Skip to content
About these ads

Posts tagged ‘Indonesia dan tulisan’

SEJARAH BACA TULIS RAKYAT INDONESIA

Pada bab terdahulu kalian telah mempelajari definisi dan ruang lingkup sejarah dan bedanya dengan prasejarah. Pada bab ini kalian akan menelusuri tradisi sejarah masyarakat di Indonesia pada masa sebelum dan sesudah mengenal aksara. Simaklah baik-baik!

clip_image002

Sumber: Indonesian Heritage: Sejarah Awal

Sebagai makhluk berbudaya, tentunya masyarakat kuno di Ke- pulauan Nusantara telah mengenal peradaban. Sama seperti suku dan bangsa lain di bumi ini, rakyat di Nusantara telah mengembangkan kebudayaannya. Masing-masing suku di Nusantara mengembangkan bentuk dan corak kebudayaannya berdasarkan “selera” masing- masing. Salah satu pengembangan menurut seleranya ini adalah terbentuknya ragam bahasa yang berbeda, yang kemudian menjadi bahasa daerah. Cara pikir pun memengaruhi bentuk tradisi sejarah yang berbeda, meski hampir sama.

Pengembangan dan perkembangan budaya ini telah ber- langsung sejak masyarakatnya belum mengenal sistem tulis yang menggunakan aksara sebagai lambang bunyi. Dan setelah mulai mengenal tulisan, tradisi masyarakat pun berkembang dan ma- kin beragam. Setiap daerah di Nusantara makin menemukan jati dirinya sebagai sebuah komunitas yang mandiri serta berbeda dengan komunitas lainnya.

1. TRADISI MASYARAKAT INDONESIA SEBELUM MENGENAL AKSARA

Kehidupan sebelum masyarakat mengenali tulisan atau aksara disebut kehidupan prasejarah. Setiap bangsa di muka bumi ini pasti pernah mengalami masa prasejarah. Bangsa-bangsa kuno yang terkenal berkebudayaan tinggi pun, seperti Babilonia, Me- sopotamia, Asyiria, Yunani, Romawi, Maya-Inka, Cina, India, pasti pernah mengalami era prasejarah yaitu zaman sebelum mengenal sistem tulis.

Memang, tiap-tiap bangsa mengalami masa pra-aksara berbeda-beda. Masa prasejarah Cina tentu tak sama dengan masa prasejarah Indonesia. Bangsa Cina telah mengenal sistem aksara jauh sebelum periode Masehi. Sedangkan, rakyat Nusantara baru mengenal sistem tulis setelah masa masehi. Selain itu, aksara yang dipakai oleh kedua bangsa ini berbeda, Cina memakai aksara Cina sedangkan Indonesia menggunakan aksara Pallawa. Aksara Pal- lawa ini pun hasil pengaruh dari orang-orang India Selatan.

Akibat dari tiadanya informasi dalam bentuk tulisan ini maka para peneliti sangat sukar untuk mengetahui kehidupan masa prasejarah ini. Manusia-manusia prasejarah hanya meninggalkan benda dan artefak kebudayaan mereka. Dengan demikian, para peneliti hanya mampu menafsirkan tentang kehidupan manusia masa prasejarah berdasarkan peninggalan-peninggalan yang dite- mukan. Kita tak mungkin mengetahui segala kejadian manusia se- cara keseluruhan. Namun, bukan berarti benda-benda prasejarah tersebut tidak bermanfaat. Benda-benda tersebut memberitakan kepada kita tentang bagaimana manusia-manusia zaman dahulu memperlakukan alam sekitar.

Salah satu fungsi sejarah adalah untuk memberikan identitas kepada masyarakatnya. Sebuah masyarakat dengan kebudayaan, nilai-nilai, norma-norma, tradisi, dan adat istiadat yang sama, pasti memiliki jejak-jejak sejarahnya di masa lampau. Dengan demikian kisah sejarah dianggap perlu untuk menunjukkan jati dirinya yang membedakan dengan masyarakat lainnya. Kisah sejarah juga dianggap perlu sebagai pengalaman kolektif bersama di masa lampau. Bahkan seringkali garis keturunan yang sama dapat mempererat rasa solidaritas di antara anggota masyarakatnya secara turun-temurun. Oleh karena itu, suatu kisah sejarah yang dapat menjelaskan keberadaan suatu kolektif dianggap perlu, baik pada masyarakat sebelum maupun sesudah mengenal tulisan.

