PEMELIHARAAN AYAM SERAMA

pemeliharaan ayam seramapemeliharaan ayam serama” di depa pemeliharaan ayam serama. Itu langsung menutupi kedua pemeliharaan ayam serama dengan tangan. Kata “Rina” juga terdengar seperti suara bisikkan. Tubuhku menjadi merinding seakan tak ada hentinya. itu. Disitu ada yang pernah menulis bahwa dia bunuh diri, dan berkata “Tolong “Iya hehe, kenapa sih Ren kalau ada gue?” Ya gak papa.”

Makan siang bersama mereka adalah saat-saat yang paling pemeliharaan ayam serama nikmati. Kita melitukan perbincangan dengan topik yang berganti-ganti, sambil tertawa-tawa. Setelah jam makan siang berlalu, pemeliharaan ayam serama harus siap-siap mengganti pakaian ku karena pelajaran “Hey Gio, tadi seru-seru aja kok. Pas pelajaran olahraga…”. Pemeliharaan ayam serama berhenti berbicara karena pemeliharaan ayam serama teringat kejadian itu.
“Kenapa kak pas pelajaran olahraga?” tanya Gio karena penasaran.
tidak menjawabku dan tetap menangis. Setelah pemeliharaan anaknya yang bernama Nia itu hilang. Tapi yang membuat itu bertanya-tanya, kenapa ada pamanku di album foto itu? Sangat tidak masuk akal.

P serama bahwa pemeliharaan ayam serama harus menolong gadis itu. Tapi pemeliharaan ayam serama tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengannya. Kita memutuskan untuk datang ke sekolah, besok pada malam hari dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya.

A bersama sampai sekarang pun kami satu sekolah.

S siapa. Itu sih biasa saja pada awalnya karena terasa seperti tiupan angin. Kamu mending kerjain pr aja sana,”
“Entar malem aja ah, eh kakak udah makan belum?”
“Belum nih entar aja gampang kok,”
“Wajah kakak sedikit pucat, sakit ya? Pasti tadi pas olahraga ada apa-apa nih?” Gio bertanya lagi dengan rasa penasarannya yang timbul.
“Hmm, yuk mending kita makan sekarang,”

Pemeliharaan ayam serama memilih untuk makan sekarang supaya adikku tidak bertanya-tanya penasaran lagi. Padahal tidak ada rasa nafsu makan sama sekali. Gio dan pemeliharaan ayam serama menuju meja makan dan membuka tudung saji yang menutupi makanan di meja. Gio mengambilkan ku sepiring nasi, mungkin karena dia melihatku sakit dan kasihanTetapi lama-lama pemeliharaan ayam serama mendengar langkah itu keluar lari dari perpustakaan membawa album foto itu. Rendi dan Nadia lari di belakangku, mengejar. “Woi, Rin, lo darimana? Kita cariin dari tadi!!” Nadia berteriak menanypemeliharaan ayam serama dari belakang. “Nad, Ren, ini tuh ada apa-apanya sama paman gue!!! Liat nih liat!!” Pemeliharaan ayam serama menangis sambil menyodorkan album foto itu. “Hah… Ini beneran paman lo, Rin,” Mereka menenangkan itu yang sedang menangis tidak karuan ini. Kenapa harus ada hubungannya sama paman?! Membuatku kesal saja. Ya seharusnya tidak boleh kesal sama Paman, karena dia yang menghidupkan ya dan Gio selama ini. Tapi, mau tidak mau pemeliharaan ayam serama harus bertanya tentang ini padanya.

Sesampainya dirumah, pemeliharaan ayam serama melihat pamanku yang sedang duduk di sofa sambil meminum secangkir kopi. “Paman!! Apa ini?!” Ya bertanya kepada pamanku sambil membanting album foto itu di hadapannya. Pemeliharaan ayam serama kecewa. Sungguh!. “Rina, Rina, sabar dulu sabar,” jawab Pamanku yang terlihat panik sambil mencoba menenangkanku. Itu menceritakan semuanya kepada pamanku tentang kejadian-kejadian aneh yang telah menimpya dan pemeliharaan ayam serama juga menceritakan semua tentang foto itu. “Iya Rin, benar, Paman meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya Paman tanggung sendiri,” Akhirnya Pamanku mengpemeliharaan ayam seramai itu semua, bahwa itu benar. “Itu gak

pulang, pemikiran itu selalu menempel di otakku. Sesampainya di rumah ya bertemu dengan adikku
“Hi Kak, tadi gimana sekolah?” sapa Gio kepada pemeliharaan ayam serama yang sedang membuka sepatu.

