UCAPLAH SELAMAT SORE DAN TERSENYUMLAH

Sore itu, diantara panas terik mentari yang membakar ubun-ubun kepala, masih ada saja orang yang berani membakar dirinya. Seorang kernet bus mahasiswa sedari tadi berteriak-teriak mencari calon penumpang. Tentu saja, matanya menyasar tepat pada aku dan beratnya tas punggungku yang baru tertangkap radar penumpangnya. Dengan sigap ia melambaikan tangannya ke arahku sambil menampar-nampar badan bus menggunakan tangannya, membuat bus itu seolah-olah akan segera berangkat dan hanya menunggu diriku seorang, sebuah trik kuno yang tak mempan lagi untukku, jika mau pergi silahkan, jika mau menunggu maka aku tak ingin terburu-buru.

Libur satu hari aku habiskan untuk menyelesaikan semua urusan di Palembang hari ini. Lumayan banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, sedari pagi hingga siang mondar-mandir ke sana-sini. Bengkel, bank, toko buku, toko komputer dan menemui orang yang dulunya penting. Sayangnya tidak semua tugas terselesaikan, masih harus terus menunggu lagi hingga semua beres, mudah-mudahan libur sekali lagi semua akan beres.

Aku yakin tangan si kernet bus lumayan merah meradang karena terus- terusan menampar bodi bus yang mengelupas usang itu, apa boleh buat, badanku sudah berteriak kelelahan, tak sanggup untuk berjalan lebih cepat dari ini. Ternyata kernet bus itu jauh lebih penyabar dariku, hingga akhirnya aku berhasil disedotnya ke dalam kotak pandora itu. Baru saja aku menaiki bagian belakang bus, aroma panas langsung menyambutku, terlihat jelas oleh kedua lobang hidungku bahwa ini adalah aroma keringat yang bercampur dengan aroma pasar ikan, pasar sayur, gas knalpot, Carrefour, Breadtalk, dan aroma keringat yang menempel lebih dari 24 jam (baca: belum mandi). Bukan hanya udara panas dan aroma nano-nano yang menyambutku, masih ada satu lagi, suara tangisan dari anak yang duduk di bangku paling belakang. Meraung-raung berteriak-teriak, mengalahkan suara bus itu sendiri. Ibunya yang sedari tadi mendiamkannya dibuat tak berdaya. Apa pasal? Ternyata balon yang dibelinya terlepas dari tangan, jatuh keluar mobil dan pecah. Apa daya, tak ada balon lagi di tempat itu. Anak itu terus menangis, terus saja menangis…

Satu buah bangku kosong tersisa, untungnya. Aku tolehkan kepalaku ke depan dan belakang, jangan-jangan ada orang yang lebih butuh kursi ini dari diriku, tetapi ternyata memang hanya aku seorang yang begitu beruntung untuk duduk di sebelah perempuan cantik. Dengan earphone yang menempel di telinga dan hape qwerty buatan Cina, ia sama sekali cuek dengan sekitar, termasuk dengan pemuda tampan yang duduk di sebelahnya ini. Hanya menatap sebentar, terus melepaskan pandangannya menembus jendela kaca.

Hal yang ditunggu akhirnya datang juga, mobil mulai bergerak, perlahan tapi pasti,agak pelan, kurang pelan, tetapi tidak pernah cepat, dan memang kecepatan mobilnya tidak jauh dari itu, kurang pelan. “Ahh biarlah, yang penting sampai, tak akan selamanya naik bus terus, jadi nikmati sajalah” ujarku sambil mengkhayal sedih pada kondisi si roda empat yang masih sakit. Dan si anak kecil masih terus menangis. Sopir sangat sadar seratus persen jika ada seorang anak kecil bermasalah di dalam mobilnya dan ia menyelesaikannya dengan cara mudah. Membesarkan volume lagu yang diputar di dalam bus. Tetapi si anak tidak mau kalah, semakin besar volume yang diputar, semakin besar pula kekuatan tangisnya. “Haahh… anak kecil diladenin.”

Baru kira-kira seratus meter perjalanan, bus berhenti, masuklah seorang nenek renta, bersama seorang cucunya yang menurut perkiraanku umur cucunya itu sekitar 5-6 tahun (*berdasarkan pengalaman klinik, hehe). Nenek itu membawa tiga buah kantong kresek besar yang terisi penuh. Dengan segala upaya, dibantu oleh sang kernet yang penyabar dan baik hati, akhirnya sang nenek bisa naik dan berdiri di koridor bus. Mata nenek menatap nanar ke arah kanan dan kiri mencari kursi kosong, sementara cucunya berpengangan pada tiang belakang bus. Aku belum beranjak, berharap ada pemuda yang lebih baik hati daripada diriku ini untuk seikhlasnya memberikan tempat duduknya. Tetapi tidak ada, heran, apakah manusia baik hati sudah habis di dunia ini? Apakah semua tega melihat nenek tua ini berdiri memegang kantong kresek tebalnya? Sang kernet kemudian menyuruh sang nenek melepaskan kantong kreseknya dan meletakkannya dibawah kursi penumpang saja, tetapi sang nenek menggeleng, ia bersikeras untuk mengaitkan kantong-kantong kreseknya pada kedua tangannya, dan si anak kecil yang duduk di bangku ujung belakang bus masih juga menangis.

