TERAPI PEMBEDAHAN OTOT JANTUNG

Jaringan parut dapat dijadikan otot jantung tanpa menggunakan sel punca!!

Tim peneliti Duke University Medical Center membuktikan bahwa jaringan parut yang terbentuk pasca serangan jantung dapat diubah meenjadi sel-sel otot jantung dengan menggunakan suatu proses baru yang menghilangkan dibutuhkannya transplantasi sel punca (stem cell). Dalam studi ini untuk memicu perubahan jaringan jantung di dalam caan petri pada tikus hidup, dan hal ini menunjukan potensi proses regenersi jaringan yang lebih sederhana.

depression-cause-heart-attack-1 Respon terhadap cedera jantung ditandai dengan terjadinya regenerasi kardiomiosit yang tidak adekuat dan pembentukka fibrosis berlebihan, sehingga secara bermakna menganggu struktur dan fungsi jaringan. Meskipun telah banyak perkembangan yang ditemukan dalam kedokteran regeneratif kardiak, tetapi repopulasi jaringan jantung yang rusak dengan kardiomiosit baru dan fungsional masih merupakan tantangan besar. Belakangan ini beberapa studi menunjukan bahwa pemrogramaran kembali sel-sel somatik untuk menginduksikan sel-sel iPS dimungkinkan dengan menggunakan pemerograman seluler untuk regenerasi jaringan kardiak.

Meskipun demikian, ada kekhawatiran mengenai terjadinya heterogenisitas dalam pematangan dan fungsi kardiomiosit yang berasal dari sel punca, retensi dan ketahanan hidup sel yang tidak cukup panjang, maupun potensinya untuk menimbulkan tumor. Keterbatasan-keterbatasan tersebut dapat ditanggulangi dengan pemrograman secara langsung sel-sel somatik menjadi kardiomosit menghindarkan proses menuju tingkat sel pluripoten. Laporan yang ada belakangan ini menjelaskan penggunaan 3 faktor transkriptor kardiak (Gata4, mef2c, dan Tbx5), untuk memprogram kembali fibroblas tikus secara langsung menjadi kardiomiosit. Meskipun demikian, belum ada bukti yang melaporkan proses pemrograman kembali in-vivo secara langsung.

Jika hasil studi ini dapat dikonfirmasi pada sel-sel manusia, maka dapat merupakan suatu metode baru untuk mengobati 23 juta orang di seluruh dunia yang menderita gagal jantung, yang seringkali disebabkan terbentuknya jaringan parut pasca serangan jantung. Metode ini juga dapat diterapkan di luar penyakit jantung.

Dr.Victor J.Dzau yang memimpin studi ini menyatakan bahwa hasil studi ini implikasinya sangat betmakna untuk berbagai pengobatan. Jika metode ini dapat digunakan untuk penyakit jantung, tentunya hal ini juga dapat digunakan terhadap organ otak, ginjal maupun jaringan yang lain. Hal ini akan merupakan metode baru melakukan regenerasi jaringan.

Untuk merangsang regenerasi, para peneliti mengunakan miRNA yang bertindak sebagai regulator yang mengontrol aktivitas gen secara multipel. Digabung dalam kombinasi yang spesifik,miRNA dimasukkan kedalam jaringan parut fibroblas, yang terbentuk pasca suatu serangan jantung yang menganggu kemampuan jantung dalam memompa darah,.

heart-attack miRNA yang sudah masuk tersebut akan memprogram kembali fibrolas untuk menjadi sel-sel yang menyerupai kardiomiosit yang membentuk otot jantung. Para peneliti tidak hanya membuktikan konsep ini di dalam laboratorium, tetapi juga membuktikan bahwa konversi sel tersebut juga dapat terjadi didalam tubuh tikus. Dan hal ini yang dibutuhkan dalam kedokteran regeneratif, untuk dijadikan terapi yang potensial.

Dikatakan bahwa peneliti telah mampu menghasilkan konversi jaringan di dalam jantung dengan miRNA, dimana pemberian secara langsung ke dalam sel adalah lebih praktis dan memungkinkan dikembangkannya terapi tanpa metode genetik atau transplantasi sel-sel punca. Penggunaan miRNA untuk regenerasi jaringan ini mempunyai beberapa keuntungan dibanding metode genetik atau transplantasi sel punca, karena sulit sekali melakukan pengaturan di dalam tubuh. Khususnya proses miRNA menghilangkan masalah teknik seperti gangguan genetik, dan juga menghindari dilema etik yang dihadapi oleh sel-sel punca.

Yang menarik adalah bahwa dalam studi ini ditunjukan bahwa miR-1 secara tunggal sudah cukup untuk menginduksi pemrograman kembali kardiak, tetapi efektif tersebut secara dramatik meningkat dalam kombinasi dengan miRNA 133,208,499, dan bahkan lebih meningkat lagi dengan JAK inhibitor I. Analisis para peneliti menunjukan bahwa suatu set spesifik miRNA (miR-1,mir 133,mir 208, dan mir499) tidak hanya efesien dalam menginduksi ekspresi penanda kardiak dalam fibroblas, tetapi juga efesien dalam mengubah fibroblas menjadi sel-sel dengan sifat-sifat fungsional yang dipunyai oleh kardiomosit, seperti ekspresi saluran L-type, osilasi kalsium spontan, dan kontraktilitas.

Kombinasi lengkap miRNA tidak mengubah secara total jumlah sel-sel yang diprogramkan kembali, tetapi cenderung meningkatkan pematangan sel-sel yang mengalami konversi. Selain itu, efektivitas gabungan miRNA dengan JAK inhibitor I menghasilkan peningkatan secara bermakna efesien melalui peningkatan induksi aMHC dan ekspresi saluran-saluran ion kardiak. Meskipun jalur mokuler pasti yangterlibat dalam proses ini belum diketahui sampai saat ini, namun studi awal ini menunjukan bahwa miRNA secara langsung mengubah fibroblas menjadi kardiomiosit, tanpa melalui perubahan menjadi sel yang bersifat pluripoten terlebih dahulu. Selain itu, mekanisme pasti JAK inhibitor I juga belum jelas.

Belakangan ini, JAK inhibitor I dilaporkan mampu merangsang transdiferensiasi kardiomiosit dari fibroblas embrionik secara parsial melalui supresi jalur untuk menjadi sel pluripoten. Masih perlu diteliti lebih lanjut apakah efek ini mirip dengan fibroblas kardiak yang ada setelah lahir. Meskipun demikian, laporan ini memberikan bukti bahwa efesien pemrograman kembali kardiak dengan industri miRNA secara langsung adalah meningkat secara bermakna dengan aplikasi molekul kecil ini, serta mencerminkan kemajuan besar dibidang ini.

Para peneliti menyatakan bahwa penemuan ini masih dalam sangat dini, dan kita baru belajar bahwa kita mampu mengubah nasib suatu sel. Metode ini akan diuji pada binatang yang lebih besar, dan terapi dengan metode ini mungkin dapat diterapkan dalam satu dekade ke depan, jika studi-studi pendukung dapat dilakukan pada binatang lebih besar dan manusia.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*