ENTEROBACTER SAKAZAKII

Oleh: dr. Harry Wahyudhy Utama
Penulis dan Pemerhati kesehatan
Prabumulih Post, 18 Maret 2008

Baru-baru ini di nusantara kita dikejutkan oleh penemuan yang ditemukan oleh tim penelitian di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Tim peneliti ini menemukan bahwa hampir seperempat dari susu bubuk formula yang diteliti mereka ternyata mengandung bakteri yang berbahaya. Bakteri ini akhirnya dalam waktu sekejap menjadi terkenal di media-media, baik media elektronik maupun media cetak. Bakteri yang menjadi aktor utama tersebut bernama enterobacter sakazakii.

Sejenis bakteri ini yang ditemukan pada tahun 1980 di Jepang. Melirik umur ditemukannya, bakteri ini sebenarnya tidak baru lagi. Jika kita lihat lebih dekat fisik bakteri ini, maka ia akan terlihat sebagai suatu jenis bakteri gram negatif berbentuk seperti balok. Ruang hidup bakteri ini sama seperti bakteri-bakteri lain pada umumnya, hidup di susu mentah yang menjadi sumber bahan baku maupun peralatan-peralatan yang digunakan untuk mengolah susu.
Negara-negara asing seperti di Amerika Serikat, Denmark, Belanda, Portugal, Israel, Belgia dan Perancis, sudah terlebih dahulu meneliti dan menemukan bakteri ini pada susu formula tiap-tiap negara tersebut sejak akhir tahun 1900-an. Sebenarnya Indonesia termasuk cepat, karena para peneliti IPB berhasil menemukan 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) yang dipasarkan antara bulan April hingga Juni 2006 lalu terkontaminasi bakteri ini. Hasil ini disampaikan oleh Sri Estuningsih, jurubicara tim peneliti dalam keterangan yang dipublikasikan Kantor Humas IPB, pada tanggal 19 Februari lalu.
Mengapa bakteri enterobacter sakazakii ini begitu menggemparkan penduduk Indonesia? Hal ini tentu disebabkan karena akibat yang akan ditimbulkan dari infeksi bakteri ini. Bowen and Braden (2006) pernah meneliti 46 kasus bakteri ini, 12 bayi diantaranya ternyata menderita bakteremia, 33 bayi menderita meningitis dan 1 bayi menderita infeksi traktus urinarius. Kemudian para peneliti di Indonesia mencoba ikut menelitinya pada bayi mencit yang ternyata menimbulkan sepsis (infeksi peredaran darah) dan meningitis (infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak).
Yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya mengapa baru sekarang kita dihebohkan oleh berita seperti ini? Bukankah keberadaan tentang bakteri ini sudah diteliti sejak awal ditemukannya. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh IPB yang katanya didanai oleh APBN pada tahun 2006 tersebut, mengapa baru sekarang dipublikasikan oleh tim peneliti IPB? Bukankah hasil tersebut sudah mereka dapatkan sejak dua tahun yang lalu. Selain itu, hasil yang didapat dari apa yang diteliti oleh tim peneliti IPB ini pun tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang didapat di negara lain tersebut.
Ibu Menteri Kesehatan, Dr. Siti Fadillah Supari SpJP mempunyai komentar sendiri mengenai masalah ini, menteri menganggap bahwa penelitian ini mempunyai motif tertentu yang harus dicurigai dan ia menduga ada kepentingan bisnis di dalamnya. Hal yang dikatakan oleh ibu menteri ini bukan tanpa alasan mengingat ada beberapa perusahaan yang memproduksi susu jenis ini sehingga tidak menutup kemungkinan adanya usaha untuk mencemarkan salah satu produk kompetitor susu bubuk dan makanan bubur tersebut. Salah satu perusahaan yang diterpa kabar tidak sedap ini adalah PT Sari Husada (SHDA). Gara-gara kabar adanya bakteri itu, menurut Rolland Haas, pemegang saham minoritas SHDA, SHDA pernah menghentikan salah satu pabriknya di Yogyakarta (TRUST edisi 21-5).
