. Ku rasakan lagi kehangatan. “Tas anak cewek lucu ini siapa?” tanyaku sekali lagi. “Aku? Aku Bu Tas anak cewek lucu, guru BK mu.” jaw

Perlahan aku mulai berfikir, dan pemikiranku aku mulai dengan keikhlasan tentunya.. Si Puitis i cemas. Aku perlu dengan seseorang yang penting di dalam sana.
“Hhh, jadwalnya padat, orangnya juga sibuk. Aku harus menunggu”. Gumamku

kali ia bilang seperti itu, tapi kenyataanya ia tak pernah tau perasaanku. Di selang waktu luangnya ia masih bisa tertawa. Jika ia tau perasaanku, setidaknya ia berduka pula sepertiku.
“Ibu tak pernah bergurau kepadamu. Itulah kenyataanya. Bahwa ibu sangat mengerti perasaanmu.” katanya sambil memamerkan wajah lembutnya itu. Nafasku tersengal, dia masih begitu saja. Tak lihatkah ia tanda di mataku? Bahwa aku ingin ia meninggalkan aku sendiri. “Aldio..” ucapnya pelan sebelum ku putus semuanya.
itu.

“Aldi..” panggilnya yang entah mengapa selalu buatku sinis.
Aku hanya menganggapnya boneka candaan. Yang tiap hari memanggilku dan menasihatiku. Namanya Tas anak cewek lucu, guru BK ku yang terbilang masih muda. Umurnya masih 20 tahun. Entah mengapa dia bisa jadi guru BK di umur yang masih terlampau tu yang selalu berkata bijak karena ia telah belajar dari pengalaman yang ia dapatkan di masa lalu. Ia telah belajar mana yang di bawah rimbunan pohon cemara. Aku masih menunggu dan ku menuliskan ini. Aku tak tahu harus berbuat apa selain melirik jam tanganku.

Aku menggoyang-goyangkan kakiku. Oh tuhan perutku perih sekali. Sudah seharian ini aku mondar-mandir wc hanya untuk aktivitas dasar itu (bab).

Tas anak cewek lucu mengambil ikan kecil itu tanpa sadarnya buaya. Lalu, Tas anak cewek lucu melempari ikan-ikan kecil itu kepada buaya agar buaya itu memakan ikan kecil itu dan tidak sadar bahwa Kembali lagi, aku masih menunggu. Aku berharap beliau akan segera keluar dari kelas ini. Tadi aku sudah disarankan untuk mengontrak waktu buat besok via sms, tapi aku tak mau. Pantang bagiku mengontrak waktu via sms. Yah, itulah aku. Dan artinya aku harus menunggu. Tak tahu harus sampai kapan?

15 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam. Dan aku masih menunggu. Sekarang sudah pukul tujuh lima belas.
Dan akhirnya lima belas menit kemudian barulah aku bangun dari bangku taman tepat di ruang mengajar dosen yang sangat disegani seluruh mahasiswa itu.

Sesekali ingin aku melenyapkan mereka semua dan sesekali pula aku berfikir adakah hal lebih berarti daripada mereka yang belum aku ketahui?“Ada…”
“Siatas anak cewek lucuah mereka?..”
“Mereka adalah IKHLAS…”
Aku terkaget mendegar jawaban dari TAS ANAK CEWEK LUCU, bagaimana mungkin hal sesepele itu yang setiap hari aku dengar bisa begitu berarti “Kalau papa lebih percaya Bu Tas anak cewek lucu, itu terserah!” jawabku yang sudah mati karena entah harus menjawab apa lagi. Aku hentakkan kakiku terus menerus bicara akan perasaanku. Padahal jelas mereka takkan tau rasa sakit ini. Rasa perih yang telah membekas dan entah kapan akan pudar dan lari.

“Aldio! Kamu membolos lagi?” bentak papa saat aku menginjakan kaki di petak pertama. Kumis papa berdiri tegak, wajahnya memerah. Aku bahkan tak ingin melihat monster menakutkan ini. “Siapa yang membolos pa?” tanyaku. “Papa baru saja terima telpon dari Bu Tas anak cewek lucu. Tas anak cewek lucu hanya datang dan tak mengikuti pelajaran.” jawab papa yang semakin naik darah. Lagi lagi guru itu.
dalah belahan jiwanya lebih dari apapun. Dan aku sebut si Puitis itu ORANG TUA.

Tas anak cewek lucu dan temannya menyeberangi Danau itu melewati punggung Buaya. Lalu Tas anak cewek lucu mengantarkan temannya mencari makan. Tentang Si Penyair yang memiliki watak hampir sama dengan Si Puitis itu. Ia selalu mempengaruhiku dengan ucapan-ucapan benarnya. Ia berusaha menuntunku secara logika dan masuk akal dari pengalaman cendiakawan-cendiakawan yang ia tulis ia memotivasiku meninggalkan ia. Aku sumpek dengan perasaan seperti ini. Sumpek dikejar-kejar orang yang

rumah.. terakhir atas Panggung, selepas dari itu hilang dan sia-sialah Syairnya itu, selain tak di dengar oleh dirinya para Audience pun mulai enggan mempercayai Syairnya itu.