Pada masyarakat yang belum mengenal tulisan kisah sejarah disebarluaskan dan diwariskan secara lisan sehingga menjadi bagian dari tradisi lisan mereka. Sebuah tradisi lisan seringkali mengisahkan pengalaman masa lampau jauh ke belakang, sejak adanya manusia pertama bahkan sebelum adanya manusia sampai terciptanya suatu kolektif yang dikenal sebagai masyarakat atau pun suku bangsa.

Sebagai sebuah karya sejarah tradisional maka tradisi lisan tidak menggunakan prosedur penulisan sejarah ilmiah. Karya- karya yang disebarkan melalui tradisi lisan seringkali memuat sesuatu yang bersifat supra-natural di luar jangkauan pemikiran manusia. Dalam karya-karya tersebut antara fakta dan imajinasi serta fantasi bercampur baur.

Karya-karya dalam tradisi lisan biasanya dikenal sebagai bagian dari folklor. Tradisi lisan ini antara lain berupa mitos, legenda, dan dongeng. Tradisi lisan itu kemudian disebarkan dan diwariskan. Dalam pandangan sejarah modern tentunya cerita rakyat semacam itu tidaklah mengandung nilai sejarah. Akan te- tapi, bagi masyarakat tradisional hal itu dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Cerita itu kemudian dijadikan sebagian dari simbol identitas bersama mereka dan sebagai alat legitimasi tentang keberadaan mereka.

Penyebaran dan pewarisan tradisi lisan memiliki banyak versi tentang satu cerita yang sama. Hal ini menunjukkan dalam penyebaran dan pewarisan tradisi lisan telah terjadi pembiasan dari kisah aslinya, walaupun seringkali tokoh yang menjadi figur dalam cerita itu adalah tokoh sejarah. Hal ini disebabkan ingatan manusia yang terbatas dan adanya keinginan untuk memberikan variasi-variasi baru pada cerita-cerita itu. Oleh karena itu, kisah sejarah yang disalurkan lewat tradisi lisan itu akan terus menga- lami perubahan. Perubahan yang diakibatkan oleh imajinasi dan fantasi dari pencerita. Akibatnya, fakta sejarah itu makin kabur atau tenggelam sama sekali karena adanya penambahan atau pengurangan dari masing-masing nara sumber.

Contoh lainnya, yaitu epos tentang Hang Tuah, pahlawan Me- layu yang merupakan tokoh sejarah. Karena dijalin oleh berbagai tambahan dan penafsiran yang subjektif maka tokoh Hang Tuah mengalami proses metamorfosis menjadi tokoh dongeng. Hang Tuah digambarkan tidak pernah mati. Ia selalu hidup terus dan se- sekali muncul menolong bangsa Melayu. Tradisi lisan Hang Tuah ini akhirnya dinaskahkan. Akan tetapi, karena penulisannya tidak berazaskan ilmiah, kisah Hang Tuah menyimpang dari fakta seja- rah sesungguhnya dan menjadi dongeng atau cerita dalam rangka kesusastraan lama. Di Jawa tokoh-tokoh penyebar Islam pada masa awal penyebaran Islam yang dikenal sebagai para wali, kemudian juga dikenal sebagai tokoh legenda yang memiliki kemampuan supra-natural dan makamnya dianggap keramat dan ditafsirkan oleh masyarakat yang belum mengenal tulisan. Dalam pewarisan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, terdapat banyak keberpihakan dalam penafsiran dan penjelasan suatu peristiwa masa lalu, walaupun demikian, tradisi lisan memiliki fungsi yang penting bagi masyarakatnya. Tradisi lisan dalam bentuk mitos, legenda maupun dongeng melukiskan kondisi fakta mental dari masyarakat pendukungnya. Tradisi lisan juga merupakan sim- bol identitas bersama masyarakatnya sehingga tradisi lisan juga merupakan simbol solidaritas dari masyarakatnya. Tradisi lisan juga menjadi alat legitimasi bagi keberadaan suatu kolektif, baik sebuah marga, masyarakat maupun suku bangsa.

