Wanita Langit

Puisi Oleh; Adhistia Amelia

Kabut dari mega ke mega
di atasnya bersilangan cahaya-cahaya,
bidadari-bidadari kecil
beterbangan di antaranya; beriringan dibuai angin.

Ada cakap dewa pada wanita langit,
“Derita itu manis, bukan?”
Tiba-tiba kabut membuat alpa wanita langit,
angin beringsut serakah menggenggam kabut,
lalu menyeret wanita langit.
Ia pasrah, menyerah pelan
tak peduli, angin tak ambil peduli.

Kembali cakap dewa pada wanita langit,
“Serakah itu menyenangkan, bukan?”
Cahaya menerpa wajah wanita langit
silau, meretas kacau balau.
Bersimpuh, ada tangis tak pantas baginya.
Ia dicampakkan, sempurna berdiri sendiri perlahan.
Tak peduli, cahaya tak pernah peduli.

Cakap itu lantas berlalu, sang dewa berlalu,
merah bersemu pilu nan kelu.
Hanya riuh bunga ros, lili, dan anggrek putih penghiburnya
bersama damai yang senyap menyergap.

Kali ini, wanita langit bertanya,
“Masihkah ada harapan?”
Dalam selimut kabut, ia menjejak
dentingan angin dan bisikan cahaya
yang menjadi perantara kesadaran;
ia terperanjat
mestilah ia lebih patut yakin akan segala campur tangan-Nya, bukan?

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*