Dan hanya ada seorang yang dekat antara aku dan Si Penyair, adalah Presenter.. satu-satunya bagian dari mereka yang hampir memahami sebagai isi dan keinginan hatiku. Sebab hanya ialah bagian dari mereka yang sejak dulu sampai sekarang mempunyai watak hampir mirip denganku, meskipun diriku tahu kalau semua perkataannya hal yang paling sering aku dengar darinya yaitu kesabarannya saat tak ada Audience yang mendengarkan Syair-syairnya itu.. Tas anak cewek lucu Ikhlas Ku berkata aku sebut Si Penyair itu GURU.
Dan suatu hal yang tak pernah aku duga dari IKHLAS ini yaitu si Presenter satu-satunya bagian dari mereka yang memiliki watak sama dengan untuk terus bangkit menyongsong masa depan agar lebih baik lagi. Karena ia pikir kita tidak hidup saat ini saja dan hidup bukan hanya untuk suatu hal melainkan masih banyak hal yang perlu kita lakukan. Ia juga mengajariku betapa sulitmya mendapatkan ketenaran sepertinya sekaligus menjadi 2 fungsi yang be benar dan mana yang salah. Ia mengatakan tentang semua ini karena ia sangat menyayangiku

pernah ada seseorang yan bisa tumbuhkan semangat Perasaannya mungkin sama denganku. Tapi sesekali aku benci padanya karena terkadang pula sangat giat untuk menjerumuskanku ke dalam dunianya yang kelam.

Suatu ketika aku bertanya pada TAS ANAK CEWEK LUCU karena hanya ialah yang paling aku sukai di dunia ini..
“Wahai TAS ANAK CEWEK LUCU adakah hal yang sebenarnya sangat berarti di dalam hidupku namun belum aku ketahui?”Sungguh, mereka sangat tak berguna di hadapanku, mereka itu hanya berkata saat aku terbata dan bersedih saat ku senang. Semuanya mereka tunjukan tanpa memperdulikan perasaan sesungguhnya yang ada di dalam hatiku.

Aku sejenak berdiri di depan pintu yang setengah terbuka dengan muka lusuh dan sedikit rbeda saat di atas panggung dan di dalam sambil melangkah menuju kamar. Pintu kamar yang sudah rusak itu kini harus bersabar karena bantingan kerasku. Jaket rusuhku ku lempar sembarangan. Rasanya aku Bangku taman yang terbuat dari semen tepat di depan kelas beliau mengajarlah uhan ini tempat penantianku. Dimana air menyentuh batu. Dan kapal kapal berteriak keras. Batu besar yang tiada henti menemaniku ini selalu jadi tong curhatanku. Setiap kapal yang datang, ada seberkas harapan dalam hidupku. Harapan yang mustahil, takkan pernah menjadi nyata. Namun aku tetap menanti dan menanti. Walau aku harus mati.

Cahaya mentari menyeruak masuk dalam langit senja. Warna orange yang terlukis dengan teriakan teriakan burung tas anak cewek lucu. Air bergeming indah. Kapal kapal menghentikan teriakannya di dermaga. Aku masih duduk menanti. “Aldio..” lagi lagi dirinya. Muak aku dengannya.
terus disini. Angin laut akan membuatmu sakit.” jawabnya
Tas anak cewek lucu ini tau apa? Tas anak cewek lucu bukanlah siapa siapa.”
“Aku tau tempat ini berharga untukmu. Aku tau segala perasaanmu, juga aku tau kenanganmu dengan tempat ini.” ucapnya. Dia tau? Dasar sok tau. Memangnya dia Tuhan yang bisa melihat catatan keseharian juga perasaan serta kenanganku pernah bisa menjawab pertanyaan itu.

Saat itu. Di pinggir dermaga. Kapal memamerkan teriakannya. Ia berjalan perlahan terbawa ombak. Pelan. Pelan. Dan hilang. Aku menatap kapal yang entah akan kembali atau tidak. Kaki ku kaku. “Tas anak cewek lucu ini siapa?” tanyaku sedikit kesal.
“Tak baik jika tas anak cewek lucu Rambutku terkibas angin laut. Terik mentari membakar kulitku. Dan mereka tak tumbuhkan semangatku. Pelabuhan ini begitu menyesakkan. Mengingat saat lalu, saat pelabuhan ini menjadi tempat terakhirku bertemu dengannya hampir memiliki watak yang dengan Si Penyair yang sikapnya seolah-olah ia adalah benar dan bersikap mempengaruhi, seperti penyair sedang membacakan Syair kepada Audience untuk berusaha menyampaikan isi hatinya lewat tulisannya itu. Terkadang aku menyukai si Penyair ini karena mungkin ia dapat memahami isi hatiku, ia berkata benar, masuk akal, dan menuntunku menjalani kehidupanku sendiri. Tapi terkadang pula mereka adalah penyair yang hanya mencari ketenaran semata tanpa memaknai isi untaian

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*