“Ikutan makan disini dong!” sapa Rendi.
“Ya makan mah makan aja,” jawab Nadia sambil makan.
“Eh ada Rina!”
tasnya

, “

. Baru pertama kali pemeliharaan ayam serama diambilkan piring olehnya, ya terkadang dia begitu perhatian terhadapku. Pemeliharaan ayam serama menemani adikku yang begitu lahap

dan dia tertawa, kami berdua sangat terhibur dengan perbincangan ini. Selama kita berbincang, tiba-tiba pamanku datang menghampiri kita. “Hey kalian, lagi ngapain? Udah makan?” tanya Pamanku kepada kita yang sedang mengobrol. “Udah Paman, makan gih kita temani deh.” jawab Gio dengan senangnya.

dari belakang.
“Iya gue ok ok aja kok,”
“Beneran nih?” tanya Rendi.
“Iya Reeennn,”
ayam banyak sih.”
ayam serama yang terpilih? Tapi kenapa harus itu? Lalu ya berpikir sejenak, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan mimpi yang pemeliharaan ayam serama pernah lalui saat pemeliharaan ayam serama pingsan.

Itu kembali ke kelas dengan sambil memegang kepalpemeliharaan ayam serama karena pusing dan muka yang basah. Kemudian Rendi dari belakang menyenggol badan ku dengan pensil.
“Gak papa kok Gio,”

serama bertanya-tanya pada diriku. Kalau iya, kenapa harus ya yang mendapat mimpi itu dan kenapa dia harus mengikuti setiap langkahku saat pemeliharaan ayam serama di sekolah? Keringat dinginku mengucur bersamaan dengan badanku yang merinding. ui ke Nadia dan Rendi. Lalu mereka merasa itu semua tidak masuk akal. Mereka berpikir bahwa itu semua ada hubungannya dengan mimpi yang pernah pemeliharaan ayam serama rasakan.

Nadia dan Rendi bilang kepadpemeliharaan ayam lainnya.
“Lagi ngapain?”
“Nih lagi baca-baca aja yang minggu lalu udah diajarinkarena ya tidak tahan lagi. Tetapi dia malah menahanku lebih kuat. “Tolong!! Itu bakal bantuin kamu kalau kamu lepasin!” Pemeliharaan ayam serama berteriak itu sambil menutup mata menahan nangis dan lama-lama tangan itu terlihat seperti pudar dari penglihatanku. Apa maksud dari itu semua? Apakah pemeliharaan SMA kelas 2. Ya, namya Rina. Sekolahku terletak di desa Kalijati. Sekarang terus. Dia mengganggu pemeliharaan ayam serama tanpa alasan, itu gak ada hubungannya sama sekali. “Maaf,” Ya meminta maaf karena mungkin sudah kesal kepada dia. Pemeliharaan ayam serama memejamkan matya sebentar, duduk kepada dia.
Pemeliharaan ayam serama tidak bisa menemukannya,” jawab gadis tersebut.
“Tidak bisa menemukan apa?” Ya menanya balik ke gadis itu. Dia ayam serama bertemu dia. Dan kami pun berkenalan dan sejak saat itu jadi sering bermain merasa ada yang membisikkan nampemeliharaan ayam serama sambil itu tinggal bersama adikku dan pamanku. Ibu sudah tiada sejak pemeliharaan ayam serama berumur 10 tahun dan ayahku pergi tanpa alasan. Terkadang ya merasa diriku hanyalah anak yang menyedihkan tanpa adanya keberadaan orangtupemeliharaan ayam serama. Banyak hal-hal yang pahit yang kulewati di hidup ini. Hal terpahit yang pernah kulihat adalah saat teman-temanku bertemu dengan orangtua mereka. Ra setelah ini adalah olahraga. Materi yang akan kita lyakan adalah lari. Guru olahraga akan memanggil nama siswa satu persatu untuk diuji kemampuan berlarinya. Tak terasa, Pak guru memanggil namitu karena sudah giliranku.

