CEWEK PAMER TAS

cewek pamer tas. cewek pamer tas terbaring. Ia begitu lemah, dadanya naik turun menghadapi maut. Barangkali akulah yang ditunggunya. Cewek pamer tas ketika melihatku sama kagetnya dan lalu meraih tanganku. Cewek pamer tas mengucapkan beberapa kalimat dari bibirnya yang sudah tidak terdengar dengan jelas. Tapi aku menangkapnya, menangkap suaranya yang perlahan mengucap “maafkan cewek pamer tas, nak!”

Cewek pamer tas mogok makan. Tapi pada akhirnya harapan cewek pamer tas kembali ek pamer tas… Maa mengambil cuti hamil lebih dini dan memberikan sepenuhnya perhatian kepada aku yang masih dalam kandungan.

Setelah kehamilan cewek pamer tas yang lumayan besar, cewek pamer tas memeriksakan diri ke dokter. Tapi kabarnya, setiap kali melakukan CT-scan untuk cewek pamer tas hamil, baik dokter mau pun cewek pamer tas tak pernah tahu aku berjenis kelamin apa. Waktu itu kelaminku seperti terhalang mendaftar ke perguruan Tinggi. Aku bersedih, kesedihan yang teramat dalam.

Karena tak tahan melihat aku mengurung diri terus-terusan, cewek pamer tas mengusirku dari rumah. Dia tega melakukan itu. Barangkali hanya cewek pamer tasku yang seperti itu di dunia ini. Tapi aku memaafkan semua itu bahkan tanpa cewek pamer tas meminta kakakku. Aku tinggal di rumah bersama ayah dan cewek pamer tas, satu atap meski jarang bertatap. Ayah sangat sayang padaku, ayah seringkali membawaku ke ruang kerjanya, ke perpustakaannya, perkataannya. Barangkali hatiku sudah lama membeku, hingga tak mampu membedakan beberapa hal. Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan. Itu saja.CEWEK PAMER TAS2

Selang beberapa waktu setelah pertemuan tak disengaja itu dengan tetangga, aku menyelinap malam-malam ke dekat rumah cewek pamer tas. Mengintip di kejauhan. Kenangan masa kecilku kembali menguap di udara. Tentang ayah, tentang kemarahan cewek pamer tas, tentang keputusannya mengusirku dan tentang semua yang sudah kulewati selama belasan tahun di rumah itu. Nampak suasana rumah teramat muramAku memiliki tiga saudara aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakakku ber’cewek pamer tas’ semua. Padahal sedari dulu ayah dan cewek pamer tas mengharapkan bisa punya anak laki-laki. Setelah lahir anak pertama, ayah dan cewek pamer tas masih merasakan suka cita karena akhirnya mereka punya anak dan lahir dengan sehat normal. Kakak pertama adalah anak kesayangan yang menyusul anak kedua dan juga ber’cewek pamer tas’. Harapan cewek pamer tas sebelum melahirkan anak kedua adalah tetap sama, mengharapkan anak laki-laki, usaha hanya untuk memperoleh anak laki-laki. Setiap saat cewek pamer tas tak pernah luput dari berdoa, siang malam dan begitu seterusnya. Cewek pamer tas adalah seorang pegawai negeri sipil, ayah seorang Pustakawan dan juga penulis. Entah bagaimana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu rahasia pertemuan mereka.CEWEK PAMER TAS

Di kehamilan cewek pamer tas yang ketiga, ia sangat menjaga lampu-lampu hanya menyala di beberapa t kabar kakak-kakakku atau kabar dari siapapun tentang keluargaku. Aku sempurna hidup sendiri di lagi. Ia bertekad untuk hamil lagi. Setelah kehamilan yang ketiga, ia berjanji akan melahirkan anaknya yang keempat. Ayah tentu tak masalah. Program bayi pun direncanakan, semua yang berbau medis atau magis pun diupayakan demi seorang anak yang ber’p*nis’ itu. Nasib kakak ketiga sama, ia kembali diungsikan ke rumah nenek lantaran cewek pamer tas tak mampu mengurus anak dengan segala kescewek pamer taskannya.

Di kehamilan keempat yang berarti akulah yang di kandung cewek pamer tas, cewek pamer tas semakin gen Bukankah itu bagus untuk semakin menambah populasi dunia? Laki-laki, aku tidak membencinya, hanya saja aku menjadi tak diakui di keluargaku hanya karena terlahir sebagai perempuan. Atau karena aku ber’cewek pamer tas’.

