ORASI JUSUF KALLA DI MUKTAMAR IDI MAKASSAR

Permasalahan di bidang kesehatan ternyata telah lama mendapat perhatian khusus dari Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla atau yang biasa dipanggil JK. Foto1117  JK sudah paham betul tentang apa yang terjadi di dalam dunia kesehatan umumnya dan kedokteran khususnya. Saya sendiri terkejut betapa ia bisa secara fasihnya menjelaskan mengenai pelayanan kesehatan di Indonesia dengan sudut pandang yang sama dengan sudut pandang kita, sebagai seorang dokter.

Beberapa hal yang dipaparkan oleh beliau saat Muktamar IDI ke-28 diantaranya:

JK menjelaskan bahwa di Indonesia, yang mahal itu obat bukan dokternya, sedangkan di negara-negara Eropa justru terbalik, yang mahal itu dokter dan yang murah itu adalah obat. JK kemudian menceritakan pengalamannya saat kakinya sakit dan nyeri, saat itu beliau berada di luar negeri dan memutuskan untuk berobat ke dokter. JK harus membayar uang sebesar 300 GBP (Rp 4,5juta) untuk konsul dan pemeriksaan penunjang lain (cek darah dan MRI) dan saat membayar ternyata obat yang didapat oleh JK hanya sekitar 3 pound (Rp45ribu) dan obat itu hanya pain killer. Ternyata di Inggris itu yang mahal adalah teknologi untuk menemukan obat yang benar-benar cocok dan pas. Bandingkan dengan kondisi di Indonesia dimana dokternya bisa menuliskan resep 5-6 macam obat dengan harga yang tinggi.

JK menegaskan bahwa teknologi di bidang kedokteran adalah teknologi yang berkembang sangat pesat. Dalam jangka waktu 3 tahun saja, teknologi kedokteran bisa berkembang sampai dua kali lipatnya. Karena itulah, teknologi di bidang kedokteran, terutama bagi pendidikan kedokteran harus selalu mengikuti teknologi kedokteran dunia, atau ASEAN setidaknya jika Indonesia tidak mau tertinggal dari negara ASEAN lainnya. Pemerintah bertanggung jawab untuk membawa teknologi ini ke Indonesia dalam rangka meningkatkan penelitian dan kualitas SDM kedokteran.

JK pun bertanya, pilih mana: “Membawa masuk teknologi kedokteran terbaru ke negara kita sebagai investasi atau tidak mau keluar uang sama sekali sehingga membiarkan orang Indonesia keluar negeri untuk mencari teknologi kedokteran terbaru yang mereka butuhkan?”

Mengenai distribusi pelayanan kesehatan, JK mempunyai visi sendiri. Ia sudah menyadari betapa penyebaran tenaga kesehatan yang belum merata. Beberapa tahun yang lalu, saat ia masih menjawab Wakil Presiden, JK adalah orang yang mencetuskan beasiswa pendidikan spesialis dengan syarat penerima beasiswa tersebut harus bersedia di tempatkan dimana saja sebagai pengabdian kepada pemerintah.

Bagaimana mengenai BPJS. JK menyambut baik BPJS yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, namun JK menjelaskan sekali lagi, pembiayaan tersebut haruslah berkeadilan. Berkeadilan bagi yang dilayani maupun yang melayani, berkeadilan bagi pasien dan berkeadilan bagi tenaga medisnya.

Loading...

1 Trackback / Pingback

  1. MUKTAMAR IDI KE 28, SJSN dan BPJS, untuk Siapa? « klikharry.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*