Senin, 23 Februari 2026

KULIAH II KRITISI EVALUASI RADIOGRAF: Prinsip Dasar Pembentukan Gambar Radiograf

Pembentukan gambar radiograf merupakan hasil interaksi antara sinar-X, tubuh pasien, dan sistem deteksi gambar. Radiograf pada dasarnya adalah bayangan dua dimensi dari struktur tiga dimensi, yang terbentuk karena perbedaan kemampuan jaringan dalam menyerap (mengatenuasi) sinar-X.


1️⃣ Pembentukan Sinar-X

Sinar-X dihasilkan di dalam tabung sinar-X ketika elektron berkecepatan tinggi menumbuk target logam (biasanya tungsten). Proses ini menghasilkan radiasi elektromagnetik berenergi tinggi yang mampu menembus tubuh manusia. Intensitas dan kualitas sinar-X dipengaruhi oleh:

  • kVp (kilovolt peak) → menentukan daya tembus
  • mAs (milliampere-second) → menentukan jumlah foton sinar-X
  • Waktu eksposur
  • Jarak sumber ke detektor

Semakin tinggi kVp, semakin besar daya tembus sinar-X.


2️⃣ Interaksi Sinar-X dengan Jaringan

Ketika sinar-X melewati tubuh, sebagian akan:

  • Diserap (absorpsi)
  • Dihamburkan (scatter)
  • Diteruskan (transmisi)

Perbedaan tingkat penyerapan inilah yang membentuk kontras gambar.

Prinsip atenuasi:

  • Tulang → banyak menyerap sinar-X → tampak putih (radioopak)
  • Udara → sedikit menyerap → tampak hitam (radiolusen)
  • Jaringan lunak → menyerap sedang → tampak abu-abu

Semakin besar perbedaan atenuasi antar jaringan, semakin tinggi kontras gambar.


3️⃣ Pembentukan Bayangan pada Detektor

Sinar-X yang berhasil menembus tubuh akan mengenai:

  • Film (pada sistem analog)
  • Detektor digital (pada sistem modern)

Bagian tubuh yang banyak menyerap sinar akan mengurangi jumlah sinar yang sampai ke detektor → menghasilkan area terang.
Bagian yang sedikit menyerap memungkinkan lebih banyak sinar mencapai detektor → menghasilkan area gelap.

Dengan demikian, gambar radiograf adalah pola distribusi intensitas sinar-X yang keluar dari tubuh.


4️⃣ Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Gambar

Beberapa faktor teknis penting:

🔹 Kontras: Perbedaan tingkat keabuan antar jaringan.
🔹 Densitas: Tingkat kegelapan keseluruhan gambar.
🔹 Resolusi spasial: Kemampuan melihat detail kecil.
🔹 Distorsi: Perubahan ukuran atau bentuk akibat posisi atau sudut penyinaran.

Karena radiograf adalah gambar 2D, struktur dapat saling tumpang tindih, sehingga lesi kecil bisa tersembunyi.


5️⃣ Konsep Penting dalam Radiografi

  • Superimposisi: Struktur anatomis bertumpuk dalam satu bidang proyeksi.
  • Efek Proyeksi: Perbedaan posisi (AP vs PA) dapat memengaruhi ukuran bayangan, misalnya jantung tampak lebih besar pada proyeksi AP.
  • Scatter Radiation: Radiasi hamburan dapat menurunkan kontras gambar.

6️⃣ Kesimpulan Prinsip Dasar

Gambar radiograf terbentuk karena:

  1. Sinar-X diproduksi dalam tabung
  2. Sinar-X melewati tubuh
  3. Jaringan menyerap sinar dengan tingkat berbeda
  4. Sinar yang tersisa ditangkap detektor
  5. Perbedaan intensitas membentuk bayangan anatomi

Radiograf bukan foto langsung organ, tetapi representasi fisik dari interaksi radiasi dengan jaringan.

KULIAH I KRITISI EVALUASI RADIOGRAF: Pengantar Radiografi & Konsep Kritik Radiologis

SEJARAH

Sejarah penemuan sinar-X berawal dari perkembangan pesat ilmu fisika pada akhir abad ke-19. Pada masa itu, para ilmuwan di Eropa berlomba-lomba meneliti fenomena listrik dan radiasi dalam tabung hampa udara. Penelitian tentang sinar katoda menjadi fokus utama karena menunjukkan adanya pancaran energi yang belum sepenuhnya dipahami. Eksperimen ini membuka jalan bagi berbagai temuan baru dalam bidang fisika modern.

