HELL

Puisi Oleh: Noura Nahdliyah

Jam tua berdentum menggema tepat di titik nol
Menjerat kepingan mimpi dalam gema jantung malam
Purnama di ujung tiang lantang mencabik pekat
Terang…gemintang cahya lepaskan penat.

Kau, satu di antara ribuan nyawa manusia
Angkuh melangkahi purnama yang tengah bertahta
Mengais remah di antara gedung mewah,
Menginjak hati, menggilas tanah.

Kereta kencana datang,
menunjuk mana yang siap antar
Masuki gerbang bertulis huruf asing,
masuki dunia yang tampak bising.

Bising bukan karena langkah mesin,
Bising karena tangis yang menderu meracau di hening.

Jalan tanpa spasi penuh batu berduri,
manusia kerdil siapkan bejana penuh besi
Seumpama kopi panas yang masih beruap, siap dituangkan pada bibir-bibir yang biadab.

Bunga-bunga menari di setiap tepi,
lalu tiba-tiba layu terbakar api.
Ada hangus lalu cantik kembali.

Suara semakin bising.
Desis piaraan-piaraan aneh semakin mengusik hening.

“Tuhan, apa itu?”, tanyanya.
“Neraka, tempat hambamu yang durhaka”, Tuhan berkata.
—–
Gresik, 01 Mei 2013

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*