Sehubungan dengan hal itu, tradisi lisan tidaklah melukiskan kenyataan atau fakta yang sesungguhnya. Walaupun tokoh-tokoh dan waktu terjadinya peristiwa itu memang benar-benar ada, tetapi keseluruhan kisahnya banyak mengalami perubahan. Hal-hal yang pada awalnya merupakan fakta atau kenyataan, akhirnya menjadi bentuk mitos dan legenda karena adanya penambahan-penam- bahan atau pengurangan fakta sejarah. Dalam bentuk mitos dan legenda sulit sekali memisahkan antara fakta dengan kepercayaan yang ditafsirkan oleh masyarakat yang belum mengenal tulisan.

Dalam pewarisan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, terdapat banyak keberpihakan dalam penafsiran dan penjelasan suatu peristiwa masa lalu, walaupun demikian, tradisi lisan memi- liki fungsi yang penting bagi masyarakatnya. Tradisi lisan dalam bentuk mitos, legenda, maupun dongeng melukiskan kondisi fakta mental (mentifact) dari masyarakat pendukungnya. Tradisi lisan juga bisa merupakan simbol identitas bersama masyarakatnya sehingga tradisi lisan juga bisa menjadi simbol solidaritas dari masyarakatnya. Tradisi lisan ini juga menjadi alat legitimasi bagi keberadaan suatu komunitas yang manyangkut suku bangsa.

2. TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA SETELAH MENGENAL AKSARA

Sebelum masyarakat mengenal sistem tulisan, masyara- kat Indonesia telah berhubungan dengan para pedagang asing, terutama dari Cina Selatan dan India Selatan. Karena Kepulauan Nusantara terletak di antara jalur pelayaran Cina-India maka para pedagang yang pergi dari Cina ke India atau sebaliknya dipastikan melewati perairan Indonesia. Selama pelayaran ini, para pedagang asing menyempatkan diri singgah di tempat-tempat di Indonesia.

Persinggahan para pedagang asing tersebut dapat berlangsung sementara atau untuk waktu yang cukup lama. Adakalanya mereka singgah di pelabuhan-pelabuhan yang ramai didatangi para pelaut dan pedagang lain, sekadar menawarkan barang dagangnya. Dan adakalanya pula mereka mencari dan membuka lahan baru sebagai tempat tinggal sementara sebelum melanjutkan pelayaran. Ingat, pelayaran mereka sangat tergantung pada kondisi cuaca.

Para pedagang dan pelaut asing yang berdiam relatif lama itu pada akhirnya bersosialisasi dengan penduduk pribumi Nusantara. Dengan demikian, terjadilah kontak budaya antara mereka dengan orang-orang pribumi. Memang, pengaruh India dan Cina terhadap kehidupan pribumi tidak sama. Ini terlihat dari segi politik. Kita akan mengetahui bahwa ternyata orang-orang Indialah yang banyak memainkan peran politik di awal-awal tarikh masehi di Nusantara. Ini terlihat dari sistem pemerintahan kerajaan yang diadopsi dari sistem di India.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para pakar, bangsa Indonesia memasuki zaman sejarah sekitar abad ke-5

Masehi, yaitu dengan ditemukannya tujuh buah prasasti yang berbentuk yupa di daerah Kutai, Kalimantan Timur. Pengaruh India sangat kental dalam penemuan yupa tersebut yaitu terdapatnya huruf Pallawa yang tertulis dalam yupa tersebut. Dari sinilah kemudian tradisi sejarah pada masyarakat Indonesia mulai terbentuk. Mereka mulai membuat catatan tertulis atau merekam pengalaman hidup masyarakatnya. Berikut contoh beberapa rekaman pengalaman masyarakat Indonesia yang berwujud prasasti sebagai berikut:

1. Prasasti

a. Prasasti Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai terletak di sekitar aliran Sungai Mahakam, Ka- limantan Timur. Menurut bukti prasasti yang ditemukan, Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Prasasti Kutai itu berbentuk tugu atau yupa yang berbahasa sanskerta dan huruf pallawa. Dalam salah satu prasasti dinyatakan nama-nama raja seperti Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman sebagai peringatan upacara kurban. Dilihat dari bentuk tulisan pada yupa diduga prasasti itu dibuat pada abad ke-5 Masehi.

