PELANGI DAN ILALANG

Flash fiction Oleh: Annisa Alfitria

annisa alftriaPelangi membelah langit, membagi cuaca menjadi hujan dan kering, membagi waktu menjadi siang dan sore, membagi hati ini menjadi hitam dan kelabu. Entah dari mana datangnya gelisah ini, tetapi kegalauan ini bukan tanpa alasan. Sepenuh cinta yang kusematkan untuknya, belah dan hancur saat engkau berkata; “aku ingin menikah lagi.”

Apakah kurangnya diriku ini? Kurang baikkah sifatku? Kurang cantikkah wajahku? Kurang suburkah rahimku? Keputusanku telah bulat, menghancurkan putaran waktu yang semakin menyiksa, menghentikan semua yang telah engkau mulai, aku akan membuatmu tersadar bahwa hanya akulah milikmu. Maafkan, gelas itu telah kosong sekarang. Mau apa lagi, inilah yang aku butuhkan saat tidak ada lagi perhatian dan kasih sayang.

 flashfiction pelangi dan ilalangKutegakkan kepalaku menatapmu pelangi, kurentangkan tanganku untuk memelukmu, kuhirup aroma ilalang senja yang tertunduk lelah memikul sisa hujan. Gelas di tanganku terlepas dan jatuh, pecah berhambur mengusik kesunyian senja. Ahh… pelangi, aku ingin membaca tulisan langitmu, tapi mengapa engkau mulai mengabur dari pandanganku? Kujatuhkan diriku dalam ilalang, kupeluk dan kugenggam dengan sangat kuat hingga tercerabut dari akarnya. Jangan lari ilalang… Jangan tinggalkan diriku… Hanya kalian berdua, pelangi dan ilalang, yang selalu setia untukku, pasangan sejatiku, pengantinku sesungguhnya. Marilah tidur, bersamaku.

“Bangunlah Mia, bangun!!” teriak Erzan. Air mata meleleh deras dari pipi Erzan, tak terkira di benaknya jika semua akan berakhir seperti ini. “Mengapa Mia?” Tapi Mia diam tak menjawab, aroma racun ilalang menyeruak dari dalam mulutnya.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*