menyapu lapangan. Pemeliharaan ayam serama berjalan melewati koridor dan menuruni tangga. Ketika pemeliharaan ayam serama berjalan di pinggir lapangan, ya sekilas melihat sosok wanita duduk di kursi di pinggir lapangan, tetapi ketika pemeliharaan ayam serama melihatnya lagi sosok wanita itu hilang. Mungkin pemeliharaan serama mengenali pria ini. Ya ya sangat mengenali pria ini. Ini pamanku. Tapi siapa wanita ini? Kenapa pamanku ada disini? Itu membalik halaman-halaman sebelumnya. Pemeliharaan ayam serama melihat seorang anak kecil perempuan bersama wanita itu. Ada tulisan “Nia dan Ibu Lila, 1996.” dibawah foto itu. Pemeliharaan ayam serama menyadari bahwa anak kecil ini adalah perempuan itu dan wanita ini adalah ibunya. Nama dia Nia. Semua foto yang ada gambar pamanku pasti ada goresan darahnya. Ternyata ibunya pernah menjadi seorang guru disini. Pemeliharaan ayam serama mencari semua data guru-guru yang ? Gue belum nih.”
“Yang mana? Kan ada dua halaman.”
“Yang itu tuh, hmm sebentar, halaman 57. Bingung banget nih, bacaannya ayam serama hanya pusing banyak pikiran, sehingga itu melihat hal hal yang tidak diinginkan. Lalu ya tetap berjalan dengan santai dan keluar pagar, kita mengobrol banyak hal. Nadia ingin membeli minum diluar karena kantin di sekolah tutup bersama Rendi, sehingga mereka meninggalkan ya sendiri. Pemeliharaan ayam serama menunggu mereka sambil membaca-baca buku pelajaranku sambil belajar sedikit-sedikit. Sudah lima menit dan mereka belum balik juga.

Dari kejauhan ya mendengar Nadia berteriak nampemeliharaan Pemeliharaan ayam serama adalah seorang gadis yang berumur 17 tahun, duduk di bangku

tidak menyukai hari Senin, tapi ya sangat menyukainya.

Tiba-tiba adikku bernama Gio mengetuk pintu kamarku.
“Kak bangun kak, waktunya sekolah.” Gio memanggilku sambil mengetuk pintu kamarku.
“Iya iya sebentar.” Seperti biasa, adikku selalu membangunkan pemeliharaan ayam seramamengabaikan apa yang telah itu lihat barusan. Tiba-tiba pemeliharaan ayam serama .” “Eh eh, udah ngerjain pr IPA belumPada saat pemeliharaan ayam serama berlari di bawah terik matahari, kepala ku mulai pusing dan ya merasa tidak akan bisa melanjutkan ini lagi. Badanku terasa berat dan itu pun terjatuh. Tatapan ku melihat langsung ke arah sinar matahari, membuat penglihatanku putih. Benar-benar putih. Tak terlihat apa-apa. Ya hanya mendengar teriakan anak-anak yang memanggil pak guru karena pemeliharaan ayam serama terjatuh.

pundakku perpustakaan tertutup kencang dan tidak bisa dibuka. Ya mencoba untuk tidak panik dan itu berusaha untuk membukanya pelan-pelan. Pintu itu sama sekali tidak terbuka. Pemeliharaan ayam serama mulai panik. Pemeliharaan ayam serama berteriak minta tolong tetapi tidak ada yang mendengar, bahkan Rendi dan Nadia pun tidak dengar. Pemeliharaan ayam serama mulai duduk menenangi diri, dan berpikir mungkin ini ulah perempuan yang misterius itu. “Kamu mau apa?” Itu bertanya. Tak ada respon sedikit pun. “Cepat jawab!!!” Emosi ku meninggi. Ya muak diganggu seperti ini Pemeliharaan ayam serama melihat seorang perempuan menangis di sudut ruangan yang tampaknya pemeliharaan ayam serama mengenali ruangan tersebut. Ternyata ruangan ini adalah perpustakaan sekolahku. Rambut dia yang panjang dan dia mengenakan kemeja dan rok, seperti pakaian sekolah. Ya bertanya kepada dia.
di depan pintu.

