INFEKSI NOSOKOMIAL

BAB I
PENDAHULUAN
Oleh: Harry wahyudhy Utama, S.ked
I.1 Definisi
Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial 1,2,3,4
Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya. 1,2,5

I.2 Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. Tetapi, rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan, juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti; udara, air, lantai, makanan dan benda-benda medis maupun non medis. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian, antara lain :
• lama hari perawatan bertambah panjang
• penderitaan bertambah
• biaya meningkat
Dari hasil studi deskriptif Suwarni, A di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0,0% hingga 12,06%, dengan rata-rata keseluruhan 4,26%. Untuk rerata lama perawatan berkisar antara 4,3 – 11,2 hari, dengan rata-rata keseluruhan 6,7 hari. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman lantai ruang perawatan mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial.8
Selama 10-20 tahun belakang ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara, dan dibeberapa negara, kondisinya justru sangat memprihatinkan. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal, serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. Karena itulah, dinegara-negara miskin dan berkembang, pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.7
Di beberapa bagian, terutama di bagian penyakit dalam dalam, terdapat banyak prosedur dan tindakan yang dilakukan baik untuk membantu diagnosa maupun memonitor perjalanan penyakit dan terapi yang dapat menyebabkan pasien cukup rentan terkena infeksi nosokomial. Pasien dengan umur tua, berbaring lama, atau beberapa tindakan seperti prosedur diagnostik invasif, infus yang lama dan kateter urin yang lama, atau pasien dengan penyakit tertentu yaitu penyakit yang memerlukan kemoterapi, dengan penyakit yang sangat parah, penyakit keganasan, diabetes, anemia, penyakit autoimun dan penggunaan imuno supresan atau steroid didapatkan bahwa resiko terkena infeksi lebih besar.2.,3,5
Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dan dari petugas kesehatan maupun personil kesehatan lainnya, jarum injeksi, kateter iv, kateter urin, kasa pembalut atau perban, dan cara yang keliru dalam menangani luka. Infeksi nosokomial ini pun tidak hanya mengenai pasien saja, tetapi juga dapat mengenai seluruh personil rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien.4
I.3 Epidemiologi
Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0%.3
Walaupun ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade terakhir dan sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah, tetapi semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit immunocompromised, bakteri yang resisten antibiotik, super infeksi virus dan jamur, dan prosedur invasif, masih menyebabkan infeksi nosokomial menimbulkan kematian sebanyak 88.000 kasus setiap tahunnya walaupun.4
Selain itu, jika kita bandingkan kuman yang ada di masyarakat, mikroorganisme yang berada di rumah sakit lebih berbahaya dan lebih resisten terhadap obat, karena itu diperlukan antibiotik yang lebih poten atau suatu kombinasi antibiotik. Semua kondisi ini dapat meningkatkan resiko infeksi kepada si pasien.2,3,5

BAB II
ISI

II.1 Faktor Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial
II.1.1 Agen Infeksi
Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia rawat di rumah sakit. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada:3
• karakteristik mikroorganisme,
• resistensi terhadap zat-zat antibiotika,
• tingkat virulensi,
• dan banyaknya materi infeksius.

Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal.3

1. Bakteri

Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih.
Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik. Contohnya :
• Anaerobik Gram-positif, Clostridium yang dapat menyebabkan gangren
• Bakteri gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru, pulang, jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.
• Bakteri gram negatif: Enterobacteriacae, contohnya Escherichia coli, Proteus, Klebsiella, Enterobacter. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit.
• Serratia marcescens, dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan, paru, dan peritoneum.

2. Virus
Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi, dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus (RSV), rotavirus, dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, dan transfusi darah. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi traktus respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza virus, herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat ditularkan.3,11

3. Parasit dan Jamur
Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan, contohnya infeksi dari Candida albicans, Aspergillus spp, Cryptococcus neoformans, Cryptosporidium.

II.1.2 Respon dan toleransi tubuh pasien
Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah: 3,9
• Umur
• status imunitas penderita
• penyakit yang diderita
• Obesitas dan malnutrisi
• Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid
• Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi.

Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor, anemia, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, SLE dan AIDS. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi, endoskopi, kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi.3,9

Tabel 1. Resiko terjadinya infeksi nosokomial pada pasien
Resiko infeksi Tipe pasien
Minimal Tidak immunocompromised, tidak ditemukan terpapar suatu penyakit
Sedang Pasien yang terinfeksi dan dengan beberapa faktor resiko
Berat Pasien dengan immunocompromised berat, (5 µm. Contohnya bacterial meningitis, dan diphtheria memerlukan hal sebagai berikut; Ruangan tersendiri untuk tiap pasiennya. Masker untuk petugas kesehatan. Pembatasan area bagi pasien; pasien harus memakai masker jika meninggalkan ruangan.