Raja terkenal Kutai adalah Mulawarman, seperti diungkap- kan pada salah satu yupa berikut ini: ”Sang Maharaja Kudungga yang amat mulia mempunyai putra yang masyur yang bernama Aswawarman. (Dia) mempunyai tiga orang putra yang seperti api. Yang terkemuka di antara ketiga putranya adalah sang Mulawarman, raja yang besar, yang berbudi baik, kuat, dan kuasa, yang telah upacara korban emas amat banyak dan untuk memperingati upacara korban itulah tugu ini didirikan”.

Ia sering disamakan dengan Ansuman, yaitu Dewa Matahari. Raja Mulawarman dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Ia juga memiliki hubungan yang baik dengan kaum Brahmana yang datang ke Kutai. Diceritakan bahwa Raja Mulawarman sangat dermawan. Ia memberi sedekah segunung minyak dan lampu. Ia juga memberikan hadiah 20.000 ekor lembu kepada Brahmana di suatu tempat yang disebut Wafrakeswara. Wafrakeswara adalah tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa Raja Mulawarman menganut agama Hindu Siwa. Dari besarnya sedekah Raja Mulawarman ini memperlihat- kan keadaan masyarakat Kutai yang sangat makmur. Kemakmu- ran ini didukung oleh peranan yang besar. Kerajaan Kutai dalam pelayaran dan perdagangan dunia. Hal ini disebabkan karena letak Kutai yang sangat strategis, yaitu berada dalam jalur perdagangan utama Cina−India.

b. Prasasti Kerajaan Tarumanagara

Kerajaan Tarumanagara terletak di daerah Bogor, Jawa Barat. Adanya kerajaan tertua di Pulau Jawa ini, didukung oleh beberapa prasasti, seperti:

  • Prasasti Ciaruteun/Ciampea (Bogor). Prasasti Ciaruteun ditemukan di dekat muara Cisadane. Pra- sasti itu ditulis pada sebuah batu besar disertai cap sepasang telapak kaki. Terjemahan tulisan prasasti itu antara lain: Ini bekas sebuah kaki yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Purnawarman, raja negeri Taruma yang gagah berani di dunia.
  • Prasasti Kebon Kopi (Bogor). Prasasti ini ditemukan di Cibungbulang, Bogor. Dalam prasasti ini terdapat gambar dua telapak gajah yang disama- kan dengan telapak gajah Airawata (gajah kendaraan Dewa Wisnu). Terjemahan tulisan prasasti itu antara lain: Di sini tampak sepasang dua telapak kaki…. yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) agung dan … kejayaan. Isi prasasti tidak dapat dibaca selengkapnya karena ada bagian tulisan yang sudah usang.
  • Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta). Prasasti ini ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti ini merupakan prasasti Tarumanagara yang terpanjang dan terpenting. Isinya antara lain tentang penggalian sebuah saluran sepanjang 6112 tumbak (lebih kurang 11 Km), yang bernama Gomati. Penggalian itu dilakukan pada tahun ke−22 pemerintahan Raja Purnawarman. Pekerjaan penggalian diselesaikan dalam waktu 21 hari. Setelah selesai, diadakan selamatan di mana raja memberikan hadiah 1000 ekor sapi kepada para Brahmana. Di samping itu, prasasti tugu menyebutkan penggalian sungai bernama Candrabaga.
  • Prasasti Muara Cianten (Bogor). Prasasti ini ditulis dengan huruf ikal dan belum dapat dibaca.
  • Prasasti Jambu (Leuwiliang). Prasasti ini ditemukan di Bukit Koleangkak, termasuk perkebunan Jambu, kira−kira 30 km sebelah barat Bogor. Prasasti ini berisi sanjungan kebesaran, kegagahan, dan keberanian Raja Purnawarman.
  • Prasasti Lebak (Banten). Prasasti Lebak ditemukan pada tahun 1947. Prasasti ini hanya terdiri atas dua baris kalimat. Corak tulisan mirip dengan tulisan pada prasasti Tugu. Isinya memuji kebesaran dan keagungan Raja Purnawarman.

