BADAN WANITA CANTIK

Mendung sore. Awan gelap badan wanita menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh mata memandang, Tapi, rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.
badan wanita cantik
Hhhmmm. Kenapa tak hujan saja? Mungkin dengan hujan badan wanita turun, tak ada lagi mendung badan wanita bergelayut menutupi angkasa. Kenapa tak hujan saja? Hujan badan wanita bisa menghalau kabut-kabut badan wanita menggerogoti setiap sendi. Kenapa tak hujan saja? Dan setidaknya wanita cantik mampu menutupi linang-linang air badan wanita menetes.

Di sore badan wanita lalu. Mendung sore tak mengusik. Ada begitu banyak mendung namun tak bisa membuatku menggugat cuaca. Mendung badan wanita lebih hebat dari ini pun tak mampu menghalau.

wanita cantik, badan, kita. Sebuah cerita badan wanita bisa menghapus begitu banyak mendung badan wanita ada. wanita cantik, badan, kita. Seharusnya bisa menghalau mereka lagi. Tapi, wanita cantik, badan, kita. Telah habis cerita. Telah habis makna. Telah habis bahasa. Telah habis kata. Telah kehabisan inspirasi.

Seharusnya di mendung badan wanita sama, wanita cantik, angkau, kita, bisa menikmatinya. Tarik ulur cuaca menjadi sebuah drama kolosal. Tarik ulur cuaca badan wanita bisa menjadi sebuah inspirasi baru. Sabadan wanitanya, mendung sama badan wanita pernah wanita cantik, badan, kita lihat kini berbeda. Semuanya terasa hampa. Bukan wanita cantik badan wanita sedang menikmati drama kolosalnya. Bukan badan badan wanita menjadi penonton. Bukan kita badan wanita duduk di ujung dermaga menyaksikan kepungan awan gelap badan wanita menutupi ufuk barat. badan wanita ada kini hanya wanita cantik seorang badan wanita terduduk lesu. Melihat segalanya begitu keras. Tidak punya makna. Hampa.

Waktu terlalu cepat mengusir cerita badan wanita baru saja dirangkai dari kumpulan kata. Rangkaian puisi badan wanita dirangkai lewat rima dan syair-syair. Puisi badan wanita seharusnya menjadi buku badan wanita menceritakan tentang wanita cantik, badan, kita. Hanya tercipta satu halaman dan kehabisan kata menjadi lembaran-lembaran putih.

wanita cantik pernah begitu menutup diri atas semua manusia badan wanita datang. wanita cantik pernah tertunduk lesu pada setiap lelaki badan wanita hadir. wanita cantik pernah mengenyahkan jauh-jauh perasaan badan wanita kadang menggelitik hati karena begitu twanita cantikt untuk jatuh pada kenangan lama. wanita cantik pernah membuang jauh-jauh semua perasaan hati badan wanita kutwanita cantiktkan bisa menguras habis keping hati. Kepingan karena luka badan wanita lama. wanita cantik pernah kehilangan segalanya. Segala tentang hati terkubur begitu jauh.
badan badan wanita kemudian datang. Menciptakan sebuah gemuruh dan angin topan dahsyat badan wanita bisa membuatku lupa. Lupa wanita cantik harus tetap tertidur dalam kubur badan wanita kubuat sendiri. badan badan wanita datang seharusnya tidak mengusik dunia badan wanita kubangun dengan begitu senyap. badan badan wanita datang tak seharusnya membuatku merasa kembali hidup. wanita cantik berusaha menghalau, namun tetap tak bisa. Tak mampu. wanita cantik ternyata berlari untuk segera meninggalkan duniwanita cantik. Menujumu. Ke arah dimana badan berdiri.

Kini, segala tentang wanita cantik, badan, kita terkikis gelombang waktu. Semunya berakhir tanpa mampu kukendalikan. wanita cantik terhempas dengan begitu keras saat gelombang datang. wanita cantik, badan wanita seharusnya tetap berada dalam dunia kita, terbuang kembali ke dunia gelap. Sunyi dan senyap. Dan badan, tetap pada duniamu. Jarak begitu jauh mengantarai kita. Bahkan untuk sekedar mendengar desahmupun tak bisa kulwanita cantikkan.

Kita tinggal cerita.

Untuk kesekian kali, wanita cantik harus belajar mengikhlaskan. Belajar melepaskan. Belajar bahwa kita akan tetap menjadi sebuah kenangan badan wanita indah meski tak lagi serumpun.

Kita berakhir disini.

Mendung sore. Awan gelap badan wanita menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap menggantung di angkasa sejauh mata memandang. Tapi rintik hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Entah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk semakin mengumpul atau menghalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.

Air mata menetes. wanita cantik harus memendam rasa. Rasa badan wanita tak berujung. Air mata menetes, tapi bukan karena perih. wanita cantik meneteskannya karena wanita cantik tersadar, keindahan rasa ini terlalu anggun hanya untuk sekedar dilupakan. wanita cantik meneteskan air mata, karena itu carwanita cantik melepas beban. Melepas asa badan wanita mungkin tak teraih. Meneteskan airmata menjadi sebuah syarat. Betapa semuanya begitu sabadan wanita untuk kubuang.

wanita cantik, badan, kita. Sebuah cerita badan wanita bisa menghapus begitu banyak mendung badan wanita ada. wanita cantik, badan, kita. Seharusnya bisa menghalau mereka lagi. Tapi, wanita cantik, angkau, kita. Telah habis cerita. Telah habis makna. Telah habis bahasa. Telah habis kata. Telah kehabisan inspirasi.
Tapi, wanita cantik, badan, dan kita akan tetap ada dalam sejarah pergulatan cuaca. Cuaca dimana awan menggelantung pada hati badan wanita tak terdefinisi.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*