MUSIM DAHAGA

Puisi Oleh: Hendra Wibowo

loveTangisan langit, dikala cahaya matahari mengurung
Sepertinya membawa pesan. pucat wajah langit, pucat wajah negeri
Apakah ini petanda. awan hitam tanpa isyarat
Dinginpun tak menyentuh, gigil enggan membalut.
Kelebat kilat dan gelegar petir tiada disana, mungkin mereka sedang musuhan.

“Waduh-waduh, hujan-hujan kok panas, beginilah zaman sekarang, cuaca nggak bisa ditebak.”
“Iya, zaman sekarang aneh, musim hujan tapi kenapa kita sering dahaga, ibarat koruptor haus duit.”
“Walah, membahas cuaca kok malah larinya ke politik, nggak nyambung tahu.”
“Bukannya begitu, tapi kalau diibaratkan ada hubungannya. apakah mas masih ingat?

ketika musim panas, bukan cuaca saja yang panas tapi politik juga memanas
kenyataannya banyak adegan: manipulasi, korupsi, konfrontasi, provokasi,
hingga kudeta ikut terlibat. lihat! kini politik sedang menangis, bagaimana tidak
soalnya banyak politisi masuk bui, wajarlah kalau dinamakan musim dahaga.
pasti setiap oknum manfaatkan momen ini, dari pada mencuri seperti maling
lebih baik menyelinap, berkedok profesi sendiri
terapkan taktik mafia. karena manusia di era globalisme
bagaikan dracula, diam-diam siap menggigit.”

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*