Sumber prasasti Tarumanagara dibuat dengan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Dari salah satu prasasti diketahui di- ketahui Raja terkenal dari Tarumanegara adalah Purnawarman. Hal itu seperti diungkapkan dalam prasasti Ciaruteun, yaitu: ”Ini adalah dua tapak kaki Raja Purnawarman raja dari negeri Taruma, raja yang gagah berani”. Purnawarman pun dikenal sebagai raja yang memperhatikan masalah pertanian dan peternakan yang diungkapkan dalam prasasti Tugu.

c. Kerajaan Sriwijaya

Prasasti-prasasti yang berkaitan dengan kerajaan Sriwijaya antara lain:

  • Prasasti Kedukan Bukit. Isi Prasasti menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengada- kan perjalanan suci (sidhayarta) dengan perahu dan mem- bawa 2.000 orang. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil menaklukkan beberapa daerah.
  • Prasasti Talang Tuwo. Isi prasasti menyatakan pembuatan taman bernama Sriksetra. Taman itu dibuat oleh Dapunta Hyang untuk kemak- muran semua makhluk.
  • Prasasti Telaga Batu. Isi prasasti menyatakan kutukan bagi rakyat yang melakukan kejahatan dan tidak taat pada perintah raja.
  • Prasasti Kota Kapur. Isi prasasti menyatakan usaha Kerajaan Sriwijaya untuk menaklukkan Jawa yang tidak setia kepada Sriwijaya.
  • Karang Berahi. Isi kedua prasasti menyatakan permintaan dewa agar menjaga Kerajaan Sriwijaya dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat.

Isi prasasti membawa kita pada kesimpulan sebagai berikut.

(a) Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Telaga Batu yang ditemukan di dekat Palembang menceritakan berdirinya Ke- rajaan Sriwijaya pada tahun 683 M. Pusat kerajaan terletak di dekat kota Palembang sekarang.

(b) Prasasti Kota Kapur dan Karang Berahi yang ditemukan di Bangka dan Jambi menceritakan wilayah kekuasaan Sriwijaya sampai ke Pulau Bangka dan Melayu.

Setelah prasasti di atas, sumber sejarah tentang Kerajaan Sriwijaya dapat kita ketahui dari prasasti di Indo Cina dan India serta catatan-catatan Cina dan Arab. Catatan dari Cina berasal dari I Tsing, seorang rahib Buddha. Sedangkan catatan dari Arab berasal dari Raihan Al-Beruni seorang ahli geografi dari Persia.

2. Karya Sastra

Selain prasasti yang telah dijelaskan di atas, bukti kebiasaan tulisan yang dilakukan oleh raja-raja di kerajaan di Indonesia adalah ketika mereka mempunyai para penulis keraton atau para pujangga yang bertugas mencatat beberapa peristiwa penting yang berkaitan dengan kerajaannya. Misalnya, menyangkut sebuah peristiwa penting yang menyangkut bidang sosial, ekonomi, politik maupun keagamaan, serta pembuatan silsilah kerajaan dan kebijakan-kebijakan raja.

Para pujangga istana menulis tentang hal-hal yang baik dan positif saja dari seorang raja, bersifat istanasentris dan mempu- nyai tujuan untuk menunjukan kelebihan, keistimewaan, dan menjadi alat legitimasi dari seorang raja. Misalnya, ketika di kerajaan Singosari Ken Arok membentuk wangsa Giridrawangsa untuk memberikan pemahaman kepada rakyat bahwa dia adalah keturunan dewa.

