Skip to content
Tentang iklan-iklan ini

KEHIDUPAN MASYARAKAT PURBA DI INDONESIA

asalusulindonesia.jpg

KEHIDUPAN SOSIAL, EKONOMI, RELIGI, DAN BUDAYA MASYARAKAT PURBA DI INDONESIA

Manusia purba, pada awalnya hidup sangat sederhana. Mereka hidup bergantung pada pemberian alam sekitar. Ketika itu mereka belum menghasilkan budaya, dalam bentuk apapun. Mereka hidup secara berkelompok dan sering berperang melawan kelompok (suku) lain. Lalu, seiring perkembangan zaman manusia purba mulai berkreasi menciptakan benda-benda yang dapat membantu dalam mempertahankan hidup mereka. Mereka mulai mengumpulkan makanan dan memperhalus perkakas-perkakas dari batu. Untuk selanjutnya, mereka mulai memproduksi makanan sendiri dan mengembangkan budaya dalam level sederhana.

1. Kehidupan Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Dalam masa prasejarah Indonesia, corak kehidupan dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering) dibagi menjadi dua masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan atau meramu makanan tingkat sederhana serta masa berburu dan men- gumpulkan makanan tingkat lanjut. Pada masa tingkat sederhana manusia hidup secara berkelompok. Kelompok laki-laki melaku- kan perburuan, sedangkan kelompok perempuan mengumpulkan dan meramu makanan. Perburuan dilakukan dengan alat-alat yang masih sangat sederhana.

a. Keadaan Lingkungan

Pada awalnya manusia purba hidup di padang terbuka. Alam sekitarnya merupakan tempat mereka mencari makanan. Mereka menyesuaikan diri terhadap alam sekitar untuk dapat mempertahankan hidup. Manusia purba yang hidup di daerah hutan dapat menghindarkan diri dari bahaya serangan binatang buas, terik matahari dan hujan. Mereka hidup berkelompok, tinggal di gua-gua atau membuat tempat tinggal di atas pohon besar. Manusia yang tinggal di gua-gua dikenal sebagai cavemen (orang gua). Dengan demikian, mereka sangat bergantung pada kebaikan alam; mereka cenderung pasif terhadap keadaan.

Kehidupan di dalam gua-gua pada masa ini menghasilkan lukisan-lukisan pada dinding-dinding gua yang (kemungkinan besar) menggambarkan kehidupan sosial-ekonomi mereka. Lukisan-lukisan pada dinding gua lain berupa cap tangan, babi dan rusa dengan panah dibagian jantungnya, gambar binatang melata, dan gambar perahu. Lukisan dinding gua antara lain ditemukan di Sulawesi Selatan, Irian Jaya, Kepulauan Kei, dan Pulau Seram.

b. Kehidupan Sosial

Kondisi alam sangat berpengaruh terhadap sifat dan fisik makhluk hidup tanpa kecuali manusia. Pola kehidupan manusia yang primitif sangat menggantungkan hidupnya pada ketersediaan alam, di mana daerah-daerah yang didiami harus cukup untuk memenuhi kebutuhannya, untuk kelangsungan hidup terutama di daerah yang cukup persediaan air. Temuan artefak pada Zaman Palaeolitikum menunjukkan bahwa manusia Pithecanthropus sudah mengenal perburuan dan menangkap hewan dengan cara yang sederhana.

Hewan yang menjadi mangsa perburuan adalah hewan yang berukuran besar, seperti gajah, sapi, babi atau kerbau. Saat perburuan, tentu diperlukan adanya kerja sama antarindividu yang kemudian membentuk sebuah kelompok kecil. Hasil buruannya dibagikan kepada anggota-anggotanya secara rata. Adanya keterikatan satu sama lain di dalam satu kelompok, yang laki-laki bertugas memburu hewan dan yang perempuan mengumpulkan makanan dan mengurus anak. Satu kelompok biasanya terdiri dari 10 – 15 orang.