4 Infection by direct or indirect contact
Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan penyebab infeksi. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan, kulit dan baju, seperti golongan staphylococcus aureus. Dapat juga melalui cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik, hepatitis dan HIV. Peralatan dan instrumen kedokteran. Makanan yang tidak steril, tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection.3,9

II.1.4 Resistensi Antibiotika
Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970, banyak penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan. Bagaimana pun juga, keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan pengunsalahan dari antibiotika. Banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten. Meningkatnya resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien yang immunocompromised. Resitensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang resistan. Penyebab utamanya karena:
• Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol
• Dosis antibiotika yang tidak optimal
• Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat
• Kesalahan diagnosa

Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika, mengakibatkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut. Penggunaan antibiotika secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi. Banyak strains dari pneumococci,
staphylococci, enterococci, dan tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotikaa, begitu juga klebsiella dan pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat multiresisten. Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia.
Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit, dan menjadi sangat penting karena:
• Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat
• Seringnya imunitas tubuh melemah karena sakit, pengobatan atau umur
• Mikororganisme yang baru (mutasi)
• Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika

II.1.5 Faktor alat
Dari suatu penelitian klinis, infeksi nosokomial tertama disebabkan infeksi dari kateter urin, infeksi jarum infus, infeksi saluran nafas, infeksi kulit, infeksi dari luka operasi dan septikemia. Pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. Diruang penyakit dalam, diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus. Komplikasi kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan mekanis, fisis dan kimiawi. Komplikasi tersebut berupa:3,5
Ekstravasasi infiltrat : cairan infus masuk ke jaringan sekitar insersi kanula
Penyumbatan : Infus tidak berfungsi sebagaimana mestinya tanpa dapat dideteksi adanya gangguan lain
Flebitis : Terdapat pembengkakan, kemerahan dan nyeri sepanjang vena
Trombosis : Terdapat pembengkakan di sepanjang pembuluh vena yang menghambat aliran infus
Kolonisasi kanul : Bila sudah dapat dibiakkan mikroorganisme dari bagian kanula yang ada dalam pembuluh darah
Septikemia : Bila kuman menyebar hematogen dari kanul
Supurasi : Bila telah terjadi bentukan pus di sekitar insersi kanul

Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter, ukuran kateter, pemasangan melalui venaseksi, kateter yang terpasang lebih dari 72 jam, kateter yang dipasang pada tungkai bawah, tidak mengindahkan pronsip anti sepsis, cairan infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme, peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes obat, manipulasi terlalu sering pada kanula. Kolonisasi kuman pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia.

II.2 Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial
II.2.1 Infeksi saluran kemih
Infeksi ini merupakan kejadian tersering, sekitar 40% dari infeksi nosokomial, 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. Walaupun tidak terlalu berbahaya, tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan kematian. Organisme yang biaa menginfeksi biasanya E.Coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, atau Enterococcus. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih disebabkan karena mikroorganisme endogen, sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen.4,9,11
Sangat sulit untuk dapat mencegah penyebaran mikroorganisme sepanjang uretra yang melekat dengan permukaan dari kateter. Kebanyakan pasien akan terinfeksi setelah 1-2 minggu pemasangan kateter. Penyebab paling utama adalah kontaminasi tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter, atau air yang digunakan untuk membesarkan balon kateter. Dapat juga karena sterilisasi yang gagal dan teknik septik dan aseptik.9

II.2.2 Pneumonia Nosokomial
Pneumonia nosokomial dapat muncul, terutama pasien yang menggunakan ventilator, tindakan trakeostomi, intubasi, pemasangan NGT, dan terapi inhalasi. Kuman penyebab infeksi ini tersering berasal dari gram negatif seperti Klebsiella,dan Pseudomonas. Organisme ini sering berada di mulut, hidung, kerongkongan, dan perut. Keberadaan organisme ini dapat menyebabkan infeksi karena adanya aspirasi oleh organisme ke traktus respiratorius bagian bawah.3,9
Dari kelompok virus dapat disebabkan olehcytomegalovirus, influenza virus, adeno virus, para influenza virus, enterovirus dan corona virus. 11
Faktor resiko terjadinya infeksi ini adalah:9
• Tipe dan jenis pernapasan
• Perokok berat
• Tidak sterilnya alat-alat bantu
• Obesitas
• Kualitas perawatan
• Penyakit jantung kronis
• Penyakit paru kronis
• Beratnya kondisi pasien dan kegagalan organ
• Tingkat penggunaan antibiotika
• Penggunaan ventilator dan intubasi
• Penurunan kesadaran pasien

Penyakit yang biasa ditemukan antara lain: respiratory syncytial virus dan influenza. Pada pasien dengan sistem imun yang rendah, pneumonia lebih disebabkan karena Legionella dan Aspergillus. Sedangkan dinegara dengan prevalensi penderita tuberkulosis yang tinggi, kebersihan udara harus sangat diperhatikan.