Salah satu ilmuwan yang aktif meneliti fenomena tersebut adalah Wilhelm Conrad Röntgen, seorang profesor fisika di Universitas Würzburg, Jerman. Ia dikenal sebagai peneliti yang teliti dan metodis. Pada tahun 1895, Röntgen melakukan eksperimen menggunakan tabung Crookes, yaitu tabung kaca hampa udara yang dialiri arus listrik tegangan tinggi untuk menghasilkan sinar katoda.

Pada tanggal 8 November 1895, saat laboratoriumnya dibuat gelap dan tabung sinar katoda ditutup kertas hitam tebal, Röntgen mengamati sesuatu yang tidak biasa. Ia melihat layar fluoresen yang dilapisi barium platinocyanide memancarkan cahaya meskipun sumber cahaya tertutup. Hal ini menunjukkan adanya radiasi tak terlihat yang mampu menembus bahan penutup tersebut.

Röntgen menyadari bahwa radiasi ini berbeda dari cahaya biasa. Ia melakukan percobaan lebih lanjut dengan meletakkan berbagai benda di antara tabung dan layar fluoresen. Ia menemukan bahwa kertas dan kayu dapat ditembus, tetapi logam dan tulang memberikan bayangan yang jelas. Karena belum mengetahui sifat radiasi tersebut, ia menamakannya sinar “X”, dengan huruf X melambangkan sesuatu yang belum diketahui.

Dalam eksperimen berikutnya, Röntgen mencoba memotret bagian tubuh manusia. Ia meminta istrinya, Bertha Röntgen, untuk meletakkan tangannya di depan pelat fotografi. Hasilnya adalah gambar tulang tangan dan cincin yang dikenakan istrinya. Radiograf tangan tersebut menjadi gambar sinar-X pertama dalam sejarah dan membuktikan potensi besar penemuan ini dalam dunia medis.

Pada akhir tahun 1895, Röntgen mempublikasikan temuannya dalam sebuah makalah ilmiah berjudul “Über eine neue Art von Strahlen” (Tentang Jenis Sinar yang Baru). Publikasi tersebut segera menarik perhatian komunitas ilmiah internasional. Dalam waktu singkat, laboratorium dan rumah sakit di berbagai negara mulai melakukan eksperimen serupa.

Penggunaan sinar-X dalam bidang kedokteran berkembang sangat cepat. Dokter mulai memanfaatkannya untuk mendeteksi fraktur tulang, peluru dalam tubuh tentara, serta kelainan lainnya tanpa harus melakukan pembedahan. Penemuan ini dianggap revolusioner karena untuk pertama kalinya struktur internal tubuh dapat dilihat tanpa tindakan invasif.

Atas jasanya yang luar biasa bagi ilmu pengetahuan, Röntgen dianugerahi Hadiah Nobel Fisika pertama pada tahun 1901. Ia memilih untuk tidak mematenkan penemuannya, dengan alasan bahwa sinar-X harus dimanfaatkan seluas-luasnya untuk kepentingan umat manusia. Keputusan ini mempercepat penyebaran teknologi radiografi ke seluruh dunia.

Seiring waktu, teknologi sinar-X terus berkembang. Radiografi konvensional mengalami penyempurnaan dalam hal kualitas gambar dan keamanan radiasi. Perkembangan selanjutnya melahirkan teknologi pencitraan yang lebih canggih, seperti CT scan, yang memanfaatkan prinsip sinar-X untuk menghasilkan gambaran penampang tubuh secara lebih detail.

Hingga saat ini, sinar-X tetap menjadi salah satu pilar utama dalam dunia radiologi dan diagnostik medis. Penemuan yang bermula dari eksperimen sederhana di laboratorium Würzburg tersebut telah mengubah praktik kedokteran secara fundamental. Sejarah penemuan sinar-X bukan hanya kisah tentang radiasi, tetapi juga tentang rasa ingin tahu ilmiah, ketelitian penelitian, dan dedikasi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

KULIAH II TEKNIK DASAR USG: SEJARAH

 


Pada awal tahun 1950-an, teknologi ultrasonik mulai beralih dari laboratorium fisika dan militer ke dunia klinis. Saat itu, beberapa peneliti di Amerika Serikat dan Eropa mulai mencoba menggunakan gelombang ultrasonik untuk membedakan jaringan normal dan jaringan patologis, terutama tumor. Sistem yang digunakan masih sangat sederhana dan berukuran besar, bahkan sebagian merupakan modifikasi dari peralatan industri atau militer.