Pada masa ini, manusia tinggal di gua-gua yang tidak jauh dari air, tepi pantai dan tepi sungai. Penangkapan ikan meng- gunakan mata panah atau ujung tombak yang berukuran kecil. Temuan-temuan perkakas tersebut antara lain kapak Sumatera (Sumatralith), mata panah, serpih-bilah dan lancipan tulang Muduk. Ini menunjukkan adanya kegiatan perburuan hewan-hewan yang kecil dan tidak membutuhkan anggota kelompok yang banyak atau bahkan dilakukan oleh satu orang. Dalam kehidupan berkelompok, satu kelompok hanya terdiri dari satu atau dua keluarga.

c. Budaya dan Alat yang Dihasilkan

Masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini lebih senang tinggal di gua-gua sebagai tempat berlindung. Mereka mulai membuat alat-alat berburu, alat potong, pengeruk tanah, dan perkakas lain. Pola hidup berburu membentuk suatu kebutu- han akan pembuatan alat dan penggunaan api. Kebutuhan ini membentuk suatu budaya membuat alat-alat sederhana dari batu, kayu, tulang yang selanjutnya berkembang dengan munculnya suatu kepercayaan terhadap kekuatan alam. Diduga, alat-alat ini diciptakan oleh manusia pithecanthropus dari zaman Paleolitikum, misalnya alat-alat yang ditemukan di Pacitan. Menurut H.R. von Heekeren dan R.P. Soejono, serta Basuki yang melakukan penelitian tahun 1953-1954, kebudayaan Pacitan merupakan kebudayaan tertua di Indonesia. Pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut, ditemukan alat-alat dari bambu yang dipakai untuk membuat keranjang, membuat api, membuat anyaman dan pembakaran.

Selain di Pacitan, temuan sejenis terdapat pula di Jampang Kulon (Sukabumi), Gombong, Perigi, Tambang Sawah di Beng- kulu, Lahat, Kalianda di Sumatera Selatan, Sembiran Trunyan di Bali, Wangka, Maumere di Flores, Timor-Timur (Timor Leste), Awang Bangkal di Kalimantan Timur, dan Cabbenge di Sulawesi selatan.

Hasil-hasil kebudayaan yang ditemukan pada masa berburu dan mengumpulkan makanan antara lain:

(1) Kapak perimbas: tidak memiliki tangkai dan digunakan dengan cara digenggam; diduga hasil kebudayaan Pithecanthropus Erectus. Kapak perimbas ditemukan pula di Pakistan, Myan- mar, Malaysia, Cina, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

(2) Kapak penetak: bentuknya hampir sama dengan kapak perimbas, namun lebih besar dan masih kasar; berfungsi untuk membelah kayu, pohon, bambu; ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia.

(3) Kapak genggam: bentuknya hampir sama dengan kapak perimbas dan penetak, namun bentuknya lebih kecil dan masih sederhana dan belum diasah; ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia; digenggam pada ujungnya yang lebih ramping.

(4) Pahat genggam: bentuknya lebih kecil dari kapak genggam; berfungsi untuk menggemburkan tanah dan mencari ubi- ubian untuk dikonsumsi.

(5) Alat serpih atau flake: bentuknya sangat sederhana; berukuran antara 10 hingga 20 cm; diduga digunakan sebagai pisau, gurdi, dan penusuk untuk mengupas, memotong, dan menggali tanah; banyak ditemukan di goa-goa yang pernah ditinggali manusia purba.

(6) Alat-alat dari tulang: berupa tulang-belulang binatang buruan.

Alat-alat tulang ini dapat berfungsi sebagai pisau, belati, mata tombak, mata panah; banyak ditemukan di Ngandong.

d. Sistem Kepercayaan

Penemuan akan kuburan primitif merupakan bukti bahwa manusia berburu makanan ini telah memiliki kepercayaan yang bersifat rohani dan spiritual. Masyarakat zaman ini menganggap bahwa orang yang telah mati akan tetap hidup di dunia lain dan tetap mengawasi anggota keluarganya yang masih hidup.

Adanya penggunaan alat-alat berburu dari alam menimbulkan kepercayaan akan adanya kekuatan alam yang dianggap telah membantu keberhasilan berburu. Adanya seni lukis di gua-gua yang menceritakan tentang kejadian perburuan, patung dewi kesuburan dan penguburan mayat bersama alat-alat berburu, merupakan suatu bukti tentang adanya kepercayaan primitif masyarakat purba. Orang yang meninggal saat berburu harus diberi perhargaan dalam bentuk rasa penghormatan.

