Bayi Meninggal Diduga Malpraktik, Orangtua Dikecewakan Putusan Majelis Kehormatan Dokter

Suara Pembaruan, Kamis, 22 Maret 2012 | 16:43

 dokter malpraktik  [JAKARTA] Berlinang air mata. Hanya itulah yang bisa dilakukan Pesta Evaria Simbolon sesaat ketika Ketua Sidang Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) mengetuk palu putusan. Menangis hanya bisa dilakukan perempuan berusia 42 tahun ini untuk mengungkapkan kekecewaan mendalam atas putusan majelis sidang yang menetapkan Prof dr Faisal Yunus bersama kawan-kawannya tidak melanggar disiplin kedokteran.  
Dokter Faisal adalah dokter  di Rumah Sakit Persahabatan yang diduga karena kelalaiannya telah menyebabkan Angelonika Natalia Hutajulu, putri sematang wayang Pesta dan Sarianto Hutajulu yang baru berusia 3,2 tahun itu meninggal dunia pada Maret 2010 lalu. Sidang yang dipimpin oleh dr Dyah Silvia, spesialis anak, dan salah satu anggotanya adalah Ketua MKDKI Prof Med Ali Baziad itu menetapkan bahwa semua tindakan yang dilakukan para dokter di bawah pimpinan dokter Faisal saat menangani pasien Angelonika sudah sesuai prosedur.  
Sontak saja keputusan ini membuat Pesta, satu-satunya orangtua korban yang hadir pada saat sidang ini digelar di Kantor Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Selasa (20/3) ini  lunglai. Tak disangkanya, putusan yang sudah dinanti-nantikannya selama dua tahun ini tidak memberikan hasil apa pun.   
Keputusan ini pun keluar setelah dua tahun, tetapi penanganannya hanya dua kali, yakni 22 Juni 2011 dan terakhir 22 Maret 2012 Itu pun setelah orangtua korban terus mendesak menanyakan keputusan MKDKI. 
“Kalau begini saja tidak adil bapak, apakah benar tidak ada pelangggaran sedikit pun, kecil atau sedang, berat,” ucap Pesta berlinang air mata, mencoba meminta keadilan kepada Ketua MKDKI yang kebetulan berbaik hati menemui Pesta seusai sidang di ruang sidang itu. Sementara Ketua Sidang dan anggota lainnya berlalu tanpa memperdulikan permohonan Pesta untuk sekedar bertanya.   
“Kami sudah melakukan yang terbaik bu, semua dokter waktu itu sudah dipanggil  dan juga para ahli kami datangkan. Dan saya tahu bu ahli mana yang suka membela dan mana yang tidak,” kata Ketua MKDKI mencoba menyakinkan Pesta atas kebenaran putusan mereka.  
Namun, Pesta yang mengingat betul bahkan mencatat setiap kronologis penanganan anaknya selama di rawat sangat yakin putusan itu tidak adil. Perempuan yang berprofesi sebagai pegawai di Sekretariat DPR ini menyangsikan proses sidang di MKDKI. Pasalnya, tidak seperti di sidang pengadilan umumnya, proses pemeriksaan terhadap dokter (teradu) dan keterangan dari saksi ahli tidak melibatkan pengadu/penggugat. Meskipun saksi ahli, menurut MKDKI, dipilih secara acak, tetapi tidak ada jaminan tidak adanya rekayasa. Pengadu pun sama sekali tidak mengenal siapa ahli itu, dan lagipula tidak  melibatkan ahli dari pihak pengadu. 
“Semua disumpah bu,  dan kami tidak melindungi dokter, justru kami ingin melindungi masyarakat Indonesia dari kelakukan orang-orang tidak benar,” kata Baziad lagi, masih mencoba meyakinkan Pesta bahkan sambil menyebutkan beberapa kasus yang berhasil ditangani MKDKI. Tetapi bagi Pesta, semua keterangan itu hanyalah omong kosong. Ia mencontohkan kasus dr Boyke Dian, spesialis kandungan, yang dicabut surat izin prakteknya oleh MKDKI hanya karena laporan ketidakpuasan seorang pasien yang dirujuk ke dokter lain.  