II.2.3 Bakteremi Nosokomial
Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5 % dari total infeksi nosokomial, tetapi dengan resiko kematian yang sangat tinggi, terutama disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika seperti Staphylococcus dan Candida. Infeksi dapat muncul di tempat masuknya alat-alat seperti jarum suntik, kateter urin dan infus.
Faktor utama penyebab infeksi ini adalah panjangnya kateter, suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif, dan perawatan dari pemasangan kateter atau infus.

II.2.4 Infeksi Nosokomial lainnya
1. Tuberkulosis11
Penyebab utama adalah adanya strain bakteri yang multi- drugs resisten. Kontrol terpenting untuk penyakit ini adalah identifikasi yang baik, isolasi, dan pengobatan serta tekanan negatif dalam ruangan.
2. diarrhea dan gastroenteritis11
Mikroorganisme tersering berasal dari E.coli, Salmonella, Vibrio Cholerae dan Clostridium. Selain itu, dari gologan virus lebih banyak disebabkan oleh golongan enterovirus, adenovirus, rotavirus, dan hepatitis A. Bedakan antara diarrhea dan gastroenteritis. Faktor resiko dari gastroenteritis nosokomial dapat dibagi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
• Faktor intrinsik:
o abnormalitas dari pertahanan mukosa, seperti achlorhydria
o lemahnya motilitas intestinal, dan
o perubahan pada flora normal.
• Faktor ekstrinsik:
Pemasangan nasogastric tube dan mengkonsumsi obat-obatan saluran cerna.
3. Infeksi pembuluh darah11
Infeksi ini sangat berkaitan erat dengan penggunaan infus, kateter jantung dan suntikan. Virus yang dapat menular dari cara ini adalah virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan HIV.
Infeksi ini dibagi menjadi dua kategori utama:
• Infeksi pembuluh darah primer, muncul tanpa adanya tanda infeksi sebelumnya, dan berbeda dengan organisme yang ditemukan dibagian tubuhnya yang lain
• Infeksi sekunder, muncul sebagai akibat dari infeksi dari organisme yang sama dari sisi tubuh yang lain.
4. Dipteri, tetanus dan pertusis11
• Corynebacterium diptheriae, gram negatif pleomorfik, memproduksi endotoksin yang menyebabkan timbulnya penyakit, penularan terutama melalui sistem pernafasan.
• Bordetella Pertusis, yang menyebabkan batuk rejan. Siklus tiap 3-5 tahun dan infeksi muncul sebanyak 50 dalam 100% individu yang tidak imun.
• Clostridium tetani, gram positif anaerobik yang menyebabkan trismus dan kejang otot.

Infeksi kulit dan jaringan lunak. Luka terbuka seperti ulkus, bekas terbakar, dan luka bekas operasi memperbesar kemungkinan terinfeksi bakteri dan berakibat terjadinya infeksi sistemik. Dari golongan virus yaitu herpes simplek, varicella zooster, dan rubella. Organisme yang menginfeksi akan berbeda pada tiap populasi karena perbedaan pelayanan kesehatan yang diberikan, perbedaan fasilitas yang dimiliki dan perbedaan negara yang didiami.
Infeksi ini termasuk:1
• Infeksi pada tulang dan sendi
Osteomielitis, infeksi tulang atau sendi dan discus vertebralis
• Infeksi sistem Kardiovaskuler
Infeksi arteri atau vena, endokarditis, miokarditis, perikarditis dan mediastinitis
• Infeksi sistem saraf pusat
Meningitis atau ventrikulitis, absess spinal dan infeksi intra kranial
• Infeksi mata, telinga, hidung, dan mulut
Konjunctivitis, infeksi mata, otitis eksterna, otitis media, otitis interna, mastoiditis, sinusitis, dan infeksi saluran nafas atas.
• Infeksi pada saluran pencernaan
Gastroenteritis, hepatitis, necrotizing enterocolitis, infeksi intra abdominal
• Infeksi sistem pernafasan bawah
Bronkhitis, trakeobronkhitis, trakeitis, dan infeksi lainnya
• Infeksi pada sistem reproduksi
Endometriosis dan luka bekas episiotomi

II.3 Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial
Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi, monitoring dan program yang termasuk:
• Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan septik dan aseptik, sterilisasi dan disinfektan.
• Mengontrol resiko penularan dari lingkungan.
• Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi yang cukup, dan vaksinasi.
• Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif.
• Pengawasan infeksi, identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya.

