Kopi Insomnia

Catatan Kecil Oleh Viranita Dewi N

hot-coffee Di tengah kebisuan langit gelap ini, tepat ku duduk di atas kursi kayu yang juga bisu, temani segala anganku di insomniaku. Tepat di bawah remang rembulan yang tampak samar – samar di balik awan dan kini tampak sebagai background rumah kubah di hadapan ku. Kebisingan dan gemerlap suara klakson maupun iring – iringan kendaraan yang merayap di sirkuitnya seakan tak mengacaukan kenanganku, tak sekacau hati dan perasaanku malam ini.

Kembali menggulir dan mencoba merangkai berbagai
materi di setiap ingatan kita. Ku coba terjemahkan kerisauan dan memecah dinginnya malam ini sebagai pengantar mimpi malamku. Tersirat wajah teduh nan menyita waktuku, hanya untuk mengingat  bulir – bulir kebahagiaan, atau tepatnya disebut sebagai kepalsuan. Seonggok kekecewaan membeku menyesakkan raga dan jiwaku. Tak menyangka semua kan berakhir percuma. Mimpi – mimpi yang dulu terajut sederhana kini tak ubahnya sebagai bongkahan batu bata, yang sebelumnya membutuhkan proses yang serius dan remuk begitu saja kala ia jatuh. Hanya menyisakan sedikit warna yang bertekstur dan hanya akan dibuang kembali oleh tukang bangunan.

Mencoba menyelami perasaan yang tak kalah ricuhnya seperti para demonstran yang tak henti – hentinya meminta keadilan. Bagai wartawan yang tak henti – hentinya mempertanyakan hal yang mengganjal. Andai kata jalanan nan bisu ini mampu berikanku jawaban pasti, ku yakin tak akan lagi ada tulisan ini. Tulisan ini sengaja aku tuliskan untukmu, Sayang. Agar kamu juga merasakan hangatnya secangkir kopi ini yang mampu menyenangkanmu, meski hanya secangkir. Dan pasti akan habis jika
kamu minum. Pelan – pelan saja sayang, jangan habiskan sekaligus secangkir kopi hitam ini. Meski setengguk demi setengguk, pasti kan kau dapatkan kenikmatan aroma dan rasanya. Meski  bukan di tempat mewah, yang penuh dengan keramahan, pilihan rasa dan aroma, dengan sajian uniknya, meski bukan pelayan yang mengantarnya, setidaknya kau mampu menikmati dan mengetahui benar bagaimana membuat kopi yang terasa cocok dengan lidahmu. Bukan dengan takaran paten dari setiap orang. Namun, hanya kamu yang mengerti bagaimana rasa dan aroma yang kamu mau. Dari bagaimana cara membuka bungkusnya, kemudian kau sajikan di dalam cangkir kecil maupun gelas transparan yang mudah pecah, di dalam gelas plastik yang berimitasi menyerupai gelas melamin, maupun langsung kau seduh hanya dari gelas bekas air mineral. Semua tergantung dari maumu. Mulai dari berapa gula yang harus kau tambahkan. 2 sendok, 3 sendok, atau bahkan tak akan kau beri gula.
Semua bergantung lidahmu. Juga tergantung seberapa banyak yang kau inginkan untuk menambahkan air panas. Dari memasak air sendiri, dengan total air panas murni, maupun campuran air dingin. Semua tergantung darimana dan bagaimana kau ingin merasakannya. Namun, jangan pula kau lupakan sayang, berapa harga yang harus kamu bayar untuk menghabiskan sebungkus kopi itu. Bukan mahal atau murahnya, hanya seberapa besar ketergantunganmu akan rasa dan aroma yang harus kamu nikmati. Seberapa besar kontribusi tastenya untuk temani di setiap gelisahmu. Kala kau merasa sepi, kala kau terpuruk, kala kau penat dengan tugas hidupmu,
kala kau rindu sesuatu, dan bahkan kala inspirasi tak menghampirimu. Dia setia ada untukmu, meski tak sepraktis yang kau bayar di restaurant. Tapi kau benar – benar kan mampu melepas gelak mu setelah menghabiskannya, dan akan selalu memintanya, kopi, kopi , dan kopi. Khusus dari dirimu, dari tanganmu sendiri yang membuatnya. Memangnikmat bagaimana menikmati sesuatu dari apa yang kita buat sendiri, namun akan mengeluh dan menyesalkan ketika hal itu habis terkuras oleh
kita.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*