Sedekah Ruwah membawa Musibah! *Selamat Berjuang, Eliana

Sakazakii Mungkin judul saya ini bisa jadi terlalu ekstrem bagi orang beberapa orang, (*atau bisa saja blog saya ini langsung dilaporkan ke DEPAG dan KEMENINFO, tapi baca dulu dong isinya sebelum ngelaporin, ds)

Mendekati bulan puasa, di kota saya sangat kental dengan acara-acara di bulan syaban, terutama sedekah dusun dan sedekah ruwah. Sedekah ruwah atau biasa disebut ruwahan ini adalah acara rutin yang dilakukan sebelum bulan puasa dengan tujuan agar terhindar dari bala, mendapatkan keselamatan dan mendapatkan pahala. Dibanyakkan rejeki dan berkah di bulan sya’ban atau…… (*bagi yang lebih tahu silahkan tulis di sini yak, maklum saya orang awam, ds)

Malam itu Bapak Efri, yang menjadi kepala desa berinisiatif mengadakan ruwahan di rumahnya, hal ini sudah lumrah dilakukannya sejak menjadi kepala desa tiga tahun lalu. Seluruh warga desa diundang dalam acara ini, bukan hanya diundang untuk perayaannya saja tapi juga diajak turut serta mulai dari penentuan acara, penegakkan tenda, penyusunan panitia dan acara masak memasak. (*sedekah ruwah juga disebut sedekah desa/dusun, CMIIW,ds)

 

Sore menjelang ruwahan malam itu, Eliana, seorang gadis kecil putri Bapak Efri yang masih berusia lima tahun asyik bermain bersama teman-teman sebayanya, sementara Ibundanya sibuk membantu memasak lauk pauk di belakang rumah Bapak Efri, tentu saja menggunakan kuali dan wajan yang amat besar. Eliana dan temannya memeriahkan sedekah ruwah kali ini dalam arti yang sebenarnya, berteriak-teriak, berlarian kesana kemari dan tertawa lepas. Eliana begitu riang gembiranya berlarian dan terkadang berlindung di belakang ibunya karena terus dikejar-kejar oleh temannya yang lain. Ia tidak akan pernah menyangka jika hari itu ia akan membuat seluruh desa menjadi geger.

“Eli, pergilah main jauh-jauh, ibu masih memasak di sini.” Kata ibunya sambil mengaduk kuah sayur. Eli pun berlari menjauh. Suatu ketika Ibunda Eli meninggalkan kuali masakannya karena harus mengambil bumbu tambahan. Eli yang menyangka Ibundanya masih disana, berlarian ke arah kuali mendidih, ia berlari begitu kencangnya, hingga ia melihat ibunda tidak ada didepan kuali dan Eli tidak ada tempat untuk berpegang agar larinya bisa terhenti. Seketika, “Prasssshhh,” Kuali mendidih itu tertumpah dan Eliana ditemukan tertelungkup di dalamnya.

***

Satu jam sudah sejak kejadian itu, gadis kecil itu kini tiba di UGD dengan rintihan kesakitannya, hampir seluruh tubuhnya, leher, mulut, dada, tangan dan kaki, semuanya melepuh! Ibundanya hanya bisa menangis dan berteriak sebisanya, sedangkan Bapaknya hanya bisa terdiam berjuta bahasa. Kami memasang oksigen ke hidungnya, menusukkan dua jalur infus sekaligus ke tangan dan kakinya, memberikan antinyeri, antitetanus dan antibiotik secukupnya. Akupun hanya bisa berbuat sampai disana hingga pasien ini aku kirim ke Rumah Sakit Provinsi untuk mendapatkan perawatan intensif.

Selamat berjuang Eliana

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*