II.3.1 Dekontaminasi tangan
Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene dari tangan. Tetapi pada kenyataannya, hal ini sulit dilakukan dengan benar, karena banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan, alergi produk pencuci tangan, sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini, dan waktu mencuci tangan yang lama. Selain itu, penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakit-penyakit infeksi. Hal yang perlu diingat adalah: Memakai sarung tangan ketika akan mengambil atau menyentuh darah, cairan tubuh, atau keringat, tinja, urin, membran mukosa dan bahan yang kita anggap telah terkontaminasi, dan segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan.

II.3.2 Instrumen yang sering digunakan Rumah Sakit
Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50% suntikan yang dilakukan di negara berkembang tidaklah aman (contohnya jarum, tabung atau keduanya yang dipakai berulang-ulang) dan banyaknya suntikan yang tidak penting (misalnya penyuntikan antibiotika).7 Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui jarum suntik maka diperlukan:
• Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan
• Pergunakan jarum steril
• Penggunaan alat suntik yang disposabel.
Masker, sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara. Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas, mereka harus menggunakan masker saat keluar dari kamar penderita.
Sarung tangan, sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah, cairan tubuh, feses maupun urine. Sarung tangan harus selalu diganti untuk tiap pasiennya. Setelah membalut luka atau terkena benda yang kotor, sanrung tangan harus segera diganti.11
Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah, cairan tubuh, urin dan feses.11

II.3.3 Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit
Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu, minyak dan kotoran. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi, dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali.
Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara, terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari.11
Toilet rumah sakit juga harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan.11
Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan antar pasien.
Disinfeksi yang dipakai adalah:
• Mempunyai kriteria membunuh kuman
• Mempunyai efek sebagai detergen
• Mempunyai efek terhadap banyak bakteri, dapat melarutkan minyak dan protein.
• Tidak sulit digunakan
• Tidak mudah menguap
• Bukan bahan yang mengandung zat yang berbahaya baik untuk petugas maupun pasien
• Efektif
• tidak berbau, atau tidak berbau tak enak

II.3.4 Perbaiki ketahanan tubuh
Di dalam tubuh manusia, selain ada bakteri yang patogen oportunis, ada pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh, dan membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik patogen serta menjaga keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya, misalnya seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. Pengetahuan tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas, sehingga dapat dipakai dalam mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat. Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika. 6

II.3.5 Ruangan Isolasi
Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan pasien. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara, contohnya tuberkulosis, dan SARS, yang mengakibatkan kontaminasi berat. Penularan yang melibatkan virus, contohnya DHF dan HIV. Biasanya, pasien yang mempunyai resistensi rendah eperti leukimia dan pengguna obat immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan, peralatan kesehatan di dalam ruang isolasi juga sangat penting. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi, tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas, beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama.9

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

III.1 Kesimpulan
• Faktor- faktor yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial tergantung dari agen yang menginfeksi, respon dan toleransi tubuh, faktor lingkungan, resistensi antibiotika, dan faktor alat.
• Agen Infeksi yang kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada: karakteristik mikroorganisme, resistensi terhadap zat-zat antibiotika, tingkat virulensi, dan banyaknya materi infeksius. Respon dan toleransi tubuh pasien dipengaruhi oleh: Umur, status imunitas penderita, penyakit yang diderita, obesitas dan malnutrisi, orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid, intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. Faktor lingkungan dipengaruhi oleh padatnya kondisi rumah sakit, banyaknya pasien yang keluar masuk, penggabungan kamar pasien yang terkena infeksi dengan pengguna obat-obat immunosupresan, kontaminasi benda, alat, dan materi yang sering digunakan tidak hanya pada satu orang pasien. Resistensi Antibiotika disebabkan karena: Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol, dosis antibiotika yang tidak optimal, terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat, dan kesalahan diagnosa. Faktor alat, dipengaruhi oleh pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti.
• Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial, misalnya Infeksi saluran kemih. Infeksi ini merupakan kejadian tersering, dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. Nosokomial pneumonia, terutama karena pemakaian ventilator, tindakan trakeostomy, intubasi, pemasangan NGT, dan terapi inhalasi. Nosokomial bakteremi yang memiliki resiko kematian yang sangat tinggi.
• Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit terutama dari dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi, dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali.

