MENULIS MEMBUKA JENDELA

Menulis adalah proses memindahkan apapun yang menarik bagi penulisnya ke sebuah tulisan.
Apa yang disebut “menarik” bisa saja “sangat tidak menarik”.
Tapi jika seseorang menulis sesuatu, justru apalagi dengan terpaksa, pastilah karena ada sesuatu yang apa boleh buat, akhirnya dipertimbangkan dan diputuskan sebagai sesuatu yang dianggap penting.

Menarik, penting, dan sebagainya, adalah sesuatu yang dilihat, didengar, dirasa, dan dipikirkan.
Tak perlu dipilah lagi.
Bagaimana yang dirasa, dipikir, segalanya dialami sebagai totalitas.
Seperti hidup, kita tidak berpikir lagi, “Wah, saya sedang bernapas nih,” atau “Wah, jantung saya sedang berdetak nih,”: kita hanya hidup saja.

Kita hanya bisa menulis karena kita ini hidup.
Kehidupan adalah jendela penulisan.
Tubuh kita adalah sebuah ruang yang jendelanya tertutup dan gelap bila kita tidak hidup (atau hidup tapi cuma bengong).
Jendela itu akan terbuka, dan kita akan melihat, mendengar, merasakan, memikirkan, merenungkan apa saja.

Bila hidup itu kita sadari – penulisan adalah suatu bentuk kesadaran.
Bahwa kesadaran itu tidak bisa penuh, dan bawah sadar berperan, itu soal nanti.
Yang penting: menulis itu sebetulnya sesederhana melihat lewat jendela.

Jarak antara hidup dan tidak hidup, ternyata hanya seperti mengedipkan mata.
Menutup mata, gelap.
Membuka mata, terang.
Tapi perbedaan hidup dan tidak hidup itu begitu besar, sehingga daun yang melayang menjadi sangat besar artinya. Jika disadari pemandangan itu tidak akan pernah kita saksikan jika kita belum pernah hidup.
Kesadaran semacam ini membuat daun yang melayang ditiup angin, berguling-guling, terseret-seret di jalanan, dan akhirnya terpojok menguning dan mengering di sudut yang tepi itu, tanpa satu makhluk pun memedulikannya menjadi sesuatu yang menarik.
Ternyata pengalaman sehelai daun pun merupakan sejarah yang dramatis. Manusia yang sadar, menyadarinya.
Seorang penulis, menuliskannya.
Orang yang matanya tertutup dan telinganya buntet, melihat daun tapi seperti tidak melihat daun, mendengar suara jeritan tapi seperti tidak mendengar suatu jeritan, dan tak akan pernah bisa menjadi penulis dari hati yang terdalam, otak terjenih, dan jiwa yang lapang.

Mereka yang ingin menulis, selama ia bukan tidak hidup, tinggal melihat apa yang dilihatnya, mendengar apa yang didengarkannya, lantas menuliskannya.

Tidak terlalu keliru jika dikatakan betapa menulis itu mudah.
Yang tidak terlalu mudah adalah mempunyai sikap seorang penulis yang selalu melihat, mendengar, merasakan, memikirkan – untuk dituliskan: sampai semua itu lebur menjadi jalan hidupnya.
Sama seperti kita hidup, kita tidak berpikir, “Wah, saya sedang hidup nih.”

Seseorang yang ingin menjadi penulis yang baik tinggal melihat lewat jendela kehidupannya dengan baik-baik, lantas menuliskan apapun yang dianggapnya menarik atau tidak menarik, dengan cara yang menarik maupun tidak menarik. Keduanya menyumbang, keduanya mendapat tempat.

Dikutip dari: Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara – Seno Gumira Ajidarma

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*