Salah satu tokoh yang sangat berperan dalam perkembangan USG klinis adalah Ian Donald, seorang dokter kandungan dari Glasgow, Skotlandia. Sekitar tahun 1955–1958, ia bekerja sama dengan insinyur teknik untuk mengadaptasi alat ultrasonik industri menjadi alat medis. Pada awalnya, ia menggunakan sistem A-mode (Amplitude mode), yaitu tampilan grafik satu dimensi berupa lonjakan gelombang yang menunjukkan adanya pantulan dari struktur dalam tubuh. Metode ini belum menghasilkan gambar seperti sekarang, tetapi sudah mampu membedakan massa kistik (berisi cairan) dan massa padat berdasarkan pola pantulannya.

Salah satu pencapaian penting Ian Donald adalah kemampuannya membedakan kista ovarium dari tumor padat abdomen tanpa pembedahan eksploratif. Pada masa itu, banyak pasien dengan massa abdomen langsung menjalani operasi karena keterbatasan metode diagnostik. Dengan ultrasonografi, dokter dapat memperkirakan sifat lesi secara non-invasif. Ini merupakan lompatan besar dalam dunia kedokteran.

Kemudian sistem berkembang menjadi B-mode (Brightness mode), yang mulai menghasilkan gambaran dua dimensi. Pada tahun 1958, Ian Donald dan timnya mempublikasikan hasil penelitian yang menunjukkan penggunaan USG untuk mengevaluasi kehamilan, termasuk pengukuran ukuran janin dan deteksi kelainan tertentu. Inilah awal penggunaan USG dalam bidang obstetri dan ginekologi, yang kemudian menjadi aplikasi paling luas hingga saat ini.


Namun, pada fase awal tersebut kualitas gambar masih sangat terbatas:

  • Resolusi rendah
  • Gambar statis (belum real-time)
  • Tampilan hitam-putih kasar
  • Proses akuisisi gambar memerlukan waktu lama

Transduser masih menggunakan kristal tunggal dan sistem mekanik untuk menggerakkan berkas suara. Untuk memperoleh satu gambar saja bisa memakan waktu beberapa menit. Tidak seperti sekarang yang real-time, dahulu pemeriksaan terasa lebih lambat dan kurang praktis.

Memasuki akhir 1960-an hingga 1970-an, kemajuan elektronik dan komputer memungkinkan munculnya real-time ultrasound, di mana pergerakan janin dapat dilihat langsung di layar. Hal ini merevolusi praktik obstetri karena dokter dapat memantau perkembangan janin secara dinamis, mengukur biometrik, dan mendeteksi komplikasi lebih dini.

Dengan demikian, kontribusi Ian Donald bukan hanya memperkenalkan USG ke praktik klinis, tetapi juga mengubah paradigma diagnosis di bidang kebidanan dan kandungan — dari pendekatan invasif menjadi non-invasif. Perkembangan yang dimulai pada tahun 1950-an tersebut menjadi fondasi bagi teknologi USG modern yang kita gunakan saat ini di berbagai bidang radiologi.

diasonograph
Diasonograph adalah pemindai ultrasound 2D komersial pertama di dunia, yang dikembangkan di Glasgow, Skotlandia, pada akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an. Alat ini merevolusi perawatan prenatal dengan memungkinkan tenaga medis untuk pertama kalinya melihat janin di dalam rahim secara langsung.


Memasuki dekade 1970–1980-an, kemajuan besar dalam bidang elektronik dan teknologi komputer membawa perubahan signifikan pada sistem ultrasonografi. Sebelumnya, mesin USG masih menggunakan sistem mekanik dan pemrosesan analog yang menghasilkan gambar statis dengan resolusi terbatas. Dengan berkembangnya mikroprosesor dan sistem pemrosesan sinyal digital (digital signal processing), mesin USG mulai mampu mengolah data echo dengan lebih cepat dan lebih akurat. Hal ini meningkatkan kualitas resolusi spasial, kontras, serta mengurangi noise pada gambar.

Salah satu lompatan terbesar pada periode ini adalah munculnya real-time imaging. Jika pada generasi awal dokter harus menunggu hasil gambar statis diproses, maka sistem real-time memungkinkan gambar ditampilkan secara langsung di layar saat transduser digerakkan. Artinya, dokter dapat melihat organ bergerak secara dinamis—misalnya kontraksi jantung, gerakan katup jantung, atau pergerakan janin di dalam rahim. Kemampuan ini sangat revolusioner karena memungkinkan evaluasi fungsi, bukan hanya struktur.