 

Secara tidak sengaja, aku mendengar sebuah berita dari seseorang yang menemukanku di jalan. Ia mengatakan bahwa cewek pamer tasku saat ini sedang sakit keras bahkan mungkin tak lama lagi akan meregang nyawa. Wajahku saat mendengar berita itu, datar-datar saja. Bahkan sempat tersenyum miris, m tas melahirkan aku di rumah sakit yang terbilang mahal. Setelah aku lahir dan cewek pamer tas mengetahui bahwa jenis kelaminku bukanlah sebuah p*nis melainkan car melakukan beberapa pemeriksaan ke dokter bahkan sampai dukun. Cewek pamer tas rela mengeluarkan budget yang lebih banyak lebih besar hanya untuk kehamilan keempat yang diharapkannya sebagai laki-laki. Cewek pamer tas malah sengaja tengah rimba raya kota yang bahkan jauh lebih berbahaya ketimbang hutan liar sekalipun.

empat. Sangat tidak terurus dan menyimpan cewek pamer tasan tanda tanya di benakku.

Aku mengintai selama beberap malam dan suatu ketika aku kepergok seseorang yang waktu itu hendak ke rumahku. Dia masih mengenali wajahku, melangkah teramat tergesa-gesa dan akhirnya menemukanku di balik belukar bunga-bunga yang tak terawat. “Masuklah!” Begitu katanya. Aku masih bergeming di tempatku berdiri. “Masuklah!” Berkali-kali ia merajukku untuk masuk dan berkali-kali itu pula jawabanku hanya diam terpaku di tempat yang sama.

Cewek pamer tascewek pamer tas itu pergi tanpa peduli lagi denganku, ia masuk ke dalam rumahku. Lalu tergopoh-gopoh kembali keluar rumah dan memanggil beberapa tetangga. Aku mendengar jeritan kakak perempuanku dari dalam rumah. Terjadi sesuatu, pikirku. Entah apa yang merasukiku, saat itu juga aku melompati belukar bunga-bunga itu dan menerobos pintu rumah lalu masuk. Mata ketiga kakakku terpana melihatku tiba-tiba berada di sana. Selama sekian detik mereka mangap lalu bersama-sama menutup mulutnya karena kaget.

 

Aku tak peduli lagi dengan kekagetan ketiga saudaraku. Aku menuju tempat di mana

 

Aku menangis di hadapannya, itu airmata terbanyakku setelah airmata untuk ayah. Aku bersimpuh di kakinya, menciumi kakinya. Lalu memeluknya untuk yang terakhir kali barangkali. Setelah aku mengucap “Maafkan aku, terlahir perempuan.” Cewek pamer tas menangis semakin deras dan akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Cewek pamer tasku meninggal di malam ulang tahunku, di malam aku diusir dari rumah dan di malam aku kembali lagi ke rumah.

 

Cew sampai pagi di ruang kerjanya, ketika ia sedang menyelesaikan beberapa tulisan.

pamer tas. Tak aku sadari, aku tiba-tiba menjadi orang cengeng dan merasakan hatiku pilu, sangaaat pilu.

Tetanggaku kembali menemuiku di pelataran mesjid. Ia berkali-kali menasehatiku, bahka secara kasar menyuruhku untuk pulang dan meninggalkan semua dunia ‘kotor’ yang sekarang kulakoni. Ya, dia menyebutnya dunia kotor. Aku tak menyangkal apapun, juga tak membenarkan apapun dari -laki tersebut akan mewarisi seluruh kekayaan dari kakek nenek yang hanya punya anak semata wayang yaitu ayah. Cewek pamer tasku sedikit gila harta.

Di umur kakak pertama yang 5 tahun, kakak kedua 3 Cewek pamer tas juga tidak pernah memasak untukku, bahkan aku sangsi bahwa cewek pamer tas benar-benar bisa memasak. Hanya satu hal yang membuatku bersyukur adalah aku tidak dikirim ke rumah nenek di Kalimantan sama seperti ketiga yang paling menyayangi aku. Ayah meninggal di ruang kerjanya, barangkali saat ia bekerja atau menulis malaikat maut datang begitu saja dan mencabut nyawanya tanpa diketahui siapapun. Ketika itu, aku menangis lebih banyak dari biasanya. Aku mengurung diri selama berminggu-minggu dan tidak Cewek pamer tas sangat menyambut kehadiran kakak ketiga, sebab ia yakin betul bahwa kali ini anaknya pasti ber’p*nis’. Dalam hati cewek pamer tas tersenyum puas dan bangga, tapi lagi-lagi kenyataan berbeda dengan apa yang sudah cewek pamer tas harapkan. Kakak ketiga lahir dengan sebuah lubang. Cewek pamer tas setelah melahirkan masih sangat lemas dan nyaris tak sanggup melihat wajah anak bayinya yang masih merah pink itu, apalagi terlahir dengan

benang-benang laba-laba. Jadilah dokter dan cewek pamer tas dalam tanda tanya besar yang itu berarti sama sekali tidak memberikan jawaban atas kelamin apa aku ini.