Temuan lukisan di dinding-dinding gua menunjukkan adanya hasrat manusia purba untuk merasakan suatu kekuatan yang melebihi kekuatan dirinya. Lukisan dibuat dalam bentuk cerita upacara penghormatan nenek moyang, upacara kesuburan, perkawinan, dan upacara minta hujan, seperti yang terdapat di Papua. Lukisan-lukisan lain yang ditemukan antara lain lukisan kadal di Pulau Seram yang menggambarkan penjelmaan roh nenek moyang, gambar manusia sebagai penolak roh-roh jahat, serta gambar perahu yang melambangkan perahu bagi roh nenek moyang dalam perjalanan ke alam baka. Ini terjadi pada masa berburu dan meramu makanan tingkat lanjut.

e. Sistem Bahasa

Interaksi antaranggota kelompok saat berburu menimbulkan sistem komunikasi dalam bentuk bunyi-mulut, yakni dalam bentuk kata-kata atau gerakan badan yang sederhana. Perkembangan komunikasi antaranggota kelompok maupun antar kelompok ini terus berkembang pada masa hidupnya Homo sapien dalam bentuk bahasa. Mengenai persebaran bahasa ini akan dibahas pada bab selanjutnya pada buku ini.

2. Kehidupan Bercocok Tanam dan Beternak

a. Lingkungan Alam

Perkembangan volume otak manusia purba mendorong mereka untuk berpikir lebih maju daripada sebelumnya. Dengan kemajuan berpikir, perilaku mereka pun makin teratur. Pada masa ini masyarakatnya telah bertempat tinggal menetap, meski suatu saat bisa berpindah. Ketika bertempat tinggal untuk waktu yang relatif lama, mereka menyiapkan persediaan makanan untuk satu waktu tertentu. Dengan demikian, mereka tak perlu lagi mengembara mencari makanan ke daerah lain.

Kehidupan bercocok tanam pertama kali yang dikenal ma- nusia purba adalah berhuma. Berhuma adalah bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan kemudian menanaminya. Setelah tanahnya tak subur, mereka mencari hutan lain untuk dihumakan. Setelah bosan berhuma, manusia purba segera men- cari akal guna mempermudah hidup mereka. Mulailah mereka bercocok tanam dan beternak. Dengan bercocok tanam mereka akan lebih lama bertempat tinggal karena dalam bercocok tanam diperlukan keteraturan waktu dan waktu tersebut tidaklah sing- kat. Mungkin sekali jenis-jenis tanaman pada tahap awal kegiatan bercocok tanam adalah ubi, sukun, keladi, dan pisang. Memeli- hara hewan ternak bertujuan agar mereka tak perlu lagi berburu binatang liar. Mereka tinggal menyembelih hewan ternak mereka. Kehidupan bercocok tanam dan beternak ini disebut juga sebagai food producting atau menghasilkan makanan sebagai perkembangan dari food gathering atau mengumpulkan makanan.

b. Kehidupan Sosial

Melalui bercocok tanam, manusia purba menjadi saling mengenal dengan sesamanya. Hubungan kelompok A dengan kelompok B menjadi lebih erat. Ini terjadi karena dalam memenuhi kehidu- pannya, mereka dituntut untuk selalu bekerja sama, bergotong- royong. Cara gotong-royong berlaku pula ketika membangun tempat tinggal, di ladang dan sawah, menangkap ikan, merambah hutan.

Adanya kebutuhan hidup mendorong manusia purba untuk hidup dengan memanfaatkan alam. Sebelumnya, pola hidup ber- buru dan mengumpulkan makakan menyebabkan jumlah maka- nan pokok (tumbuhan dan hewan) yang disediakan alam makin menipis. Untuk mengatasi masalah itu, manusia lalu bercocok tanam dan menjinakkan hewan untuk dipelihara.