III.2 Saran
• Eliminasi dan kurangi perkembangan agen penyebab infeksi dan faktor lainnya yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial.
• Penybaran infeksi nosokomial terutama dari udara dan air harus menjadi perhatian utama agar infeksi tidak meluas.
• Mengurangi prosedur-prosedur invasif untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial.
• Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial memerlukan suatu rencana yang terintegrasi, monitoring dan program untuk mengawasi kejadian infeksi, identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Olmsted RN. APIC Infection Control and Applied Epidemiology: Principles and Practice. St Louis, Mosby; 1996
2. anonymus. Infectious Disease Epidemiology Section. http://www.oph.dhh.louisiana.gov
3. Ducel, G. et al. Prevention of hospital-acquired infections, A practical guide. 2nd edition. World Health Organization. Department of Communicable disease, Surveillance and Response; 2002
4. Light RW. Infectious disease, noscomial infection. Harrison’s Principle of Internal Medicine 15 Edition.-CD Room; 2001
5. Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI, Jakarta; 2001
6. Surono, A. Redaksi Intisari. agussur@hotmail.com
7. Anonymus. Preventing Nosocomial Infection.Louisiana; 2002
8. Suwarni, A. Studi Diskriptif Pola Upaya Penyehatan Lingkungan Hubungannya dengan Rerata Lama Hari Perawatan dan Kejadian Infeksi Nosokomial Studi Kasus: Penderita Pasca Bedah Rawat Inap di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Provinsi DIY Tahun 1999. Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta; 2001
9. Babb, JR. Liffe, AJ. Pocket Reference to Hospital Acquired infection. Science Press limited, Cleveland Street, London; 1995
10. Pohan, HT. Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine. Pusat Informasi dan Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta;2004
11. Wenzel. Infection control in the hospital,in International society for infectious diseases, second ed, Boston; 2002

About these ads

103 thoughts on “INFEKSI NOSOKOMIAL

  1. makasih udah bantu dalam browsing ttg infeksi. lanjutnya. tolong donk penelitian ttg pengaruh pendidikan terhadap konsumsi obat-obatab TBC. yang kedua, saya mo tanya komentar anda ttg PPNI yang tidak setuju dengan program DIV kMB yang ada di samarinda Kaltim. sebenarnya ini bukan komentar, tapi tolong dibalas ke email saya. ok. thanx be4

  2. sama-sama diah…
    semoga tulisan saya ini dapat dimanfaatkan sebaik2baiknya…
    soalnya dari statistik blogs saya
    INFEKSI NOSOKOMIAL ini yang paling banyak dicari
    oh ya… tentang bahannya ntar dicariin dulu ya…thanks juga .. :)

  3. thankx ya atas bahannnya kuharap kamu bisa menambah semua yang kamu ketahui dan bisa membagi pengetahuan ama yang laen!! selaamt berjuang buat kamu dan semoga kamu bisa suksess selalu majulah kesehatan indonesia!

  4. sama… sama
    iya nih, dari pada bahan ini tidur dirumah, mending di masukin ke blogs, lagpla sayang klo gak ditampilin…

    Setuju, MERDEKA!!!!
    maju terus kesehatan Indonesia?!!!
    iya nih rohman, ntar kapan-kapan klo ketemu ama om yudhoyono dan tante fadilah, titip pesan ya…
    gimana indonesia mau sukses ya, klo menteri kesehatannya gak tegas?
    belum lagi nasib sipintar tapi miskin dengan biaya sekolah kesehatan mahalnya selangit?
    trus gaji pengajar, sang mahaguru kita yang dibayar dengan lagu “padamu negeri”?
    itu aja, klo ktemu tolong ya… :)

  5. Untuk yang terhormat para Pakar dan peneliti baik ahli bedah dan tenaga ahli para medis lainya mohon di deklarasikan benar2 bagaimana penanganan infeksi NOSOKOMIAL yang benar juga di beri pengertian pada orang2 yang sama sekali tidak mengerti atau hanya sekedar mengenal dan dengar istilah infeksi nosokomial terutama petugas kamar OPERASI pada umumnya mereka banyak yang tidak mengindahkan peringatan tentang bahaya infeksi NOSOKOMIAL yang fatal bagi penderita dan lingkunganya.
    Please….para guru besar dan direktur rumahsakit dimana saja…pakailah syarat setifikat lulus pelatihan ini sbg acuan menjadi
    petugas di RS terutama di bagian KAMAR OPERASI karena selama ini saya lihat mereka yang penting bekerja aja dan systim yang benar kurang di mengerti dari kebanyakan petugas …….semoga sukses…..mari rame2 memikirkan untuk engatasi angka kesakitan dan kematian yang akibat dari kurang nya menjalankan systim yang benar…
    mohon maaf ya…dg kata2 aku ini…karena ini isi hati aku selama ini sebagai tenaga para medis yg benar2 prihatin melihat suatu pekerjaan yg tidak mau melalui systim /menyimpang dari systim yang ada……hik…hik…hik….kasihandeh diriku nggak ada yang mendukung mempertahankan systim yang benarrrrr…dah ya…
    sekali lagi mohon dukunganya…..makacih ya…