Sebenarnya seberapa bahayakah bakteri ini bagi manusia hingga menjadi berita utama di berbagai media tersebut? Enterobacter sakazakii sebenarnya juga terdapat di berbagai macam makanan, tetapi hanya susu bubuk formula bayi yang dapat menimbulkan penyakit karena bayi belum mempunyai pertahanan tubuh yang cukup terhadap infeksi dari bakteri ini. Kelompok umur yang mempunyai resiko tertinggi mengalami infeksi Enterobacter sakazakii adalah pada neonatus (bayi yang berusia kurang dari 28 hari), bayi yang lahir tidak cukup bulan, lahir dengan berat badan rendah atau bayi dengan gangguan pada sistem imunitas tubuhnya, ibu yang menderita HIV dan ibu yang tidak menyusui anaknya. Bayi yang terinfeksi akan mengalami meningitis, abses otak serta kematian. Bahkan di sebuah penelitian menyebutkan bahwa infeksi E. sakazakii di neonatus ini mengakibatkan angka kematian hingga 80%.
Pada dasarnya, ada tiga cara bakteri ini dapat masuk ke dalam susu formula; pertama melalui alat produksi yang digunakan; kedua kontaminasi oleh zat tambahan lain setelah proses pasteurisasi; dan ketiga pada saat memberikan susu tersebut kepada bayi. Usus saluran pencernaan bayi akan ditempati oleh E. sakazakii. Gejala awal yang bisa ditemui pada bayi yang menderita infeksi ini sama seperti sakit infeksi pada umumnya antara lain; bayi akan terlihat rewel, kulit kuning, suara nafas seperti merintih dan suhu tubuh yang naik turun. Waktu perjalanan penyakit ini berkisar antara dua hingga delapan minggu. Pada sebagian besar kasus, infeksi seperti ini apabila dibiarkan akan mengakibatkan terjadinya meningitis (inflamasi akut yang menyerang saraf pusat dan membran otak). Timbul kista dan abses otak, kematian sebagian otak, dan hidrosefalus (penimbunan cairan di dalam otak sehingga kepala bayi akan terlihat membesar dari ukuran kepala anak pada umumnya). Bakteri ini juga kemudian dapat masuk ke dalam darah mengakibatkan kematian sel-sel usus bayi.
Budi Satrio Isman, Direktur Utama SHDA mengatakan bahwa selama ini BPOM memang melakukan pengecekan rutin pada perusahaannya tetapi tidak rutin, selain itu, belum adanya batas ambang maksimal yang diperbolehkan belum diatur oleh BPOM semakin persulit pihak mereka untuk menentukan ambang yang diperbolehkan pada kesehatan. Ia juga menambahkan bahwa suatu produk susu formula itu sangat tidak mungkin untuk terbebas bakteri.
World Health Organization and Food and Agriculture Organization of the United Nations pada bulan Februari 2004 telah membuat rekomendasi sebagai berikut;
1. Mengharuskan mitra-mitra industri untuk membangun suatu produksi susu formula se-steril mungkin, mulai dari persiapan, pembuatan dan penyimpanan;
2. mempertimbangkan sebuah standar minimal jumlah E. sakazakii dalam susu formula bayi;
3. memberitahukan para ibu tentang resiko susu bubuk formula nonsteril;
4. pertimbangan pemberian susu formula steril jika ibu tidak bisa memberikan susu. Dengan adanya rekomendasi ini diharapkan akan menurunkan resiko terkena infeksi bakteri dari susu formula.
Atas dasar itulah maka haruslah dilakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi kemungkinan terinfeksi bayi ini, terutama pada ibu yang tidak bisa menyusui anaknya dengan alasan apapun, sebisa mungkin untuk memasak susu formula tersebut setelah dicampur dengan air karena susu bubuk formula bukan produk yang steril. Bukan hanya itu, dari pihak pemerintah, terutama Departemen Kesehatan (DepKes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) harus senantiasa melakukan uji quality standar pada setiap produk susu formula yang diproduksi oleh masing-masing produsen sesering mungkin. Tanpa mengesampingkan dugaan “agenda tersembunyi” yang dilontarkan oleh Menkes, alangkah lebih baiknya jika semua pihak yang terkait untuk dapat segera menyelesaikan masalah ini dengan tetap memperhatikan dasar masalahnya, membuat standar baku seperti yang telah ditetapkan oleh WHO sehingga para konsumen dapat dengan nyaman mengkonsumsi semua jenis produk susu yang ada di pasaran dan tidak menjadi korban tanpa dosa dan fitnah serta korban konspirasi produk seperti yang dikatakan Menkes karena tongkat estafet pembangunan bangsa ini akan digenggam oleh tangan-tangan halus mereka.
Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*