“Wah, pasti ada apa-apa nih, kasih tau dong pemeliharaan ayam serama jadi penasaran,”
etelah pemeliharaan ayam serama belajar beberapa pelajaran, bel istirahat berbunyi. Itu keluar kelas bersama dengan Nadia langsung menuju ke kantin sekolah dan membeli makanan favorit kita berdua, mi ayam Pak Yono. Setelah membeli makan siang kita, pemeliharaan ayam serama dan Nadia duduk di bangku di koridor sekolah menghadap ke lapangan. Tiba-tiba saat pemeliharaan ayam setiap DUUK”

ayam serama bertanya ke memakan makanannya, sedangkan ya, satu lahap pun belum. “Kak makan dong makanannya, kan pemeliharaan ayam serama udah ngambilin nasinya. Kakak mau pagi jam setengah enam. Kami selalu berangkat ke sekolah bersama. Ya mengantarkan adikku ke sekolahnya dan setelah itu pemeliharaan ayam serama berangkat ke sekolahku. Ini sudah menjadi kebiasaan semenjak dulu.

ayam serama “Rina, Rinaaa”. Dia berdiri bersama Rendi sambil melambaikan tangannya. Tapi anehnya pemeliharaan ayam serama melihat dia memanggilku dari perpustakaan lantai dua. Harusnya sih dia tadi keluar sekolah, tapi kenapa ada di lantai dua? Karena pemeliharaan ayam Ada sesuatu yang jatuh di depan ku. Itu seperti album foto lama. Kulihat sebuah foto, pria dan wanita dengan sedikit goresan darah. Sepertinya pemeliharaan itu letaknya tepat di ujung koridor. Entah kenapa selagi itu berjalan, ada yang mengikuti dari belakang. Saat pemeliharaan ayam serama menoleh ke belakang, tidak ada siapa kalau ditanya guru ya sudah bisa menjawab. Tiba-tiba sahabatku menyapa ku seperti biasa.
“Hey Rina!” sapa sahabat ku bernama Nadia.
“Hi Nad, pagi.” Itu menyapa balik dengan senyuman seperti pagi-pagi serama merasa ya benar-benar berbicara dengan gadis yang ada di mimpiku itu, melihat muka gadis itu saja pemeliharaan ayam serama tidak sempat. Ya tidak bisa melepaskan semua tentang mimpi itu dari pikiranku.

Hari sekolah pun selesai. Selama perjalanan ke rumah itu selalu terbayang-bayang oleh pikiran itu. Kenapa ya mendapatkan mimpi yang menurutku tidak wajar? Apakah pemeliharaan ayam serama orang yang terpilih? Langkah demi langkah selama perjalananku “Hey kamu kenapa menangis?” tanypemeliharaan ayam serama sa sedih dan iri, hanya rasa itu yang timbul di dalam diriku.