  6. buat endang…
    sayang gak ninggalin alamat emailnya
    endang kerja di RS kan? RS mana?
    pasti sudah tau bagaimana istilah “on” dan “off”
    dan bila kita ingin mencari inti permasalahannya cuma ada dua
    1. kurangnya dana dari RS itu sendiri
    2. setuju dengan endang, yaitu kurangnya tenaga yang profesional dalam mencegah terjadinya infeksi di kamar operasi khusus, dan kurangnya pengetahuan tenaga medis di tiap bangsal rs pada umumnya…

    mau bagaimana lagi…. inilah dilema rumah sakit kita
    te

  7. buat khirary……aku juga setuju ma comennt kamu karena biaya sekolah di Indonesia lumayan mahal, mungkin itulah yang menjadi penyebab makin meningkatya infeksi di indonesia apa lagi kesehatan juga mahal…….buat yang laen yang udah kerja dirumah sakit….tolong donk…minta infonya tentang keperawatan dan sistem yang ada di RS……ya kalo teman2 punya info….bisa kirim aja ya ma email ku di roman_li4n@yahoo.co.id, soale aku butuh banget ma info2 itu soalnya aku kan masih mahasiswa…hehehehhe..

    satu pesa buat Indonesia”MAJULAH INDONESIA DAN JANGAN KAMU MUNDUR, SUKSESKAN INDONESIA SEHAT 2010″

  8. aku mo bilang makasih banget mo bantuin kita yang lagi brusaha belajar ttg dunia kedokteran yang begitu luas tapi jg ruwet.

  9. makasih infonya, tolong juga donk infonya tentang macam-macam jamur kulit yang lengkap yaa. selama ini yang kita tahu kan cuma panu, kadas dsb tapi jenis2 yang laen kan blom. thanks ya!

  10. saya stj dgn kharry buat pesennya ke om yudhoyono n tante fadillah,bhkn menurutku indonesia di thn 2010 belum bisa sehat krn msh byk yg msti dibenahi, baik dr sarana n prasarananya

  11. bukan saja sarana dan prasarana rida…
    tapi juga sumber daya manusia nya…
    yang kompeten, berpendidikan dan berdedikasi tinggi..
    jangan kyak di beberapa tempat kesehatan masyarakat sekarang ini
    bisany cuma ngrumpi, nungguin bonus keluar…
    *duh…jangan gede-gede…kasian ntar ada yang tersinggung*
    hee,,he..

  12. yang pasti trima kasih atas penjelasannya. tapi munggkin yang perlu diperhatikan bagai mana mensosialisasikan pada tenaga kesehatan yang utama dan masyarakat “pengunjung pasen” untuk dapat sama2x membantu. yang pasti ini pr buat kita semua

  13. bagaimana ya ndre… menurut saya sebenarnya masalah sosialisasi tidak diperlukan mengingat semua tenaga kesehatan pasti pernah mendapatkan kuliah maupun pelatihan mengenai bahaya dari infeksi nosokomial ini, tetapi keterbatasan tenaga, alat dan tempat selalu dianggap menjadi biang masalah
    mengenai masyarakat pengunjung pasien, dengan sendirinya mereka akan mengerti jika para tenaga kesehatan yang bertugas di tempat tersebut dengan senang hati memberitahukannya kepada keluarga pasien tersebut. tetapi banyaknya order dan kewajiban yang harus dijalankan serta kurangnya komunikasi kembali dianggap menjadi biang masalah timbulnya infeksi nosokomial ini

  14. duh rin ga tau hharus comment pa???
    maaf ya…..!!!!!
    yang pasti rin punya tugas, truz minta batuannya
    boleh ga???/
    maaf ya………!!!!
    langsung za denk yach!!!
    tugasnya bikin makalah tentang kontaminasi di lingkungan kerja melalui saluran pernapasan
    dikumpulinnya minggu depan
    tapi rin ga dapet2 juga tuh bahannya
    susah banget!!
    ngumpet di mana sechhhh

    plizzzzz makasih sebelumnya
    maaf ngerepotin
    ditunggu yaaaaaaaaa….