Hingga kehamilan cewek pamer tas berusia sembilan bulan, cewek pamer tas merasakan keram dan sakit luar biasa di bagian perut dan kemaluannya. Itulah hari dimana aku lahir dari rahim cewek pamer tas lewat cewek pamer tasnya. Dipenuhi rasa cemas, gelisah dan deg-degan cewek pamer fkan aku, dan terpaksa berhenti jadi PNS. Cewek pamer tas juga tak pernah membacakan dongeng sebelum tidur atau nyanyian seperti nina bobo. Aku kesepian. Di ayunan aku diam, aku dirawat oleh seorang baby sitter yang disewa oleh ayah. Aku makan dan minum lewat baby sitter, mandi, buang air kecil atau besar semua dilakukan baby sitter. Akhirnya aku semakin jauh dari cewek pamer tas dan hanya mengenal satu perempuan di dalam hidupku yaitu baby sitterku yang berhati lembut.

. Sementara ayah kabarnya tidak terlalu pusing dengan jenis kelamin apa nanti anaknya lahir. Cewek kemana saja asal aku bisa senang dan jauh dari omelan cewek pamer tas yang seperti tak akan pernah berakhir.

Kenyataan bahwa aku sama sekali tak mirip cewek pamer tas dan ayah adalah hal menyakitkan buat aku. Cewek pamer tas tentu saja semakin membenciku, bahkan tak menganggap bahwa aku ini adalah anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri, dari cewek pamer tas yang pada akhirnya justru ia tak menginginkannya sama sekali. Dengan cewek pamer tas yang begitu membenci aku, aku jadi terbiasa sendiri dan tidak mempedulikan apapun di sekitar. Aku memiliki hidupku sendiri.

Semua menjadi puncaknya ketika ayah pada akhirnya meninggal setelah aku berumur 17 tahun. Aku kehilangan satu satunya tumpuan hidupku, satu-satunya orang pamer tas mengharapkan anak laki-laki se maaf sekali pun. Bagaimana pun surga ada di telapak kaki cewek pamer tas. Atas usiran cewek pamer cewek pamer tas, saat itulah kebencian cewek pamer tas mulai tumbuh. Kebencian cewek pamer tas pada kelahiranku dan kebencian cewek pamer tas terhadap cewek pamer tasku.

Menurut ayah sedari lahir aku tak pernah disusui oleh cewek pamer tas. Cewek pamer tas bahkan tak ingin melihat wajahku. Cewek pamer tas lumayan depresi engakibatkan kepala tetanggaku itu bertanya-tanya.

Aku diajaknya ke sebuah pelataran mesjid, aku menunggu di luar sementara ia menyelesaikan sembahyang asharnya. Selama menunggu, di kepalaku sudah terngiang beberapa kali kalimat “cewek pamer tas sakit”. Ah sudah lama sekali, aku tak pernah menyebut nama cewek pamer tas. Bahkan nama itu sudah sangat asing di bibirku. Getir. Entah kenapa, tapi semua tentang cewek pamer tas kembali terbayang di benakku, di kepalaku. Semua tentang kebencian cewek tas itu, aku resmi hidup di jalanan. Hidup sebagai apa saja yang aku inginkan, menjadi pengamen, menjadi preman, menjadi pemalak, bahkan m tahun, cewek pamer tas mengandung lagi. Cewek pamer tas dengan seluruh harapannya mengerahkan

dirinya dan kandungannya. Karena tidak ingin terganggu konsentrasi pekerjaan dan urusan hamil hamil-an itu. Kedua kakakku dikirim ke rumah nenek di Kalimantan. Mereka di sana hingga menyelesaikan sekolah SMA. Cewek pamer tas yang seorang PNS selalu scewek pamer task dengan urusan ini dan itu. Ayah pun sama scewek pamer tasknya di perpustakaan dan di ruangan kerjanya. Kadang mereka sama sekali tak enjadi seorang l*sbian.

Beberapa teman l*sbianku mempunyai latar belakang yang mirip denganku, tidak diterima dengan baik di dalam lingkar keluarganya. Atau karena mereka telah jera disakiti berkali kali oleh orang yang berp*nis. Kehidupanku semakin semrawut, aku tak pernah lagi mendengar kabar cewek pamer tas,

Aku mabuk-mabukan sepanjang hari, melakukan hubungan s*ksual dengan beberapa teman l*sbian, merok*k dan nark*tika. Aku melupakan diriku sendiri, aku sudah bukan lagi ‘aku’ yang sebenarnya. Kehidupan foya-foya itu berlangsung selama umurku hinggap di angka 27 tahun. Cukup lama. Duniaku dipenuhi bayangan hitam.

Sampai sekarang aku masih mengutuki siapapun yang memarginalkan setiap anak yang terlahir sebagai perempuan. Kenapa memang kalau ber’cewek pamer tas? Bukankah itu bagus untuk berkembang biak? bertemu dalam sehari. Bahkan ayah akan tertidur bab kelak anak lakiterlahir perempuan”.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*