JANGAN PERGI IBU

Cerpen Oleh: Allya Innaz

“Ibu kenapa hari ini? Abis kesambet setan apa bu ? Kenapa bisa jadi feminim begini?” “Nggak usah banyak tanya deh Innaz! Gih sana menulis qiroah dulu !”.
“ Siap bos ! Siap laksanakan !” .
“ Sekalian hafalkan Al-Fajr ya!”
“ Ok bu “.

Aku dan bu Emi memang seperti keluarga sendiri . Aku sendiri pun menganggap ibu Emi Ibuku sendiri . Bu Emi orangnya agak galak padahal aslinya dia sangat baik . Mukanya aja agak serem gimana gitu.
“Naz kayaknya gue nggak sanggup deh setahun bersama –sama jadi muridnya bu Emi . Dari mukanya aja gue udah kebelet pipis “ kata Afni temanku .
“Ya namanya juga ibu –ibu Ni ! Biasalah, timpalku” .

***

“Ibu, saya kan udah hafal bu, saya boleh tanya nggak?”
“Tentu saja boleh mau nanya apa ?”
“ Kenapa nggak ibu pake tas warna merah muda aja juga bu, biar mecing gitu ?”
“Ya sudah nanti tasnya Innaz yang belikan ya !”
“ He… he… he… nggak jadi deh bu !” sahutku.

***

“Mbak pesen tas warna merah muda yang itu dong !”
“yang mana dik ?”
“ Itu tuh yang sebelahannya warna kuning !”
“ O…iya …iya .”
“ Harganya berapa ? “
“Seratus lima puluh ribu rupiah saja kok dik “.
“Ya sudah nih saya bayar “.

Akhirnya aku pulang dengan bingkisan untuk ibu Emi besok biar bu Emi dapat kejutan gitu .Tas yang kubeli berwarna merah muda dengan gambar bunga matahari di sebelah kiri . Dan dibungkus dengan bungkus kado yang berwarna merah agak gelap .

***

“Selamat pagi ibu Emi . Saya sudah belikan tas war ……. “
“…. Ibu kenapa ibu pergi tinggalkan saya ? Saya belikan tas untuk ibu.. Ibu jangan pergi, karena harus mengajar saya matematika dan ipa bu !”
Aku hanya menatap kosong.
Guru yang selama ini menjadi seorang ibu di sekolahku kini telah pergi ke surga . Selamat jalan ibu Emi .

http://ceritakumpulan.blogspot.com/2008/10/janganpergi-ibu.html

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*