  15. hi………….harry,
    harry potter ya??? he…he…
    thx bgt yach atas web nya yg udh bantu qta bgt dlm rangka pencarian informasi ttg nosokomial…

    boleh gak… informasi kmu qta ambil dikit2,,
    tar klo maen ambil aza diblg melanggar hak cipta org lagee………………


    “ohh….gak papa….silahkan silahkan…”

  16. aku tuh baru mo ngajuin proposal tentang hubungan antara pengetahuan dan perilaku petugas kamar operasi dalam pengendalian infeksi nosokomial. jadi ni mbantu bgt buat aku mas Hari. thanks ya. tapi proposal aku blm aku buat. minta bantuannya dong kang.

  17. wah…. kayakny penelitiannya baru nih…
    soalnya belum pernah ad yang meneliti -perilaku petugas kamar operasi-
    emang sudah pernah ada penelitian yang bersifat deskriptif mengenai macam2 perilaku yang sering dilakukan petugas kamar operasi?
    di kota saya belum ada…so di kota nino?
    kalo belum ada ya…terpaksa dicari dulu

  18. wah bagus sekali artikelnya, boleh ga sy diberitahu tentang prosentase kegagalan sterilisasi yang terjadi, mungkin ada hubungannya dengan INOK di RS terutama di kamar bedah.terima kasih

  19. harry thanks ya mengenai informasi tentang infeksi nosokomialnya, karena sudah membantu saya dalam mencari penelitian hubungannya dengan infeksi nosokomial dirumah sakit, tapi kayaknya saya masih membutuhkan beberapa informasi tentang infeksi nosokomial kalau seandainya bisa dimana sebaiknya saya mendapatkan refernsi tentang infeksi nosokomial, serta faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi nosokomial, serta pengetahuan, sikap dan tindakan para medis terhadap kejadian nosokomial serta hubungannya tentang sanitasi lingkungan yang ada dirumah sakit. tolong ya informasi tentang buku-buku infeksi nosokomialnya serta pengarang dan penerbitnya. thanks sekali lagi

  20. ASS, salam kenal,oh iya, saya mo ucapin makasih yaaaaaaa coz saya udah dapet banyak banget info ttg infeksi nosokimialnya. padahal udah nyari kemana2 tapi ga ada yang lengkap.baru ini yang bagus bgt.sekali lagi, thanks yaaaaaaaaaaaa

  21. aslm wr wb,
    terima kasih atas info yang diberikan ttg infeksi saluran kemih yang terkait dengan infeksi nosokomial.saya sedang membuat KTI mengenai proteus mirabilis sebagai salah satu agen penyebab ISK-terkait infx nosokomial, terutama protein adhesinnya sebagai faktor virulensi.nah, mungkin protein adhesin ini bisa dipakai sebagai kandidat vaksin baru untuk ISk-terkait infx nosokomial yg disebabkan proteus.apabila anda mempunyai info yg bagus saya mengharap anda sudi mengirm di email saya. oya,,,saya juga minta ijin mengkopi blog ini.terima kasih mas harry

  22. tolong pak kasih tau saya referensi buku terbaru tentang limbah medis rumah sakit berkaitan ma kesehatan lingkungannya atau berdampak pada lingkungan sekitar dan pengelolalan limbah padat/ medis yang ada di tumah sakit, coz saya mahasiswa kesehatan yang ngambil peminatan tentang kesling yg mo buat skripsi n’ bingung apa yang mo diteliti tetapi saya ingin meneliti tentang limbah medis rumah sakit, dan yang bagusnya klo bapak bersedia mau blz email ke saya, saya pasti sangat berterima kasih ma bapak.

    wlau saya gak kenal ma bapak, tapi saya yakin bapak mau mempertimbangkannya

  23. ass wr wb.sungguh sangat menarik daripada pembahasan yang bapak bahas,klo bisa bapak juga memuat tentang infeksi neonatal pada bayi yang baru lahir,serta apa sih maksud dari neonatal itu?
    makasih pak atas infonya