Dengan kemampuan komunikasi antarsesama menimbulkan rasa saling membutuhkan satu sama lainnya. Dengan dipilih seorang pemimpin kelompok, setiap orang mendapat tugas sosial. Semakin banyak populasi dan semakin banyaknya kebutuhan manusia akan alam, menimbulkan persaingan antarsesama. Oleh karena itu, dibentuklah suatu tatanan sosial masyarakat yang mesti ditaati oleh anggotanya.

c. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan agraris yang ditimbulkan dari menetapnya tempat tinggal manusia purba, menyebabkan adanya saling ketergan- tungan antarmereka. Ketergantungan ini di antaranya adalah ketergantungan akan hasil bumi yang tak dimiliki seseorang atau suatu keluarga. Maka dari itu, mereka membutuhkan orang atau pihak lain yang memunyai hasil bumi yang diperlukannya itu. Dengan demikian, terjadilah kegiatan barter. Aksi barter ini dilakukan dengan cara tukar-menukar hasil bumi. Sistem ini merupakan pola perdagangan yang primitif sekali. Aktifitas barter ini memungkinkan terbentuknya kelompok baru, yakni kelom- pok yang khusus menjalankan aksi barter dan berdiam di sebuah tempat yang telah disepakati bersama, yakni pasar tradisional. Di pasar ini mereka menjajakan barang-barang kebutuhan guna ditular oleh barang kebutuhan lain. Hingga sekarang keberadaan pasar tradisional yang masih memberlakukan sistem barter masih dapat ditemui di daerah-daerah pedalaman.

d. Budaya dan Hasil Alat yang dihasilkan

Semakin lama, pola bercocok tanam dan beternak semakin ber- kembang. Terdorong oleh pergeseran kebutuhan dari semula menanam umbi-umbian menjadi menanam padi, manusia lantas membuat perkakas yang semakin efektif dan efisien. Mereka mulai memperhalus peralatan mereka. Dari sinilah timbul perkakas- perkakas yang lebih beragama dan maju secara teknologi daripada masa berburu dan mengumpulkan makanan, baik yang terbuat dari batu, tulang, atau pun tanah liat. Hasil-hasil temuan yang menunjukkan budaya pada saat itu adalah beliung persegi, kapak lonjong, mata panah, gerabah, dan perhiasan.

(1) Beliung persegi: diduga dipergunakan dalam upacara; banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Semenanjung Melayu, dan beberapa daerah di Asia Tenggara.

(2) Kapak lonjong: umumnya terbuat dari batu kali yang ber- warna kehitam-hitaman; dibuat dengan cara diupam hingga halus; ditemukan di daerah Maluku, Papua, Sulawesi Utara, Filipina, Taiwan, Cina.

(3) Mata panah: digunakan sebagai alat berburu dan menangkap ikan; untuk menangkap ikan mata panahnya dibuat bergerigi dan terbuat dari tulang, mata panah untuk menangkap ikan ini banyak ditemukan di dalam goa-goa di pinggir sungai; orang Papua kini masih menggunakan mata panah untuk menangkap ikan dan berburu, namun terbuat dari kayu.

(4) Gerabah: terbuat dari tanah liat yang dibakar; digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda perhiasan; biasanya dihiasi motif-motif hias yang indah.

(5) Perhiasan: terbuat dari tanah liat, batu kalsedon, yaspur, dan agat; dapat berwujud kalung, gelang, anting-anting; bila se- seorang meninggal maka ia akan dibekali perhiasan di dalam kuburannya.

e. Sistem Kepercayaan

Pemujaan terhadap roh atau arwah leluhur tidak hanya terdapat di Indonesia, namun juga hampir di seluruh dunia. Pemujaan ini berawal dari anggapan manusia terhadap kekuatan alam. Tanah, air, udara, dan api dianggap sebagai unsur pokok dalam kehidu- pan semesta. Semua itu diatur dan dijaga oleh suatu kekuatan, kepercayaan inilah yang menyebabkan munculnya sosok roh setelah mati.

Sistem kepercayaan masa bercocok tanam ini merupakan kelanjutan dari kepercayan masa sebelumnya. Pada masa bercocok tanam ini manusia purbanya telah mengenal anggapan bahwa roh manusia setelah mati dianggap tidak hilang, melainkan berada di alam lain yang tidak berada jauh dari tempat tinggalnya dahulu. Dengan demikian, karena sewaktu-waktu roh yang bersangkutan dapat dipanggil kembali bila dimintakan bantuannya. Untuk itu, pada saat seorang mati dikuburkan maka ia dibekali dengan bermacam-macam keperluan sehari-hari, seperti perhiasan dan periuk. Untuk orang-orang terkemuka (kepala suku atau kepala adat), kuburannya dibuat agak istimewa, terlihat dari bentuknya yang terdiri atas batu-batu besar, seperti sarkofagus, peti batu, menhir, dolmen, waruga, punden berundak-undak, dan arca. Masa di mana mulai dibangunnya bangunan-bangunan dari batu ini disebut juga era Megalitikum.