Sementara Pesta harus kehilangan anaknya akibat kelalaian dokter yang oleh awam pun, tidak bisa diterima dengan akal sehat. Sebuah pertanyaan pun muncul, sehebat apakah pasien yang tidak puas tersebut, dibanding Pesta dan keluarganya.   Mulai dari putusan yang dinilai tidak adil, sikap majelis yang dingin, hingga rumitnya birokrasi di MKDKI membuat Pesta kini hilang kepercayaan terhadap lembaga ini. Dia menyesal tidak menggubris larangan kenalannya untuk tidak mengadu ke MKDKI.  
“Tadinya saya mau langsung perdata, tetapi karena menghormati MKDKI saya ajukan kasus ini sejak 2010. Harapan kami tidak muluk-muluk, dokter Faisal harus dinyatakan bersalah dan mengakui itu, itulah keadilan buat anak kami,” kata Pesta.  
Masih basah di ingatan Pesta bagaimana dokter Faisal dan dan dokter lainnya memperlakukan putrinya. Awalnya, Angel, begitu sebutan akrab anaknya, menderita asma, kemudian dibawa ke RS Persahabatan untuk berobat.   Di sana Angel diperiksa dokter Faisal dan dinyatakan baik, sehingga tidak perlu dirawat, dengan memberikan resep obat 4 macam, yakni antibiotik, bronchopolin, meptin syrup dan kenacort. Setelah makan sore Angel diberikan obat tersebut, tetapi malah membuatnya gelisah, terbangun dan sulit tidur malam harinya.  
Keesokan harinya karena kondisi Angel tidak membaik, atas saran dokter Faisal, Angel dibawa ke RS Persahabatan untuk dirawat. Dokter Faisal berjanji dia sendiri yang akan menangani pasien, tetapi dari pukul 07.00 hingga pukul 22.00 WIB, sang dokter yang sangat dipercaya oleh pasien itu tidak kunjung datang.   Dia hanya menugaskan dokter jaga yang memeriksa Angel dan melaporkan kepadanya melalui telepon genggam. Setelah itu diketahui ternyata dokter Faisal berarum jeram di Bandung, lalu pulang ke Jakarta masih sempat berpraktek di Thamrin, baru tengah malamnya mengunjungi Angel.   Semua tindakan terhadap Angel atas instruksi dokter Faisal.
Menurut dokter, Angel harus diuap per 30 menit, 20 menit dan 15 menit. Jarak waktu yang sangat dekat, bahkan penguapan dilakukan saat Angel sedang makan, sehingga terpaksa berhenti. Sejak penguapan yang berlebihan itu, perut Angel kembung panas dank eras, bibir merah menjadi menghitam. Dokter mendesak untuk memasukan Angel ke dalam ventilator. Berbagai alat kemudian masuk ke mulut Angel, dan mereka mulai bergantian memompa. Pipi, dada dan kelopak mata Angel membengkak. Karena tidak membaik, Angel dilarikan ke RS Thamrin, tetapi saat tiba kesadarannya sudah koma. Dokter Bambang Supriyatno dari  RSCM yang membesuk Angel di RS Thamrin, menjelaskan karena dipompa terjadi pecah saluran napas, mengakibatkan keluar udara ke paru-paru dan sel kulit. Jika sampai ke jantung bisa menghimpit jantung, sehingga harus dibedah.  Angel juga mengalami radang paru karena keterlambatan penanganan.  
Leher Angel kemudian dibedah untuk mengeluarkan uap tersebut, dan setelah itu keadaannya membaik, tidak ada lagi pembengkakan. Pada hari kelima dirawat di ruang ICU, keadaan Angel drop dan jantungnya kembali dipacu tim dokter. Ketika ditanya tentang dropnya Angel, keterangan tim dokter ini berbeda satu sama lain, tetapi menawarkan obat yang harganya Rp 3 juta sekali suntik.
Selama perawatan itu, Angel diberikan berbagai macam obat dan kerap dipompa. Hingga hari ke-10 dirawat, Angel  yang lahir di Jakarta, 21 Desember 2006 akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Kini, Pesta hanya bisa berharap kisahnya ini menjadi pelajaran bagi para orangtua untuk lebih teliti menjaga anak, dan tidak asal percaya. [SP/Dina Manafe] 

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*