Selanjutnya, teknologi Doppler ultrasound mulai dikembangkan dan disempurnakan pada akhir 1970-an hingga 1980-an. Prinsip Doppler didasarkan pada perubahan frekuensi gelombang suara akibat pergerakan objek, dalam hal ini sel darah yang mengalir di dalam pembuluh. Dengan teknologi ini, USG tidak hanya mampu menampilkan anatomi organ, tetapi juga dapat menilai arah, kecepatan, dan karakteristik aliran darah. Munculnya Color Doppler memungkinkan visualisasi aliran darah dalam bentuk warna (umumnya merah dan biru untuk arah berbeda), sementara Spectral Doppler menampilkan grafik kecepatan aliran terhadap waktu. Inovasi ini memperluas penggunaan USG ke bidang kardiologi dan vaskular karena fungsi hemodinamik dapat dinilai secara non-invasif.

Memasuki era modern, USG berkembang menjadi modalitas diagnostik yang sangat luas penggunaannya. Dalam bidang abdomen, USG digunakan untuk evaluasi hati, ginjal, kandung empedu, dan organ intraabdomen lainnya. Dalam kardiologi, berkembang menjadi ekokardiografi, yang mampu menilai struktur dan fungsi jantung secara detail. Pada sistem vaskular, USG digunakan untuk mendeteksi stenosis arteri atau trombosis vena. Dalam muskuloskeletal, USG membantu menilai tendon, ligamen, dan sendi secara dinamis. Di bidang kegawatdaruratan, protokol FAST (Focused Assessment with Sonography for Trauma) memungkinkan deteksi cepat cairan bebas intraabdomen pada pasien trauma.

Keunggulan utama USG dibandingkan modalitas lain adalah tidak menggunakan radiasi ionisasi, sehingga relatif aman untuk ibu hamil dan pemeriksaan berulang. Selain itu, alatnya semakin portabel—bahkan kini tersedia dalam bentuk handheld—serta mampu memberikan hasil secara real-time. Kombinasi faktor keamanan, kecepatan, biaya yang relatif lebih rendah, dan fleksibilitas penggunaan menjadikan ultrasonografi sebagai salah satu modalitas pencitraan paling penting dan paling sering digunakan dalam praktik kedokteran modern.

TIME LINE

🔹 1880 – Penemuan Efek Piezoelektrik
Ditemukan oleh Jacques Curie dan Pierre Curie
Kristal menghasilkan listrik saat ditekan
Kristal bergetar saat diberi arus listrik
Menjadi dasar kerja transduser USG

🔹 1915–1917 – Pengembangan SONAR (Perang Dunia I)
Dikembangkan oleh Paul Langevin
Digunakan untuk mendeteksi kapal selam
Menggunakan prinsip pulse–echo (pantulan gelombang suara)
Konsep ini menjadi dasar sistem USG modern

🔹 1939–1945 – Penyempurnaan SONAR (Perang Dunia II)
Teknologi makin akurat & sensitif
Sistem perhitungan jarak berdasarkan waktu tempuh gelombang
Meningkatkan pemahaman tentang pantulan gelombang dalam medium cair

🔹 1950-an – Awal Penggunaan Klinis
USG mulai digunakan dalam diagnosis medis
Ian Donald
Digunakan untuk evaluasi tumor abdomen & kehamilan
Mengembangkan sistem B-mode awal

🔹 1958 – Diasonograph
Mesin USG 2D komersial pertama
Dikembangkan di Glasgow, Skotlandia
Revolusi dalam bidang obstetri

🔹 1965–1967 – Real-Time Ultrasound
Sistem real-time pertama dikembangkan oleh Siemens
Dokter dapat melihat gambar bergerak langsung
Revolusi dalam ekokardiografi & obstetri

🔹 1970-an – Teknologi Grayscale
Peningkatan kualitas gambar
Tampilan berbagai tingkat abu-abu
Detail jaringan lebih jelas

🔹 1980-an – Era Modern Awal
Munculnya Color Doppler
Penilaian aliran darah
USG 3D mulai dikembangkan
Mesin menjadi lebih portabel

🔹 1990–Sekarang – USG Modern
Resolusi tinggi
3D & 4D imaging
Portable & handheld ultrasound
Digunakan luas di:
Abdomen
Obstetri
Jantung
Vaskular
Muskuloskeletal
Emergency (FAST)