(1) Menhir

Menhir merupakan tugu batu yang tegak, tempat pemujaan terhadap arwah leluhur. Menhir ini banyak ditemukan di Sumatera, Sulawesi Tengah, serta Kalimantan. Di daerah Belubus, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Koto, Sumatera Barat, terdapat menhir yang tingginya 125 cm, berbentuk seperi gagak pedang, baguan lengungannya men- ghadap Gunung Sago.

(2) Sarkofagus

Sarkofagus adalah peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal). Sarkofagus ini banyak ditemukan di daerah Bali. Sarkofagus di Bali masih diangap keramat dan magis oleh masyarakat sekitar.

(3) Dolmen

Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang akan dipersembahkan kepada arwah nenek moyang. Di bawah dolmen ini biasanya ditemukan kuburan batu.

(4) Kuburan atau Peti Batu

Kuburan batu adalah peti jenazah yang terbuat dari batu pipih. Kuburan batu ini banyak ditemukan di daerah Ku- ningan, Jawa Barat, dan Nusa Tengggara.

(5) Waruga

Waruga adalah kuburan batu yang berbentuk kubus atau bulat, terbuat dari batu yang utuh. Waruga ini banyak dite- mukan di Sulawesi Utara dan Tengah.

(6) Punden Berundak-undak

Punden berundak-undak adalah bangunan suci tempat pemu- jaan terhadap roh nenek moyang yang dibuat dalam bentuk bertingkat-tingkat atau berundak-udak. Bangunan ini banyak ditemukan di daerah Lebak Si Bedug, Banten Selatan.

(7) Arca atau Patung

Arca pada masa Megalitikum terbuat dari batu, biasanya ber- bentuk sosok hewan dan manusia. Jenis hewan yang sering dibentuk adalah gajah, kerbau, harimau, monyet. Arca-arca batu ini banyak terdapat di Sumatera selatan, Lampung, Jawa Tengah dan Timur.

3. Masa Perundagian

a. Kehidupan Sosial

Usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pri- badinya mendorong ditemukannya peleburan bijih-bijih logam dan pembuatan benda-benda dari logam. Selain itu, adanya persaingan antarpribadi di dalam masyarakat menimbulkan keinginan untuk menguasai satu bidang. Gejala seperti ini me- nyebabkan timbulnya golongan undagi. Golongan ini merupakan golongan masyarakat terampil dan mampu menguasai teknologi pada bidang-bidang tertentu, misalnya membuat rumah, pelebu- ran logam, membuat perhiasan. Masa perundagian merupakan tonggak timbulnya kerajaan-kerajaan di Indonesia, karena pada masa ini kelompok-kelompok masyarakat yang terbentuk di desa- desa kecil membentuk kelompok yang lebih besar lagi, terutama dengan adanya penguasaan wilayah oleh orang yang dianggap terkemuka. Pada masa perundagian ini, masyarakat purba di Indonesia mulai berkenalan dengan komunitas yang lebih luas, seperti dengan manusia dari India dan Cina

b. Budaya dan Alat yang dihasilkan

Adanya perkembangan teknologi yang semakin maju, mendorong manusia untuk melakukan hal yang terbaik pada dirinya, di an- taranya pengaturan tata air (irigasi). Perdagangan pun diperluas hingga antarpulau yang sebelumnya hanya antardaerah domestik. Dengan demikian, terjadilah sosialisasi antara manusia Indo- nesia dengan suku dan bangsa-bangsa lain yang perkembangan budayanya telah lebih maju, seperti kebudayaan India dan Cina. Melalui interaksi dengan orang India, masyarakat Indonesia mulai mengenal sistem kerajaan, yang kemudian melahirkan kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Tarumanagara, Sriwijaya, Mataram, dan lain-lain.