Baiklah, tampaknya aku harus menjadi pahlawan di sore ini, dengan sigap aku berdiri, mempersilahkan sang nenek untuk duduk di kursiku, biarlah, hanya berdiri selama satu jam tak akan berpengaruh apa-apa untuk fisikku. Sang nenek hanya diam saja, bahkan mengucap terima kasih lewat senyum pun tidak, mungkin dalam hati sang nenek berkata begini, “saya tidak perlu berterima kasih kepadamu anak muda, karena memang ini adalah keharusan, tetapi jika saya masih muda,belum berkerut, cantik dan engkau memberikan kursimu untukku, pastilah aku akan memberikan senyuman terima kasih untukmu.”

Sang nenek mendekati bangku itu bersama cucunya.
“Naek la cung, naeklah.” Cucunya itu menuruti kata neneknya, ia duduk manis di kursi pemberianku.
“Naek, naek nian!” perintah sang nenek lagi.
“Naek, naek nian, kakinya naik ke atas kursi, kamu berdiri di atas kursi biar mata kamu bisa liat ke arah depan agar nggak muntah selama mobilnya jalan.”

Aku terperanjat, terperangah. Tips dari nenek ini baru pertama kali ini aku ketahui, tetapi yang paling membuatku terkejut, kursi yang aku pakai tadi sama sekali tidak dipakai sang nenek buat duduk. Sang cucu berdiri di atas kursi bus, sementara sang nenek, masih tetap berdiri sambil bersandar di pinggir kursi bus dan masih juga memegang kantong kreseknya. Sementara, anak lain yang duduk di ujung bus itu, belum juga ditemukan penangkal air matanya.

Aku menghela nafas sambil sedikit terkejut. Tapi apa boleh buat, harus aku akui rasa sayang seorang nenek kepada cucunya jauh melebihi sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Nenek yang sedari tadi cuek dengan anak yang menangis itu akhirnya membuka mulutnya sambil menatapku.

“Anak siapa sih itu? Dari tadi nangis teru, gak bisa ngasuh anak, ckckck…” katanya mengajakku berbicara,
Aku hanya jawab, “senyum dan geleng-geleng.”
Merasa tak mendapat jawaban yang berarti dariku, sang nenek memutar kepalanya ke belakang. “Kenapa nangis terus?” tanya sang nenek kepada ibu si anak.
“Balonnya pecah.” Jawab si ibu.
“Ya didiemin dong, kasih makanan kek, kasih minuman gitu, nanti habis lo air matanya.” Balas sang nenek.

“kasih apa aja yang dia mau! Pusing kami semobil ini dengerin tangisan anakmu!” Jawab sang nenek yang mulai agak emosi, mungkin karena dari tadi aku hanya membalasnya dengan senyum-senyum nggak jelas.

“Susah nek, aku juga lagi bingung gimana caranya.” Jawab si ibu.
“Jadi, dia maunya apa?” tanyo sang nenek.

“Dikasi duit, biasany kalo dikasih duit diem anak ini, hehe” jawab si ibu.
“Mau berapa?” tanya sang nenek mengeluarkan dompet yang didapatnya dari toko emas.
“Itulah masalahnya, dia ni baru diem kalo dikasi duit warna biru, apalagi merah, tapi kalo gak ada yangbiru, ijo juga boleh.” Jawab si ibu.

Sang nenek yang baru membuka retsleting dompetnya, menutup dompetnya kembali sambil menatap tajam si ibu yang tersenyum malu. Perlahan raut sang nenek berubah cemberut. Ia memutar kembali badannnya. Menghadap ke depan sambil tetap berdiri dengan bersandar di kursi bus. Si ibu tidak berusaha mendiamkan anaknya, karena ia sudah tahu, kalo anaknya capek nangis paling berhenti sendiri. “betul kan bu?”
Sementara aku, berdiri bergelantungan di dalam bus sambil tertawa sendiri di dalam otakku dan mengatakan bahwa momen ini harus diabadikan. Well, this is Palembang, so.. Selamat sore dan tersenyumlah. ^_____^

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*