KIDUNG HATI SANG PENCINTA

Catatan Kecil Oleh Muhamad Khoirul Umam

Pagi datang menjelang. Suara azan subuh menggema bertalu-talu dari masjid, surau/musholla di kampung Senang-nggakya, ditingkahi suara kokok ayam jago yang juga terdengar nyaring memecah kesunyian. Perlahan-lahan Sang Rembulan mulai beringsut untuk kembali ke peraduannya. Namun bintang gemintang masih asyik bertaburan menghiasi petala langit yang cerah dengan pernak-pernik dan kerlap-kerlipnya yang berpendaran sinarnya. Aneka satwa burung yang beraneka rupa warna-warni bulunya—laiknya lukisan pelangi yang mengagumkan—berkicau dengan riangnya, ditambah sayup-sayup terdengar suara khas bacaan tadarusan Al-Qur’an dari dalam rumah yang bercat tembok hijau plus kombinasi krem.

Dinginnya udara pagi tak menghalangi beberapa orang untuk membuka matanya, terbangun dari lelap tidurnya, keluar dari rumah untuk sekadar menghirup udara segar. Dan beberapa di antaranya ada yang berjalan dengan tertatih-tatih, jalan cepat ataupun sa’i/lari-lari kecil—berolahraga apa adanya dan ala kadarnya demi menyambut kedatangan ramahnya suasana pagi yang demikian istimewa dan menakjubkan. Pagi yang sibuk, karena orang-orang mulai berkutat dan bergulat dengan aktivitas pekerjaan kesehariannya.

Subhanallah, betapa Sang Maha Pencipta selalu menghadirkan beraneka rupa keajaiban kreasi-Nya dengan segala tingkah polah penghuni semesta-Nya yang beraneka ragam setiap waktunya. Sungguh, dunia seisinya ini diciptakan tidaklah sia-sia belaka, sebab merupakan lumbung dan ladang menanam amal saleh untuk diunduh di kemudian harinya. Maka dari itu, alangkah beruntungnya kita, sebagai makhluk sempurna (ahsan taqwim) yang bisa merasakan dan memahami bahasa keindahan alam semesta dan segala yang ada di dalamnya secara arif dan seksama.

Usai Salat, Kang Maman melangkahkan kakinya dengan sumringahnya menuju pinggiran kali di sepanjang kampung yang semakin ramai oleh para pendatang dari berbagai penjuru kota. Harus dimulai dari mana ya? Begitu soalan yang berkecamuk dan membuncah dalam dada. Apakah ini ya? Kang Maman memandang tajam ke arah jembatan: penghubung antara kawasan selatan dan utara di kampung yang terbilang sederhana: laiknya miniatur jembatan San Fransisco ataupun Suramadu, yang bisa membelah samudera. Sederhana, karena jembatan mini tersebut bisa bertahan puluhan tahun lamanya membelah kali yang semakin mendangkal karena padatnya rumah hunian di sepanjang pinggirnya.

Sungguh benar: banyak penduduk berharap jembatan—yang bisa mengkomunikasikan antarwarga, menggunggah ide dan persoalan antara Utara dan Selatan tidak “ambrol” hanya sebab sepele: genangan air bah/banjir/badai tsunami, yang bisa jadi datang kapanpun tak dinyana, tak diduga, tak disangka.

Jembatan adalah media, laiknya komunikasi, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, yang dicetak di media-media ataupun diberitakan dalam media elektronik, tak sepantasnya dirobohkan demi kepentingan apapun juga. Kampung ini emang terbilang lokal, namun prestasi tak tersekat oleh skup “locus” tertentu. Kemampuan dan prestasi anak-anak yang ada di dalamnya akan semakin “mengkilap” kemilaunya dengan adanya gesekan-gesekan kompetisi dan kontestasi yang semakin mengglobal.

* * *

“Hidup adalah anugerah. Keberkahannya senantiasa terasa pabila kita senantiasa menghadirkan peran dan kuasa Sang Mahacinta dalam hidup kita,” demikian kata Kang Maman kepada puluhan hadirin yang memadati halaman rumahnya dalam acara Bincang Santai setiap pekannya. Iya, Kang Maman, selalu berujar penuh waskita dan filosofis. Para pengunjung hanya manggut-manggut saja dan sesekali tertawa renyah dengan banyolan-banyolan segar yang dibawakannya.

Tak ketinggalan rupanya Kang Maman juga mengupas singkat tentang makna jembatan: media penghubung/wahana lalu lintas berkomunikasi plus menyampaikan persoalan Utara dan Selatan di pinggiran kampung mereka. “Al-Amru biwasailiha,” kata Kang Maman, sedikit mengutip kaidah Usul Fikih, yang pernah dipelajarinya ketika nyantri di kota Batik.

“Segala sesuatu itu bisa terjadi/terlaksana dengan wasilah/media/sarananya. Nah, kita umpamakan bahwa untuk menuju kerekatan antara Utara Selatan & Utara kampung kita, maka harus ada jembatan penghubung. Kita tak boleh menghancurkan, apalagi merusaknya,” kata Kang Maman.

Di penghujung acara Bincang Santai tersebut, tak lupa kiranya Kang Maman menyelipkan kidung hatinya dalam bentuk lirik puisi:

 

 

AKU, KAU DAN KITA

Aku, kau dan kita: manusia
Setiap huruf, kata & kalimat: sabda pesona media

Aku, kau dan kita menjelma bahasa keindahan yang tak terlukis oleh segala
Aku bisa, kau bisa, kita pun bisa

O manusia, kita makhluk dan hamba di hadapan-Nya
Pabila kita terhubung dengan mudahnya, itu karena kuasa Sang Mahacinta Jembatan kasih sayang terjalin mesra sepanjang masa.

Semarang, 13 April 2013, Sabtu malam, pukul: 20: 54 WIB
Oleh Muhamad Khoirul Umam, ayah/Bapak dari Maulana Ahmad Faizul HaqAl-Madina (1)

Dalam catatan ini: Lpm Justisia

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*