PUNYA DOKTER KELUARGA, ENAK GAK YA?

 Dokter keluarga? Kapan lagi kita bisa punya dokter pribadi yang mengerti kondisi keadaan kita, seperti kata Butet Kertarajasa dalam iklannya “Dokter memang mengerti saya, di zaman serba sulit ini..” Maklum belanja kesehatan masyarakat Indonesia tergolong rendah. Jangankan memiliki dokter pribadi, saat menderita sakit pun enggan berobat atau tidak mau ke dokter karena keterbatasan dana. Dokter keluarga cuma delapan atau sepuluh ribu perbulannya? Siapa yang nggak mau, tul gak?

Sebenarnya, dokter keluarga itu apa sih?
Sama dengan dokter yang lainnya. Tapi bedanya… dokter ini lebih mengutamakan pencegahan daripada pengobatan. Jadi merubah paradigma selama ini yang semula paradigma sakit menjadi paradigma sehat. Dokter ini dituntut untuk memahami dengan mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungannya serta pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memilah jenis kelamin, usia serta faktor-faktor lainnya. Ini berdasarkan The American Academy of Family Physician, 1969; Geyman, 1971; McWhinney, 1981

Tanya punya tanya nih… dari seminar dan semiloka mengenai dokter keluarga, ketua IDI DR.dr. Fahmi Idris M. Kes mengatakan bahwa sekarang sudah saatnya dokter kembali ke filosofi awal mereka;
Cure often
Heal sometimes
Care always
Jadi dokter kita nantinya berfokus bukan mengobati diri kita, tapi sebaliknya menjaga dan merawat diri kita selaku klien mereka. (wah… boleh konsul tiap hari nih)

Tapi jangan buru-buru bisa mendapat dokter rumah yang murah, soalnya penerapan dokter keluarga ini baru dilakukan di Sumatera Selatan, jadi buat yang tinggal di luar Sumatera Selatan harap bersabar dulu, ya pak ya…
Tapi apa bener dokter rumahan ini lebih baik dari dokter yang biasa-biasanya ya?
Dari program yang ditawarkan tampaknya luar biasa… dan dengan kemampuan yang selangit. Katanya nih.. dokter keluarga ini akan menjadi penjaga gerbang “gate keeper” dari pelayanan kesehatan kita. Dokter keluarga memberikan pelayanan medis secara tepat dan akurat berdasarkan riwayat kesehatan keluarga kita sehingga bisa memberikan tindakan medis secara tepat dan menghindari kecenderungan dari dokter yang “nakal” dan tindakan medis “yang berlebihan”. Selain itu, dokter kita ini tak hanya terampil di bidang medis tetapi juga bisa memulihkan masalah sosial, emosi, dan faktor psikologi yang berkaitan dengan penyakit.

Nah, yang jadi pertanyaan saya apakah memang dokter dengan semua kemampuan plus plus ini memang sudah ada dan sudah siap dengan segala amunisi dan baju anti pelurunya? Bagaimana bila sang dokter bertemu dengan konsumen yang kritis yang selalu meminta perhatian lebih dari sang dokter? (gak adil dong pak, kalo satu mau ketemu terus sama pak dokter, kami juga gitu)
Apakah saya boleh memilih dokter keluarga yang saya inginkan jika nantinya dokter keluarga ini dibiayai oleh negara? Karena saya yakin bahwa tidak semua dokter mempunyai kompetensi untuk dijadikan dokter keluarga
Selain itu, bukankah dokter yang diproduksi oleh fakultas kedokteran ini lebih berfokus untuk melakukan pengobatan dan terapi daripada yang bersifat pencegahan. Belum lagi bila konsumen bertemu dengan dokter yang tidak bersifat entrepreneur, dan sulit untuk berkomunikasi?

Belum lagi ketika saya mendengar perkataan dari mantan ketua IDI dr Farid Anfasa bahwa nantinya masyarakat yang ditangani satu orang dokter itu sekitar 2.500 hingga 3.000 orang. Bayangkan? Apa benar mereka akan mampu mengingat segala sesuatu yang terjadi dengan kliennya?

Dari semua pertanyaan saya diatas, biar waktu yang menjawabnya
Kami sebagai calon konsumen dan warga negara yang menginginkan pelayanan kesehatan yang adil dan sama rata hanya berharap agar uang yang berasal dari saku dan keringat kami dipergunakan sebaik-baiknya… Jangan dipakai buat jalan-jalan en korupsi ya..pak dokter ya…dosa…

Loading...

5 Comments

  1. apalagi kl ditambah seluruh masyarakat terlindungi oleh asuransi kesehatan (asuransinya jg hrs sehat :D)..

    mencegah lbh baik drpd mengobati
    kesehatan lbh mahal drpd pengobatan 😀

  2. iya bener… tapi setelah saya tanya punya tanya sama sang ahli…
    ternyata indonesia masih kepepet pada satu masalah…
    DANA…
    jangankan dokter keluarga..membuat sistem kesehatan yang baik pun dananya terbatas..
    belum lagi dana yang terbatas,
    penyalurannya pun tidak tepat, bila sudah tersalur, maka
    pemanfaatannya pun tidak sesuai, setelah itu
    pengelolaan dananya tidak benar., belum lagi
    dana untuk pengelolaan peningkatan kesehatan yang semakin meningkat…

  3. saya dengar TS yg telah jadi dokter keluarga di sumsel banyak dukanya diantaranya harus menyediakan tempat praktek dgn modal awal yg cukup besar,mencakup bayar kontrakan,alkes,gaji karyawn dll.belum lagi PT ASKES yg sering telat menurunkan dana 20jt/bln dptong pajaksehingga TS mengeluh sering tekor.pdhl tiap hari dokter dwjibkan melakukan kunjungan rumah minim 4 KK/hr,tiap mggu msti mengadakan penyuluhan ke desa2 blm lagi msti menyediakan “dana”,snack, bagi aparat desa demi kelancaran acara tersebut.belum lagi tiap bln mesti memberikan laporan hasil kinerja.dgn adanya tim penilik/audit dari dinkes tentunya merepotkan contohnya mereka menginginkan dana yg diberikan mesti habis untuk kegiatan,sebaliknya bila masih ada sisa dana dipertanyakan mereka kira dokter tidak bekerja maksimal.trus dokter dapat apa? dengan sekelumit gambaran diatas tentunya membuat para dokter enggan menjadi dokter keluarga.Comment mereka:”jadi dokter keluaga??? CAPEK DEEEEH….!

  4. @dr. inge
    boleh tau, dokter inge tinggal di sumsel?

    berhubung udah ganti gubernur, kyaknya dokter keluarga di sumsel bakal tenggelam lagi neeh…
    kasian… maklum selama ini biaya buat dokternya diambil dari APBD provinsi yang mesti acc pak gub
    🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*