KULIAH I TEKNIK DASAR USG: SEJARAH

Sebelum tahun 1900/akhir tahun 1800

Sejarah ultrasonografi (USG) berawal dari pemanfaatan gelombang suara frekuensi tinggi dalam bidang fisika dan kelautan. Pada awal abad ke-20, prinsip gelombang ultrasonik mulai dipelajari setelah ditemukannya efek piezoelektrik oleh Jacques dan Pierre Curie pada tahun 1880. Mereka mengamati bahwa kristal tertentu (seperti kuarsa) dapat menghasilkan muatan listrik ketika diberikan tekanan mekanik. Tidak lama kemudian ditemukan pula kebalikannya, yaitu jika kristal tersebut diberi arus listrik, ia akan bergetar dan menghasilkan gelombang suara berfrekuensi sangat tinggi (ultrasonik).  Prinsip inilah yang kemudian menjadi dasar kerja transduser USG modern.

Kata piezo berasal dari bahasa Yunani piezein yang berarti “menekan”. Efek piezoelektrik adalah fenomena fisika di mana material tertentu menghasilkan muatan listrik ketika diberi tekanan mekanik, dan sebaliknya akan mengalami deformasi (bergetar) ketika diberi tegangan listrik.

Tegangan listrik → menghasilkan getaran mekanik

Jika kristal diberi arus listrik bolak-balik (AC), kristal akan:

  • Mengembang
  • Mengkerut
  • Bergetar sangat cepat

Tahun 1900 an awal

Jadi, ketika kristal piezoelektrik diberikan arus listrik bolak-balik (alternating current/AC), kristal tersebut akan mengalami ekspansi dan kontraksi secara sangat cepat. Getaran periodik inilah yang menghasilkan gelombang suara. Jika frekuensi getaran melebihi 20.000 Hz (20 kHz), maka gelombang tersebut disebut ultrasonik, karena berada di atas ambang pendengaran manusia. Getaran inilah yang menjadi prinsip utama kerja transduser USG. 

Perkembangan teknologi yang kemudian menjadi cikal bakal USG medis memang sangat erat kaitannya dengan teknologi SONAR (Sound Navigation and Ranging) dalam bidang militer.

Awalnya, penelitian tentang deteksi objek di dalam air mulai berkembang setelah tragedi tenggelamnya RMS Titanic pada tahun 1912. Peristiwa tersebut mendorong para ilmuwan untuk mencari metode mendeteksi gunung es dan objek bawah laut. Salah satu tokoh penting pada fase awal ini adalah Paul Langevin, yang sekitar tahun 1915–1917 (Perang Dunia I) mengembangkan sistem deteksi bawah laut berbasis gelombang ultrasonik menggunakan kristal kuarsa. Sistem ini memanfaatkan prinsip piezoelektrik untuk menghasilkan dan menerima gelombang suara berfrekuensi tinggi di dalam air.

Pada masa Perang Dunia II (1939–1945), teknologi SONAR berkembang jauh lebih pesat. Negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Jerman menyempurnakan sistem ini untuk mendeteksi kapal selam musuh. Prinsip kerjanya sederhana tetapi revolusioner:

  1. Perangkat memancarkan pulsa gelombang suara ke dalam air.
  2. Gelombang merambat hingga mengenai objek (misalnya kapal selam).
  3. Gelombang dipantulkan kembali sebagai echo.
  4. Sistem menghitung waktu tempuh gelombang untuk menentukan jarak objek.
Setelah perang berakhir, para ilmuwan mulai menyadari bahwa prinsip yang sama dapat diterapkan bukan hanya di air laut, tetapi juga pada jaringan biologis. Tubuh manusia, seperti air, dapat menghantarkan gelombang suara. Jika gelombang dapat dipantulkan oleh kapal selam, maka secara teori gelombang juga dapat dipantulkan oleh organ tubuh.

Tahun 1940 an

Memasuki akhir 1940-an hingga awal 1950-an, beberapa peneliti mulai bereksperimen menggunakan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi tumor dan struktur internal tubuh. Salah satu pelopor penting dalam aplikasi medis adalah Ian Donald di Skotlandia pada pertengahan 1950-an, yang menggunakan prinsip pantulan gelombang untuk mengevaluasi massa abdomen dan kehamilan.

Jadi secara kronologis:

  • 1880 → Penemuan efek piezoelektrik
  • 1915–1917 → Pengembangan awal SONAR (PD I)
  • 1939–1945 → Penyempurnaan SONAR (PD II)
  • Akhir 1940-an–1950-an → Adaptasi konsep pulse-echo ke bidang medis

Dari sinilah lahir ultrasonografi diagnostik, yang pada dasarnya merupakan “adaptasi medis” dari teknologi deteksi kapal selam.