Pada awalnya karya sastra ini ditulis di atas daun lontar yang bila rusak selalu diperbaiki. Sejalan dengan kemajuan teknologi kemudian diubah menggunakan kertas. Karya sastra ini bisa berbentuk puisi, kakawin, maupun prosa. Berikut karya sastra yang dimaksud antara lain:

(a) Kitab Kakawin Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, pada masa pemerintahan Raja Jayabaya dari Kediri. Kisah peperangan Pandawa dengan Kurawa yang secara implisit menggambarkan perang antara Jenggala dan Kediri.

(b) Kitab Kakawin Hariwangsa dan Gatotkacasraya, karya Mpu Panuluh.

(c) Kitab Smaradhana, karya Mpu Dharmaja.

(d) Kitab Lubdaka dan Kitab Wrtasancaya, karya Mpu Tana- kung.

(e) Kitab Kresnayana, karya Mpu Triguna.

(f) Kitab Pararaton, isinya sebagian besar mitos tentang riwayat Ken Arok, Riwayat Raden Wijaya dan Kertanegara sampai menjadi raja di Majapahit.

(g) Kitab Sundayana, yang mengisahkan terjadinya peristiwa Bubat, yaitu perkawinan yang berubah menjadi pertempuran.

(h) Negarakretagama, yang dikarang oleh Mpu Prapanca, mengisahkan perjalanan Hayam Wuruk ke daerah-daerah kekua- saan Majapahit.

(i) Kitab Sutasoma, yang dikarang oleh Mpu Tantular, berisi tentang riwayat Sutasoma, seorang anak raja yang menjadi pendeta Budha. Dalam kitab ini tergambar adanya kerukunan umat beragama di Majapahit antara umat Hindu dengan umat Budha. Dalam kitab ini terdapat ungkapan Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.

(j) Kitab Ranggalawe, yang menceritakan pemberontakan Ranggalawe.

(k) Kitab Sorandaka, yang menceritakan pemberontakan Sora. (l) Kitab Usana Jawa, yang menceritakan penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar.

Sedangkan tradisi tulisan peninggalan kerajaan-kerajaan Islam berupa karya sastra yang mendapat pengaruh dari Persia. Namun pengaruh sastra Indonesia dan Hindu juga masih ada. Pada masa itu muncullah hikayat, yaitu karya sastra yang kebanyakan berisi dongeng belaka, ada pula yang berisi cerita sejarah; di pulau Jawa disebut babad biasa di Jawa berupa puisi (tembang) di luar Jawa bisa berbentuk syair atau prosa. Beberapa contoh karya sastra antara lain:

(1) Cerita Panji

Mengisahkan perkawinan Panji Inu Kertapati, putra raja Kahuripan dengan Galuh Candra Kirana, putri raja Daha. Perkawinan berlangsung setelah berhasil mengatasi berbagai kesulitan.

(2) Cerita Amir Hamzah

Mengisahkan permusuhan antara Amir Hamzah dengan mertuanya, raja Nursewan dari Madayin, yang masih kafir.

(3) Hikayat Bayan Budiman

Mengisahkan burung nuri yang pandai cerita sehingga Prabawati yang ditinggal suaminya, Madasena, berlayar terhindar dari perbuatan serong.

(4) Hikayat Hang Tuah

Mengisahkan perkawinan Hang Tuah, abdi raja Malaka yang setia, gagah berani, lagi bijaksana. Setelah mengundurkan diri, kemudian Hang Tuah hidup sebagai pertapa dan hilang secara gaib.

Hang Tuah adalah tokoh sejarah, yaitu laksamana armada kerajaan Malaka waktu masa jayanya. Ia adalah prajurit yang utama, berani serta pandai dan bijaksana, dan abdi sang raja yang taat dan setia. Bisa dikatakan dalam segala hal ia adalah wakil sang raja dan duta kerajaannya.

Berkali-kali namanya kita jumpai dalam Sejarah Melayu, dan ia selalu dijadikan contoh teladan.

