MONOLOG DIRI

Puisi Oleh: Senja Dewi Utamaningsih

Kemarau kering resah. Ketika ibu hilang

ditelan kupu-kupu

Setiap jejakku akan memerah, meninggalkan luka menganga

namun,

“dimana pagi

kemana pergi setiap resah, ragu dan putus asa?”

Tiba dilebur debu jadi embun

Cicit burung, angin segar, secangkir kopi

Juga cita dalam geitzha

“Kau-kah itu

yang namanya impian?”

yang diam-diam mengusung fajar

dalam rahman terbalut harapan

berjalan mengendap di kaki bukit tujuan?

“dan kami dengar dan kami taat”

Meski di luar. Tanganku membungkus batu

Tidak! Ini adalah gurun. Riak daun isyarat penuh

ranting yang duduk sendiri, angin yang hilang pergi

bunga yang malu menguap amis darah

Ini gurun tak bertuan. Ada langkah yang tak jua mengering. Ada kata yang tak mau terhempas angin. Ada jiwa yang pantang berhenti dan berpaling.

Ketika semua kepercayaan hilang, maka harapan akan menggelayut pada rambut yang terus memutih mayat, pada mata yang membulat

Ketika sadar merasa diabaikan, maka harapanlah yang akan terus membesar dalam paru yang keropos, membakar perigi di kepala, mengepalkan tangan, membawa langkah semakin dekat menuju tujuan

“Hei!Kau menabur salju di kepalamu, di jejakmu”

penguin kecil malu melihat wajah sendiri

semburat pelangi muncul di tepi aspal

tanpa hujan, tanpa warna

dan aku berlari mengambil ikan ke dasar gurun

Hujani malam. Hujani malam

biar kulempar api ke ujung bukit

dan kau lihat, aku memegang sebuah obor yang bernama masa depan


Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*