“Bertobatlah Koruptor”

Puisi Oleh : Chris Suharyanto Candra

 

tikus-koruptor-150x1501 Koruptor
Memang aneh tapi nyata
Tidak sedikit yang akhlaknya hancur
Dengan segala bentuk kemaksiatan

Mereka tergiur
Halal dan haram bercampur baur
Kemudian jalan hidupnya menjadi ngaur.

Tidak sedikit Lembaga keluarga yang tidak teratur

Orang tua tidak jadi tolak ukur
Disiplin longgar, tanggung jawabnya kendur

Akhirnya, sepak terjang hidupnya jadi ngelantur.

Begitu pula rakyat Indonesia, rata-rata hidupnya mundur
Tidak banyak yang maju karena otaknya tidur
Imannya tipis pendiriannya luntur
Akhirnya, banyak yang sengsara nyaris terkubur.

Para pejabatnya banyak yang tidak jujur
Sikapnya hedonistik, materialistik,dan takabur
Tindak tanduknya cuek, santai, dan tidak bersyukur
Tak perduli rakyatnya terbentur.

Negara yang seharusnya subur
Gemah ripah di bawah naungan Allah yang maha ghafur
Tapi ternyata, kini kejayaannya menanti lebur.

Dimana-mana ada tikus
Yang doyan akan fulus
Yang selalu membuat ulah dan kasus
Nafsu serakahnya selalu haus
Mengurus dirinya saja tidak becus
Ujian hidupnya tidak lulus.

Akhlaknya tidak terurus
Nilai kemanusiaannya minus
Jiwanya seperti kardus
Mentalnya tamak dan rakus
Tidak pernaha jera sebelum perutnya meletus.

Uang rakyat ia gerus
Merusak negara secara halus
Tetapi, akibatnya sangat serius
Tak peduli bangsanya collapse menanti pupus.

Wahai tikus
Harga dirimu kerdil dan kurus
Sosok hidupmu tidak bagus
Segeralah engkau bertobat secara tulus

Loading...

1 Comment

  1. Puisi ini bagus, diksi yang digunakan oleh penulis sangat berpengaruh pada puisi tersebut. Kata-katanya pun sangat menyiratkan bahwa puisi ini memiliki makna ketegasan. Dan sangat tidak mudah untuk memilih pilihan kata agar terbentuk pola seperti puisi ini. Namun, dikarenakan sangat tidak mudah memilih kata yang tepat untuk membuat pola, maka penulis agak melupakan perlunya kalimat yang bermajas yang memberikan keindahan pada puisi. Memang ada beberapa majas yang digunakan dalam puisi tersebut, namun perbandingan antara kalimat yang bermajas dengan kalimat yang biasa itu sangat kontras sehingga menimbulkan puisi tersebut hanya seperti kalimat demi kalimat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*