Tentang aku dan dia

Catatan Kecil Oleh Masayu Mastura Fatmasari

catatan kecil tentang aku dan dia mastura fatmasari Ketika telpon itu berbunyi, di rumah teman baikku aku tengah solat, dia yang ada di belakangku menjawab telpon dengan nada lirih, suaranya indah, lembut, dan aku suka. Tak terlihat wajahnya, tak terbayang bagaimana sosoknya, tapi sungguh suara itu tak pernah kulupa entah karena apa dan entah apakah menjadi suatu pertanda.

Bertahun-tahun terlewat, kejadian demi kejadian, kesedihan, canda tawa, masalah, rezeki dan kesulitan silih berganti. Aku hidup bersama keluargaku yang apa adanya, dengan seorang ibu yang sangat aku cintai, keluargaku yang hidup pas-pasan, aku seorang mahasiswi fakultas kedokteran dengan segudang aktivitas dan sering hidup dalam urusanku sendiri, jarang terpikir bagaimana kesulitan dan tantangan hidup di masa depan, pikiran tentang keluarga, suami, anak-anak dan urusan keluarga nantinya, Ya Allah kadang aku merasa rugi atas waktu-waktu yang terlewat.

Dan ketika suara itu datang lagi, namun dari teman baikku itu mengenalkan aku pada sosok suara itu, suara yang sekarang bisa kudengar setiap hari, yang selalu menemani tidurku, dan itu aku suka. Aku tak mengenalnya, tak mengenal bagaimana rupanya apalagi sifatnya, yang kutahu dia mempunyai keluarga yang baik, orangtua dan saudara-saudara yang baik, dan aku suka mereka. Aku merasa beruntung karena aku yang menjadi pilihan.

Sering terpikir akan seorang lelaki terbaik yang harus menjadi pilihan dalam hidup, aku berdoa namun hanya sekedar berdoa pada umumnya, doa yang tercurah dari hati seorang gadis muslimah yang menginginkan jejaka muslim lagi soleh, yang selalu mengisi hati dengan kerinduan untuk taat kepada-Nya, dan itulah dia.

Awal aku mengenalnya, tak ada keraguan dalam hati ini, dia tampak sederhana, apa adanya, lelaki pemberani dan percaya diri, entah angin apa yang mengantarkan dia di hatiku, yang jelas aku suka dia. Hari-hari penantian jadi semakin bahagia di tengah kesibukan kepaniteraan rumah sakit dengan ujian yang datang silih berganti yang mungkin akan berlanjut sampai akhir hayat. Kondisi kehidupan rumah sakit  yang selalu kuceritakan kepadanya tak membuat dia goyah untuk menghadap ibuku tercinta untuk meminta doa restu, untuk diakui sebagai anggota keluarga yang baru, dan sungguh itu aku suka.

Dan huff hari itu telah berlalu, rasanya lama sekali walau akhirnya datang juga. Mantap dirinya mengucap ijab qobul dan saat itu berubah lah seluruh hidupku, aku dan dia suamiku yang aku cintai akan meniti rumah tangga bersama-sama, dia seorang pekerja keras, seorang yang disegani dikeluarganya, seorang yang lucu meski tak pandai merayu, namun aku suka. Oh indahnya hidup, sedangkan rumah sakit tempatku berbakti tetap menanti dengan follow up demi follow up pasien, semangat itu katanya, dan aku suka kata itu, maksudnya suka orangnya, hahaha….

Solat tahajud dan dhuha, uda ngerjain belum??? Hehehe….ah lugu amat sih diriku, masa’ hal itu harus diingatkan, ya ya ya semangat dong. Oh suamiku, ternyata sampai sekarang belum pernah kusetor hafalan alqur’an ku padanya, wau wau wau sungguh malu jadinya.

Bukan seorang aktivis kebanyakan, belumlah pula menjadi penghafal alqur’an yang luar biasa, namun dia pekerja keras, seorang yang mandiri, seorang yang matang pikirannya, seorang yang kadang menyeramkan juga, tapi aku suka itu. Apalah yang aku tak suka, hmm mungkin cukup jadi urusan aku dan dia.

Kadang aku rindu dengan keluargaku, rindu untuk berkumpul kembali, rindu tawa ibuku, saudara-saudara, dan bahkan pertengkaran-pertengkaran kecil dalam keluarga, ya ya ya tak seharusnya semua hilang bukan. Saat dia tak ada, aku merasa seperti  ada yang hilang, sepi walau ramai adanya, yang dulu terasa biasa sekarang jadi berat, ai ai ai aku tak mau jadi manja. Datang dan pulang dari rumah sakit, disungguhkan urusan pasien, kasus, referat, ujian, kakak-kakak residen yang begini dan begitu, masalah teman-teman, aarrrggghhhh semuanya kadang tak seberat dari urusan rumah tangga, urusan masak, mencuci, dan ngobrol dengan suami tercinta.

Ya ya ya kudu banyak belajar lagi, jadi dokter kemudian kerja, menjadi residen, menjadi konsulen, dan punya rumah sakit, subhanallah aku akan meniti hidup itu bersama dirinya, insya Allah bersama anak-anak soleh dan solehah kelak, aamiiiin. Menjadi lelucon-lelucon yang sering kami katakan saat menunjuk-nunjuk profil masa depan nanti, hahahaha….dia sungguh lucu, selalu membuatku tertawa, walau kadang nyebelin juga, tapi aku suka.

Sekarang, besok, atau lusa, dan begitu seterusnya, ya Allah ampunilah dosa-dosa hamba dan dirinya, selamatkanlah kami dari nerakamu dan dunia yang sempit. Sungguh nikmat-Mu itu sangat banyak, dan ampuni kami yang jarang bersyukur.

Loading...

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*