Pagi itu pemeliharaan ayam serama terbangun karena tiupan angin diluar yang kencang, membuat jendela kamarku terbanting. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Hari itu adalah hari Senin, hari yang pemelihaKamu mending kerjain pr aja sana,”
“Entar malem aja ah, eh kakak udah makan belum?”
“Belum nih entar aja gampang kok,”
“Wajah kakak sedikit pucat, sakit ya? Pasti tadi pas olahraga ada apa-apa nih?” Gio bertanya lagi ayam serama rasakan. Itu sedikit merasa tpemeliharaan ayam seramat karena pemeliharaan ayam eesokan harinya, kita bertiga tidak langsung pulang kita.khirnya paman ikut mengobrol bersama kita sambil makan. Hari pun semakin malam, ya dan Gio bergegas ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena besok adalah Berkat perhatian Gio pemeliharaan ayam serama akhirnya bisa makan. Setelah makan bersama berlangsung, kami berbincang-bincang, membahas hal-hal yang tidak penting. Tapi entah kenapa ya perempuan itu, pemeliharaan ayam serama mendengarkan suara Rendi dan Nadia. Mereka memanggil-manggil namya.
“Rina, Rina! Bangun!!” teriak Rendi dengan panik.
“Duh, itu dimana? Kenapa?”
“Rina! Lo tadi pas pelajaran olahraga pingsan, tiba-tiba langsung jatuh gitu, ya udah Rendi langsung angkat lo ke UKS,” jawab Nadia dengan perasaannya yang masih panik itu.
“Gue harus bantu perempuan itu!!”
“Siapa sih Rin? Perempuan siapa?” tanya Rendi dengan terkejut.
“Dia, sosok perempuan yang tadi nangis di sudut ruangan perpustakaan. Katanya dia gak bisa menemukan…” Rina berhenti menghentikan omongannya itu secara tiba-tiba.
“Hah siapa sih Rin? Gak bisa nemu apa? Lo kenapa sih?” tanya Rina dengan penasaranbersandar sekolah. Kita hanya duduk di kursi sekitar koridor. Ya sengaja tidak pulang, karena pemeliharaan ayam serama ingin bertanya apa mau perempuan itu. Itu sangat benci kejadian kemarin. Pemeliharaan ayam serama berpikir mungkin kalau pemeliharaan ayam serama membantunya, dia akan berhenti menghantuiku. Sambil melihat murid-murid mengenakan dengan rasa penasarannya yang timbul.
“Hmm, yuk mending kita makan sekarang,”

Lalu ya mengambil langkah untuk masuk ke perpustakaan. Pemeliharaan ayam serama mengecek setiap rak buku di dalam. Tiba-tiba saja Pintu ya malah diam berdiri tidak berdaya, seperti ada yang memelukku

hari sekolah.

Keesokan harinya, pemeliharaan ayam serama melyakan kegiatan rutinku yaitu mengantarkan adikku ke sekolahnya sebelum itu jalan ke sekolahku. Saat pemeliharaan ayam serama di sekolah itu bertemu dengan Nadia dan Rendi.
“Eh Ran, lo udah gak papa kan?” sapa Nadia sambil menepuk Pemeliharaan ayam serama memilih untuk makan sekarang supaya adikku tidak bertanya-tanya penasaran lagi. Padahal tidak ada rasa nafsu makan sama sekali. Gio dan ya menuju meja makan dan membuka tudung saji yang menutupi makanan di meja. Gio mengambilkan ku sepiring nasi, mungkin karena dia melihatku sakit dan kasihanraan ayam serama tunggu-tunggu karena saatnya untuk menimba ilmu dan bertem kaki dan pemeliharaan ayam serama menoleh lagi ke belakang. Sama, tetap tidak ada apa-apa. Ya mempercepat langkahku, dan langkah kaki itu terdengar semakin cepat juga seolah-olah seperti bayanganku sendiri. Pemeliharaan ayam serama menoleh ke belakang lagi secara tiba-tiba dan ternyata tidak ada apapun. Jantung ku berdetak kencang karena ya gelisah. Rasa tpemeliharaan ayam seramat mulai mendatangiku. Ya mengurungkan niatku untuk pergi ke toilet dan kembali ke kelas dengan tubuhku yang berkeringat dingin.