Dalam hikayat ini ia digambarkan sudah menjadi pahlawan pada masa Gajah Mada (sekitar tahun 1350), mengenal kerajaan Wijayanagara di India pada puncak kejayaannya (sekitar tahun 1500) dan mengalami pula jatuhnya Malaka pada tahun 1511, bahkan juga direbutnya Malaka oleh Be- landa pada tahun 1641!

Hang Tuah tidak meninggal melainkan gaib, setelah ia mengundurkan diri dari hidup kemasyarakatan dan menjadi petapa. Sebagai keramat ia masih sering kali menampakkan diri kepada keturunannya. Demikianlah menurut ceritanya.

Hikayat Raja-Raja Pasai

Kitab ini disusun sekitar abad ke−15 M. Isinya mengenai riwayat raja-raja yang pernah memerintah Samudera Pasai. Hikayat Raja-raja Pasai. Kitab babad ini dalam pokoknya meriwayatkan kerajaan Pasai, sejak didirikan oleh Malik al-Saleh (wafat th. 1297) sampai ditaklukkan oleh Majapahit zaman Gajah Mada.

Angka tahun tidak ada didapatkan dalam kitab ini, dan uraian seluruhnya ditenun dalam dongeng-dongeng sehingga jika tidak ada bahan-bahan sejarah untuk mencocokkan dan sebagai perbandingan maka tak dapatlah kita membedakan mana fakta-fakta sejarahnya. Demikianlah misalnya, permula- annya berupa dongeng tentang seorang anak perempuan yang dilahirkan dari sebatang bambu dan nantinya kawin dengan seorang putera bangsawan yang waktu kecilnya diasuh oleh seekor gajah. Bagian yang mengisahkan raja-raja Pasai pun lebih berupa cerita roman daripada sejarah. Tentang sebabnya Pasai diserang Majapahit diceritakan sebagai berikut: Seorang puteri Majapahit, Raden Galuh Gumarancang, jatuh cinta kepada Tun Abd al-Jalil, putera Raja Pasai, dan datang sendiri di Pasai menjemput kekasihnya. Raja Pasai tidak menyetujui perkawinan ini, dan menyuruh bunuh puteranya dan buang ke laut mayatnya. Ketika sang puteri mengetahui hal ini, ia menenggelamkan diri bersama perahu- nya untuk bersatu dengan sang pangeran itu. Raja Majapahit segera mengirimkan armadanya ke Pasai untuk menyatakan amarahnya.

Sementara karya sastra babad adalah cerita sejarah yang bia- sanya lebih bersifat cerita daripada nilai sejarahnya. Karya-karya babad yang berhasil terkumpul antara lain:

(1) Babad Tanah Jawi

Isi kitab ini menceritakan kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak kerajaan Hindu−Buddha sampai kerajaan-kerajaan Islam. Babad Tanah Jawi. Kitab ini menguraikan sejarah pulau Jawa mulai dari Nabi Adam sampai 1647 tahun Jawa (=1722 Masehi). Adam ini ber-anak Nabi Sis, Sis beranak Nurcahya, Nurcahya beranak Nurasa beranak Sang Hyang Wenang beranak Sang Hyang Tunggal beranak Batara Guru. Batara Guru yang bertakhta di Suralaya beranak 5 orang, di antaranya: Batara Wisnu. Wisnu inilah raja pertama di Jawa, bergelar Prabu Set.

Jelaslah bahwa permulaannya sulit kita terima sebagai sejarah. Begitu pula lanjutannya, yang menguraikan berbagai raja dan kerajaan seperti Pajajaran dan Majapahit. Mulai dari zaman Demak ada juga sedikit-sedikit sejarah, makin mende- kat abad ke-18 makin banyak, akan tetapi uraian seluruhnya banyak yang lebih berupa cerita daripada sejarah.

Dalam hal ini fakta sejarahnya lebih banyak didapatkan di Sejarah Melayu, artinya lebih nyata dikemukakan. Seba- liknya Babad Tanah Jawi memuat berbagai angka tahun, yang memberi kemungkinan untuk dicocokkan dengan bahan-bahan sejarah lain.

