SAMPAH, SAPU DAN KEMOCENG

Puisi Oleh: Nela Ariani

Gemercik hujan terus mengiringi pagi ini…Nela Ariani sampah sapu kemoceng puisi
Bahkan sampai sepanjang hari…
Kini… aku tak bisa berkutik
Hanya diam dan meringkuk,,

Kulihat selokan dipinggiran jalan…
Airnya meluap hingga membanjiri jalanan
Siapa yang akan bertanggung jawab dengan kejadian ini…
Pemerintah…?? Atau kita sendiri…?

Banyak orang pandai berbicara…
Namun kebanyakan hanya bual belaka…
Pandai memberi komenan…
Namun tak pandai memberi tindakan

Kau bilang negri ini penuh dengan sampah…
Tapi kau gemar membuat resah…
Dengan membuat tumpukan sampah menjadi gunung
Memangnya negri ini negri seribu gundukan…??

Jika kau masih peduli dengan negri ini…
Mengapa kau biarkan tong sampah itu kosong…??
Dan membiarkan sapumu terpajang menggeletak di lantai…
Membiarkan para kemoceng bergantungan di dinding…

Kasihan sekali mereka…
Sudah dibuat dengan susah payah…
Namun mereka tak digunakan,,
Menyedihkan… jika tercipta tiada manfaat
Mungkin ia akan bahagia…
Jika kau mau menggerakkannya…
Ia akan lebih mulia…
Jika kau menggunakannya untuk kebersihan.

Loading...

1 Comment

  1. dari semua puisi yang ada disini, saya paling suka dengan puisi ini, karena bahasanya sangat mudah dipahami dan kebetulan berhubungan sekali dengan bencana yang tengah terjadi di jakarta sekarang ini.. ada satu kata yang paling saya suka dalam puisi ini, memangnya negeri ini negeri seribu gundukan..? kata itu semacam punya aksen tersendiri ketika dibaca. cuma saya kurang suka dibagian awal puisi kayaknya kurang singkron dengan inti puisi, mungkin kalau puisi ini lebih di dramatisir lagi, pasti akan lebih bagus lagi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*