Skip to content
Tentang iklan-iklan ini

MANAJEMEN LOGISTIK FARMASI

pengelolaanlogistikfarmasi_thumb.jpg

Pengadaan Logistik Farmasi. Farmasi adalah salah satu sumber pendapatan terbesar di Rumah Sakit. Namun tidak dapat dipungkiri pula, jika Farmasi tidak diperhatikan atau tidak mendapat pengawasan yang ketat, maka Farmasi akan menjadi sumber kerugian terbesar di Rumah Sakit.pengelolaan logistik farmasi

Farmasi akan menjadi sumber kerugian bagi Rumah Sakit jika jumlah obat-obatan yang tersimpan;

  • Semakin lama semakin banyak namun semakin banyak pula yang mendekati expired datenya.
  • Jumlah obat slow moving semakin bertambah 
  • Banyak tagihan obat-obatan dari asuransi atau perusahaan tertentu belum dibayar. Rumah Sakit akan ikut menanggung kerugian jika piutang obat-obatan di Rumah Sakit lama semakin besar (asuransi belum membayar)

Akibatnya, di Rumah Sakit pernah ditemukan keuntungan Farmasi ternyata minus (-)??? (Bahkan ini benar-benar terjadi di beberapa Rumah Sakit)

Jadi, bagaimana caranya menjadikan instalasi Farmasi Rumah Sakit menjadi bagian yang paling menguntungkan bagi Rumah Sakit? Simple saja, perbaiki administrasi logistik farmasinya. Siapa saja yang berperan atau bertanggung jawab?

  • Direktur
  • Kepala Instalasi Farmasi
  • Bagian Logistik, Lebih baik lagi jika ada bagian logistik Farmasi sendiri
  • Instalasi Penerimaan dan Pengadaan Barang (Gudang)
  • Petugas Gudang
  • Apoteker
  • Dokter

Direktur. Direktur adalah orang yang wajib tahu tentang perkembangan dan keadaan obat maupun stok obat. Direktur pula yang harus memastikan bahwa formularium obat telah dijalankan dengan benar oleh para tenaga medis. Adanya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan kebijakan bukan kesalahan Direktur namun pada akhirnya akan menjadi tanggung jawab direktur juga jika penyimpangan ini terus dibiarkan. Direktur harus bisa menjalankan fungsi monitoring, sebagai pengawas dan evaluasi.

Dokter. Dokter sangat berperan dalam pengendalian stok obat, mengapa? Karena dokter menjadi end user, obat-obat tidak bisa keluar jika tidak ada prescription/ peresepan dokter. Direktur bersama-sama dengan Kepala Instalasi Farmasi harus rajin-rajin mengingatkan dokter mengenai penggunaan obat dan stok obat yang tersedia dan yang harus dihabiskan. Selain itu, penyetokan obat dan penentuan formularium obat sangat tergantung dari kerelaan dokter-dokter yang bekerja di rumah sakit, apalagi kebanyakan dokter spesialis di rumah sakit swasta adalah dokter tamu.

Kepala Instalasi Farmasi. Kepala Instalasi Farmasi adalah orang yang paling berhak dan pertama kali tahu mengenai stok dan kebutuhan obat-obatan di Rumah Sakit. Tugas dari Kepala Instalasi Farmasi adalah merencanakan pemesanan, menghitung kebutuhan, melaporkan pemakaian Rumah Sakit. Namun perlu diingat, Kepala Instalasi Farmasi bukan yang bertanggung jawab atas pembelian obat-obatan di Rumah Sakit, hal ini sangat penting dalam menjaga keadilan, transparansi dan mencegah terjadinya kongkalikong atau kesepakatan tersembunyi antara Kepala Instalasi Farmasi dan Perusahaan Obat.

Bagian Logistik. Bagian logistik adalah bagian yang bertugas untuk membeli obat dan menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan dan yang direkomendasikan oleh Kepala Instalasi Farmasi. Semua pembelian obat-obatan dalam jumlah besar atau jumlah tertentu (yang disepakati sebelumnya) harus melalui Logistik sehingga memudahkan pendataan, penghitungan pembiayaan dan pelaporan keuangan.

Instalasi Penerimaan dan Pengadaan Barang. Selanjutnya, obat-obatan yang telah dibeli oleh bagian logistik dimasukkan dan disimpan di dalam Instalasi Penerimaan dan Pengadaan Barang. Di sini petugas gudang akan menghitung dan mencocokkan jumlah obat-obatan yang diterima dengan jumlah pesanan. Obat-obatan akan disimpan di dalam gudang dan dikeluarkan sesuai dengan permintaan Kepala Instalasi Farmasi. Di sini, Kepala Instalasi Penerimaan dan Pengadaan Barang harus sesering mungkin memberikan laporan kepada Kepala Instalasi Farmasi, dengan tujuan Kepala Instalasi Farmasi bisa merencanakan pembelian obat-obatan berikutnya.

Petugas Gudang dan Apoteker. Kedua orang ini adalah orang yang bersentuhan langsung dengan produk atau obat-obatan yang dijual. Dua pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling rentan dan paling sering menjadi kambing hitam apabila ada stok atau obat-obatan yang hilang. Sebab itu, ada baiknya kedua orang yang bekerja di profesi ini haruslah orang yang benar-benar jujur dan pelaporan sendiri kepada masing-masing atasannya. Petugas Gudang melaporkan setiap kegiatannya maupun kehilangan obat kepada Kepala Instalasi Pengadaan Barang, dan Apoteker melaporkan kegiatan hariannya maupun kehilangan obat kepada Kepala Instalasi Farmasi agar mereka tidak menjadi kambing hitam jika terjadi kehilangan barang. Ditulis Oleh: dr. Harry Wahyudhy Utama

 

Baca Juga: 

Tentang iklan-iklan ini

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 8.472 pengikut lainnya.