Kehidupan seperti ini menunjang terbentuknya kebudayaan yang lebih maju yang memerlukan alat-alat pertanian dan perda- gangan yang lebih baik dengan bahan-bahan dari logam. Hasil- hasil peninggalan kebudayaannya antara lain nekara perunggu, moko, kapak perunggu, bejana perunggu, arca perunggu, dan perhiasan.

(1) Nekara perunggu: berfungsi sebagai pelengkap upacara un-

tuk memohon turun hujan dan sebagai genderang perang; memiliki pola hias yang beragam, dari pola binatang, geo- metris, dan tumbuh-tumbuhan, ada pula yang tak bermotif; banyak ditemukan di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Selayar, Papua.

(2) Kapak perunggu: bentuknya beraneka ragam. Ada yang berbentuk pahat, jantung, atau tembilang; motifnya berpola topang mata atau geometris.

(3) Bejana perunggu: bentuknya mirip gitar Spanyol tanpa tang- kai; di temukan di Madura dan Sulawesi.

(4) Arca perunggu: berbentuk orang sedang menari, menaiki kuda, atau memegang busur panah; ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor, Palembang.

(5) Perhiasan dan manik-manik: ada yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi; berbentuk gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, bandul; banyak ditemukan di Bogor, Bali, dan Ma- lang; sedangkan manik-manik banyak ditemukan di Sangi- ran, Pasemah, Gilimanuk, Bogor, Besuki, Bone; berfungsi sebagai bekal kubur; bentuknya ada yang silinder, bulat, segi enam, atau oval.

c. Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat pada masa perundagian merupakan kela- njutan dari masa bercocok tanam. Kepercayan berkembang sesuai dengan pola pikir manusia yang merasa dirinya memiliki keter- batasan dibandingkan dengan yang lainnya. Anggapan seperti ini memunculkan jenis kepercayaan: animisme dan dinamisme.

1) Animisme

Dalam kepercayaan animisme, manusia mempunyai ang- gapan bahwa suatu benda memiliki kekuatan supranatural dalam bentuk roh. Roh ini bisa dipanggil dan diminta per- tolongan pada saat diperlukan. Mereka percaya akan hal- hal yang gaib atau kekuatan hebat. Kepercayaan terhadap bermacam-macam roh dan makhluk halus yang menempati suatu tempat memunculkan kegiatan menghormati atau memuja roh tersebut dengan cara berdoa dengan mantera dan memberi sesajen atau persembahan.

2) Dinamisme

Kepercayaan dinamisme ini perpanjangan dari animisme. Roh atau makhluk halus yang diyakini berasal dari jiwa ma- nusia yang meninggal, kemudian mendiami berbagai tempat, misalnya hutan belantara, lautan luas, gua-gua, sumur dalam, sumber mata air, persimpangan jalan, pohon besar, batu-batu besar, dan lain-lain. Timbullah kepercayaan terhadap adanya kekuatan gaib yang dapat menambah kekuatan seseorang yang masih hidup. Kekuatan yang timbul dari alam semesta inilah yang menimbulkan kepercayaan dinamisme (dinamis berarti bergerak). Manusia purba percaya bahwa, misalnya, pada batu akik, tombak, keris, belati, anak panah, bersemay- am kekuatan halus, sehingga alat-alat tersebut harus dirawat, diberi sesajen, dimandikan dengan air kembang.

Di kemudian hari, kepercayaan-kepercayaan animisme dan dinamisme mendorong manusia menemukan kekuatan yang lebih besar dari sekadar kekuatan roh dan makhluk halus dan alam. Masyarakat lambat laun, dari generasi ke generasi, meya- kini bahwa ada kekuatan tunggal yang mendominasi kehidupan pribadi mereka maupun kehidupan alam semesta. Kekuatan gaib tersebut diyakini memiliki keteraturan sendiri yang tak da- pat diganggu-gugat, yakni hukum alam. Kepercayaan terhadap “Kekuatan Tunggal” ini lantas dihayati sebagai kekayaan batin- spiritual sekaligus kekayaan kebudayaan. Kepercayaan animisme dan dinamisme ini kemudian berkembang dan menyatu dengan kebudayaan Hindu-Buddha dan kemudian Islam.

Tentang iklan-iklan ini
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 7.746 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: