Skip to content
Tentang iklan-iklan ini

Posts tagged ‘ki hajar dewantara’

KI HAJAR DEWANTARA

ki hajar dewantara Yoyakarta dan Ki Hajar Dewantara tak pernah bisa dipisahkan. Berkat Ki Hajar Dewantara, Yogyakarta tumbuh mekar menjadi kota pelajar. Di kota inilah Ki Hajar mendirikan Perguruan Taman Siswa. Benih-benih pendidikan yang luhur nan mulia beliau semaikan dengan penuh kegigihan dan kesabaran. Suatu siang, Bobo berkunjung ke Yogya dan bertamu ke rumah Bapak pedidikan tersebut. Wouh, mengagumkan!

Dewantara Kirti Griya

Bila kalian ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ke rumah Ki Hajar Dewantara. Catat alamatnya baik-baik: Museum Dewantara Kirti Griya, jalan Taman Siswa 31, Yogyakarta. Lho kok museum? Iya, rumah kediaman Ki Hajar Dewantara kini memang telah dijadikan museum. Siapapun boleh bertamu disitu.

Museum Dewantara Kirti Griya resmi dibuka tanggal 2 Mei 1970. Kata Dewantara, diambil dari nama Ki hajar Dewantara . kata kirti diambil dari kata sansekerta kritya yang berarti pekerjaan. Sedangkan kata Griya berarti rumah. Maka, Dewantara Kirti Griya berarti rumah hasil kerja Ki hajar Dewantara.

Berada di museum ini, seolah kita benar-benar bertamu ke rumah Ki hajar Dewantara. Hanya, tentu saja, kita tak mungkin menemui beliau. Ya, Ki hajar Dewantara yang lahir tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta, telah tiada pada tanggal 26 April 1959. Namun begitu, kita bisa merasakan betapa suasana bekas kediaman Ki hajar Dewantara tersebut begitu akarab dan berwibawa. Pepohonan disekitarnya juga tumbuh rindang dan asri.

Telepon Antik

Memasuki museum Dewantara Kirti Griya, kita seperti sedang berkunjung ke rumah kakek atau eyang kakung kita. Ya, kita bisa melongok kamar tidur dan kamar kerja beliau. Didekat pintu kamar tidur tersandar beberapa tongkat yang biasa dipakai Ki hajar untuk jalan-jalan. Sedang di atas meja tulis terdapat tas buku, kacamata, vulpen, pensil warna merah dan sebagainya.

Foto-foto Ki hajar Dewantara juga tersaji di museum itu. Semuanya masih hitam putih. Ada foto ketika Ki hajar masih remaja. Juga foto “Tiga Serangkai”, Dokter Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Soewardi Suryaningrat (Ki hajar Dewantara). Tak ketinggalan, foto pengantin baru saat Ki hajar Dewantara bersanding dengan istrinya, R.Aj. Sutartinah. Sungguh sebuah album foto yang manis.

Disamping itu, adapula sebuah pesawat telepon antic, buatan Swedia tahun 1927. Mereknya Kellog. Mmm… sungguh elok. Pesawat telepon itu terbuat dari kayu dan sebagian dari besi, dengan nomor panggilan 43. Tentu, telpon tersebut tidak bisa lagi dipakai berhalo-halo.

Ribuan judul buku

Kebesaran nama Ki hajar Dewantara terlihat jelas di museum ini. Sebagai bapak Pendidikan, beliau menyimpan ribuan judul buku. Ada yang dalam bahasa daerah (jawa), melayu dan Belanda. Buku-buku itu melewati pustaka ketamansiswaan, politik, pendidikan dan kebudayaan. Selain buku, adapula koleksi aneka majalah lama.

Diantara ribuan buku itu, terlihat sejumlah buku karya Ki hajar Dewantara sendiri, yang berjudul Taman Indrya dan Pantjasila. Ada juga buku sastra salah Asoehan karya Abdoel Moeis, terbitan Balai Poestaka, 1928. Juga buku Mentjari Pentjuri Anak Perawan karangan Soeman Hs. Balai Poestaka, 1932. Antic nian.

Yang tak kalah mengagumkan, ternyata Ki hajar Dewantara juga mengoleksi banyak surat penting, jumlahnya ada 879 pucuk. Surat-surat itu telah dibuatkan microfilm dab tersimpan di arsip nasional, Jakarta. Namun, sura aslinya masih tetap menjadi koleksi Museum Dewantara Kirti Griya.

Sepucuk surat bertanggal 23 Februari 1928 menyebutkan bahwa pada usia 40 tahun menurut perhitungan jawa, yang jatuh pada tahun 1928 (masehi), Soewadi Soeryadiningrat berganti nama menjadi Ki hajar Dewantara. Ah kalian pasti tahu, sebelum menyandang nama Ki hajar Dewantara, tokoh pendidikan kita bernama Soewadi Soeryadiningrat. Juga ada surat penting dari Presiden Soekarno, tetanggal 19 Agustus 1945 yang memutuskan bahwa Ki hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Hebat kan?

Hasil Penjualan Buku

Luas bangunan museum Dewantara Kirti Griya 300 m2, berdiri di atas tanah 2.720 m2. Sebagian besar bangunan museum masih sama seperti bentuk asli rumah Ki Hajar Dewantara dulu. Tanah dan bangunan tersebut di beli Ki Hajar tahun 1934 dengan harga FL 3.000,00 (tiga ribu gulden belanda). Hebatnya, uang pembelian diperoleh Ki Hajar dari hasil penjualan buku Sari Swara, karya Ki Hajar Dewantara.

Pada tahun 1952, Ki Hajar Dewantara menyerahkan rumahnya pada Yayasan Persatuan Perguruan Taman Siswa. Sebagai gantinya, Taman Siswa mempersembahakan tempat tinggal di jalan Kusumanegara 131 Mujauju, Yogyakarta. Tujuh tahun kemudian beliau wafat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 8.649 pengikut lainnya.