Pengalaman di negeri asing

Cerpen Oleh: Hilman Izzati

cerpen pengalaman di luar negeri Ini adalah kisah nyata negeri tempat berpijakku sekarang, dimana manusianya sangat tertarik sekali untuk mempopulerkan bagaimana mereka berkasih sayang sesama manusia di antara mereka siapapun itu. Siang itu aku berniat bepergian ke rumah seorang temanku dibilangan distrik anu, seperti yang sudah-sudah karena jarak tempuh yang lumayang jauh jadi aku memutuskan untuk bepergian dengan menggunakan bis umum. Ahh sebenarnya aku tidak mau menyebut-nyebut nama bis disini, karena mungkin sebagian besar orang indonesia yang kebetulan berada disini juga tidak terlalu suka untuk membahasnya, tapi tidak apalah toh akunya juga lagi pengen cerita soal kejadian selama di bis.        

Tidak seperti biasanya aku berdiri di halte cuma kira-kira lima belas menit,waktu yang sangat singkat sekali. Kawan-kawan bisanya kalau sudah berdiri di halte bisa memakan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu bis delapan puluh coret yang harga karcisnya cukup minimalis. Bukan cairo namanya kalau penumpang bisnya tidak penuh, sampai-sampai temanku bilang kalau penumpang yang rame dalam mobil itu mirip sekali dengan ikan kalengan atau biasa kita sebut sarden saking penuh dan rapannya penumpang.         

Kebetulan ketika aku naik sudah tidak ada tempat lagi untuk duduk, bahkan berdiripun harus berdesak-desakan, tapi ada yang aneh dari bis-bis disini walaupun keadaan seperti itu, berdesakan, panas, ditambah bau tek sedap ketik para penumpang yang berkeringat karena panas tapi keadaannya tenang sekali, mereka dalam keadaannya yang sempit seperti itu lebih baik diam daripada berkesal ria. Dan satu lagi yang menarik, disemua sudut-sudut bis yang sumpek itu, sambil berdiri atau sambil duduk atau sambil bersandar mereka dengan nikmatnya membaca mushaf masing-masing, seolah-olah mereka sedang berada di mesjid yang tenang dan sejuk. Subhanallah….pemandangan yang langka di negeriku.           

Kembali lagi pada topik..hehehe…setelah aku membayar karcis pada kernet, aku lalu mengambis tempat yang kira-kira enak untuk berdiri, alhamdulillah masih kebagian tempat walaupun hanya berdiri dan dalam keadaan terik matahari yang yang panas (biasa musim panas,kadang suhunya mencapai 45 derajat celcius). Mungkin itu adalah tempat terahir yang agak luas untuk berdiri dan selebihnya harus rela berdesakan dan sering kali saling dorong.           

Di negeri ini, hal yang biasa melihat orang memberikan tempat duduknya kepada orang lain karena rasa hormat mereka walaupun sama sekali tidak kenal, entah itu orang baik atau tidak. Dan inilah hal yang membuat saya tambah takjub kepada pribumi disini, ketika bis berhenti disalah satu halte, naik seorang ibu-ibu yang tampak letih dengan postur tubuhnya yang bisa dibilang gemuk. Walaupun sudah tidak ada tempat lagi sang ibu rela berdesakan kemudian membayar karcis dan mencari posisi untuk berdiri. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang anak kecil yang mungkin baru kelas tiga atau empat SD, anak itu memanggil sang ibu “tafadhol ya ummi ! ” si anak itu memberikan tempat duduknya pada si ibu, padahal dia tau pasti dia akan kesusahan berdiri kalau tempat duduk itu tetap dia berikan pada si ibu…Allahu Akbar….tiba-tiba seorang teman dari Malaysia bertakbir sendiri melihat aksi si anak kecil itu.            

Aku berfikir sendiri, anak kecil saja sudah sedemikian hebat. Lantas bagaimana nanti ketika dia sudah besar dan lagi hampir semua orang penduduk asli disini tidak jauh beda dengan si anak itu. Kadang secara serempak dan berebutan mereka menawarkan tempat duduknya. Sungguh sesuatu yang luar biasa, seandainya penduduk negeriku juga bisa seperti itu tentu alangkah indahnya suasana seperti itu..Mudah-mudahan Allah memberikan hidayahNya untuk anak-anak bangsaku, agar bisa kembali menghidupkan sunnah Rosulullah saw walaupun dalam hal kecil. Aamiin.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*