Titik

Puisi Oleh: Jihad Natakertapati

images Sebuah yang tanpa kelopak
Sebuah yang tanpa mahkota
Sebuah yang tanpa sayap
                                … sebuah titik
Titik dimana aku termangu
Titik dimana aku kehilangan
Titik dimana aku dicambuk rindu
                                …sampai datang gelegar kiamat
Sebab di titik itulah…
Sang bunda membisu
                       Membiru

                      

Menjadi belagu tak mau dengar jerit laraku
Dan…
Di titik itulah
Sang bunda beranjak ke surga
Dijemput kereta kencana tanpa sepatah katapun berkata
Kini…
Di titik yang ku sebut-sebut tadi
Aku berangan waktu menarikku lagi…
Menahannya tetap di sini…
Meski…
Tetap semua itu tak mungkin ‘kan terjadi
Hingga di suatu waktu…
Aku berdiri di titik tadi
Menaburinya dengan butir-butir munajat
Agar bunda memelukku ikut ke surga-Nya
Dengan izin cinta Maha Raja

Loading...

1 Comment

  1. Puisi “Titik” sangat bagus, puisi ini menggunakan bahasa yang tepat dan bermajas, sehingga pembaca ikut terbawa suasana yang diciptakan penulis. Selain bahasanya yang sudah bagus, puisi ini juga membuat pembaca mengerti akan cerita puisi tersebut, yaitu seorang anak yang ditinggal oleh ibunya karena kematian. Namun, kekurangan puisi tersebut adalah pada kalimat “Aku berdiri di titik tadi
    Menaburinya dengan butir-butir munajat
    Agar bunda memelukku ikut ke surga-Nya
    Dengan izin cinta Maha Raja” ini mengandung arti bahwa anak itu masih belum bisa menerima sebuah takdir yang sudah disuratkan oleh “Maha Raja”. Kalimat tersebut sebaiknya diperbaiki dengan kalimat yang memiliki mana yang lebih baik dan membuat motivasi terhadap pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*