(2) Sejarah Melayu

Kitab ini ditulis oleh patih Kerajaan Johor bernama Bendahara Tun Muhammad. Isinya menceritakan kebesaran Iskandar Zulkarnain yang menurunkan raja−raja Melayu. Sejarah Melayu, juga dinamakan Sulalat us-salatin. Kitab ini betul-betul dimaksudkan sebagai sejarah. Meskipun banyak juga terdapatkan dongeng-dongeng di dalamnya, dalam garis besarnya yang diuraikan adalah peristiwa-peristiwa yang sungguh terjadi. Penulisnya adalah Bendahara Tun Muhammad, patih kerajaan Johor, atas perintah dari Raja ’Abdullah, adik dari Sultan Ala’uddin Riayat Syah III. Kitab ini dimulai dalam tahun 1612 dan selesai dalam tahun 1615, jadi ditulis waktu kerajaan Johor berulang kali mendapat serangan dari Aceh.

Sejarah ini dimulai dengan riwayat Iskandar dari Ma- kadunia (Iskandar dzu’l Karnain). Seorang keturunannya tiba di Bukit Seguntang dekat Palembang dan menjadi raja. Kerajaan ini nantinya pindah ke Singapura, dan kemudian ke Malaka. Mulai dari sini semakin banyaklah fakta-fakta sejarah yang diceritakan. Kitab ini memuat tentang daftar sejarah Cirebon.

(4) Bustanul Salatin

Kitab ini ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri. Isinya memuat intisari ajaran Islam, seperti penciptaan langit dan bumi, riwayat nabi-nabi, dan riwayat para sultan yang pernah memerintah Aceh (kronik).

(5) Babad Giyanti

Menceritakan pembagian kerajaan Mataram menjadi kerajaan Yogyakarta dan Surakarta pada tahun 1755. Pada tahun 1757, berdiri kerajaan Mangkunegaran, sebagian dari kera- jaan Surakarta. Babad Giyanti, karangan Yasadipura. Isinya meriwayatkan pecahnya kerajaan Mataram dalam tahun 1755 dan 1757 menjadi Surakarta di bawah pemerintahan Paku Buwono III, Yogyakarta dengan Hamengku Buwono I dan Mangkunegaran yang diperintah oleh Mangkunegoro I. Apa yang diuraikan dalam kitab ini adalah betul-betul sejarah, meskipun banyak beberapa penambahan oleh penulisnya.

Karya sastra berupa syair peninggalan sejarah Islam di Indonesia antara lain:

(1) Syair Abdul Muluk

Syair ini menceritakan bahwa Raja Abdul Muluk mempunyai dua orang istri, yaitu Siti Rahmah dan Siti Rafiah. Ketika kerajaan Barbar diserang oleh Kerajaan Hindustan, Siti Rafiah dapat meloloskan diri. Kemudian berkat

(2) Gurindam Dua Belas

Karya sastra ini ditulis oleh Ali Haji, yang berisi nasihat bagi para pemimpin, pegawai, dan rakyat biasa menjadi terhormat dan disegani oleh sesama manusia.

(3) Suluk Sukarsah

Isinya mengisahkan seseorang yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan.

(4) Suluk Wijil

Isinya mengenai wejangan−wejangan Sunan Bonang kepada Wijil. Wijil adalah seorang yang kerdil bekas abdi raja Ma- japahit.

(5) Suluk Karya Hamzah Fansuri

(a) Syair Prahu

Manusia yang diibaratkan perahu yang mengarungi lautan zat Tuhan dengan menghadapi segala macam marabahaya yang hanya dapat dihadapi oleh tauhid dan ma’rifat.

(b) Syair Si Burung Pingai

Jiwa manusia disamakan dengan seekor burung, tetapi bukan burung arti yang sebenarnya, melainkan zat Tuhan.

(6) Suluk Malang Sumirang

Isinya tentang seseorang yang telah mencapai kesempurnaan hidup.

Diambil dari Buku Elektronik (BSE) Penyusun: Hendroyono

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 7.564 pengikut lainnya.