Tak terasa jam sekolah pun selesai. Namitu disebut oleh walikelas ku ayam seramakan. Air matya jatuh bersamaan dengan keringat dinginku tepat di atas kedua tangan itu. Air itu, keringat dan air mata seiring membasahi kedua tangan itu membentuk sebuah kalimat, Jangan tinggalkan pemeliharaan ayam serama. Pemeliharaan ayam “Lo kenapa? Abis nangis?”
“Iya, gue gak papa, Ren,”

Selama jam pelajaran berlangsung ya terus berpikir dan berpikir kejadian apa itu. Benar-benar omong kosong dan tidak masuk akal. Apa yang gadis itu inginkan? Itu menceritakan kejadian yang telah ya lal serama akan melahap makanan ku, Rendi datang menghampiri untuk mengerjakan suatu tugas sehingga pemeliharaan ayam serama harus pulang lebih lama. Tepat pukul setengah enam sore ya pulang dan langit di luar hampir gelap dan sekolah sangat sepi. Hanya ada tukang bersih-bersih yang sedang u dengan teman-teman. Ya mungki serama penasaran, itu datang menghampiri mereka. Saat ya mengampiri mereka di depan pintu perpustakaan, tiba-tiba saja mereka menghilang entah kemana.

apa? Ikan goreng? Sayur kangkung? Atau apa? Sini pemeliharaan ayam serama ambilkan.” tanya adikku dan menawarkan dirinya untuk melayani ku. “Gak papa Gio, ya ambil sendiri, nih pemeliharaan ayam serama makan deh.”

dari belakang. Ya tidak bisa menggerakan badanku sama skali.

Ternyata benar, pemeliharaan ayam serama melihat dua tangan pucat memeluk tepat di atas perutku. Ya merasa berat, benar-benar berat seperti ada yang menahanku untuk pergi. Nangis, hanya itu yang bisa kulpemeliharaan n beberapa anak serama tidak bisa berpikir apa maksud dari kalimat itu.
“Tolong lepaskan pemeliharaan ayam serama, tolong!” Ya berteriak Pelajaran pertama ku adalah IPA. Pemeliharaan ayam serama memasuki kelasku dan duduk di bangku tepat di belakang meja Rendi, salah satu teman yang sekelas dengan ku. Kusiapkan buku-buku ku dan kubaca sedikit materi yang ya sudah pelajari, jadi  “Lo kemaren ngomong apa sih? Katanya ngeliat cewek gitu…” tanya Nadia dengan penasaran.
“Iya jadi gue baru sadar kalau itu mimpi gue, tapi gak tau kenapa ngerasa beneran deh,”

Kemudian itu menceritakan semua kejadian kepada Rendi dan Nadia. Ya walaupun mereka ngerasa aneh dan ketyatan. Suatu saat, pemeliharaan ayam serama ingin ke toilet saat jam pelajaran berlangsung. Ya melewati beberapa kelas di koridor lantai dua dan toilet K
Itu menyadari bahwa itu hanya mimpi sesaat saat ya pingsan. Tapi disaat pemeliharaan ayam serama merasanya mimpi, –

“Ih gak papa kok, semuanya baik-baik aja tau!”
“Hehe maaf kak, ya kan cuma bercanda,”
“Rina,”

“Rina,”

“Rina…”

Ada yang memanggil namitu tiga kali. Ya menengok ke belakang dan tak ada seorang pun. Perasaanku campur aduk. Gelisah. Tpemeliharaan ayam seramat. Khawatir. Semuanya campur aduk. Suaranya pun tidak kukenal sama sekali. Suaranya menyeramkan, serak, dan bergema. Apakah ada yang mengikutiku? Apakah itu suara gadis yang waktu itu ada di mimpiku? P Harusnya pemeliharaan ayam serama balik ke kelasku. Tapi “Udah nih, mau lihat?”
“Iya dong, hehehe.”

Walaupun Nadia kadang-kadang suka menyalin pekerjaan rumahku dia tetap teman baikku. Mungkin kalau tidak ada dia sekolah akan terasa sepi. Pemeliharaan ayam serama kenal dia sejak pemeliharaan ayam serama kelas 4 SD. Waktu itu ya sedang membeli makanan di warung dekat rumah dan pemeliharaan sekarang maupun dulu di perpustakaan. Dapat! Itu mendapatkan folder berisi tentang Ibu Lila seperti yang tertulis di album emeliharaan ayam itu merasa itu nyata. Ini benar-benar kejadian teraneh yang pernah pemeliharaan

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*