    • setau gw infeksi neonatal itu,,lbh ke tali pusat soalnya tali pusat bayi baru lahir lbh dominan terkena infeksi,,

      kalo neonatal itu : asuhan pada bayi baru lahir,,seperti perawatan tali pusat,, pemberian vit K,, pemberian salep mata,, menjga lingkungan ttp hangat,,

      hee gw cma mo bantu aj

  24. sungguh menarik pembahasan bapak, mohon dapat dibantu, kebetulan saya kerja di divisi INOS di rumah sakit, pada saat ini ditemukan kuman/bakteri Bacillus subtilis acinet baumannii pseudo aeruginosa, pada AC di ruangan OK,IBS,dll. untuk membunuh bakteri tersebut dipakai disinfectan jenis apa agar bakteri dapat mati tetapi tidak bersifat korosif pada AC. Mohon disebutkan jenis disinfectan beserta merk dan cara dapetnya, karena kami sudah mencoba beberapa jenis disinfectan tetpai belum tuntas, sblmnya sy ucapkan terima kasih

  25. @bagas
    wah mas, kami juga baru tahu jika pendingin ruangan juga mengandung bakteri. Selama ini mungkin terlupakan oleh kami-kami ini yang masih terpaku pada instrumen operasi dan melupakan AC itu sendiri.

    Tetapi apakah sinar ultra violet yang salah satu fungsinya untuk membunuh kuman juga tidak bisa digunakan untuk kuman yang satu itu?

  26. Pingback: Dosen Nge-Blog - AKPER BETHESDA

  27. tq ya Harry, kalo ada contoh perilaku apa aja yang dilakukan petugas kamar operasi yang beresiko menyebabkan INok tampilin dunk kang Harry,…….

  28. tolong ya bantuin saya mencari tahu tentang gradia lamblia,mulai dari epidomologi,pravelensi,insiden,distribusi geografi,habitat,morfologi,siklus hidup,patofisiologi,manifestasi,diagnosis,penanganan,pencegahan,sebelumnya saya ucapkan terima kasih
    ini emailku:mufril_lv@yahoo.com

  29. Pingback: Hair Removal Before Surgery « Catatan untuk sahabat

  30. makasih banget buat blognya akhirnya saya nemu judul buat skripsi saya. Kebetulan sedang memikirkan judul tentan Hubungan manajemen penangan limbah dengan angka kejadian infeksi nosokomial, ya kurang lebih gitu deh, krn emang belum digodok juga penelitiannya,,,

    yang mau ditanyain adalah….

    di blog anda ga ada dasar teori tentang pengaruh perkembangan infeksi nosokomial tenang manajemen penangan limbah RS

    kalau-kalau pernah baca dimana, mau minta toong bisa kasih referensi… thanx banget buat bantuanyya kalau emang ada, makasih ya kalau bisa bales ke email..duh maaf dan makasih bgt infonya

  31. tolong donk dikasi tau data perilaku petugas kesehatan yang mampu meminimalkan terjadinya inos. mengingat konsep INOS dewasa ini sudah berkembang tidak lagi hanya di rumah sakit tetapi di balai pelayanan kesehatan, panti juga. dan yang terpapar inos tidak hanya pasien saja tetapi juga petugasnya. thanks

  32. Ass.
    Thank’s yia mas, pembahasannya sangat membantu.
    Cara penanganan yang benar instrument yang habis di pakai oleh pasien yang terinfeksi (Contoh: Hepatitis B, HIV, dll) dari kamar bedah sampai ke CSSD.
    Saya sangat mohon informasi nya Yia, sebelumnya makasih yia.
    Email: yan.nesta@yahoo.co.id

  33. Ass.
    Thank’s yia mas, pembahasannya sangat membantu.
    Oia, saya minta informasi nya tentang Bagaimana Cara penanganan yang benar instrument yang habis di pakai oleh pasien yang terinfeksi (Contoh: Hepatitis B, HIV, dll) dari kamar bedah sampai ke CSSD.
    Saya sangat mohon informasi nya Yia, sebelumnya makasih yia.
    Email: yan.nesta@yahoo.co.id

  34. Ass.
    Thank’s yia mas, pembahasannya sangat membantu sekali.
    Oia, saya minta informasi nya dunk, tentang Bagaimana Cara penanganan yang benar instrument yang habis di pakai oleh pasien yang terinfeksi (Contoh: Hepatitis B, HIV, dll) dari kamar bedah sampai ke CSSD.
    Saya sangat mohon informasi nya Yia, sebelumnya makasih yia.
    Email: yan.nesta@yahoo.co.id

  35. Ass.
    Thank’s yia mas, pembahasannya sangat membantu.
    Oia, saya lagi butuh informasi neh tentang bagaimana Cara penanganan yang benar instrument yang habis di pakai oleh pasien yang terinfeksi (Contoh: Hepatitis B, HIV, dll) dari kamar bedah sampai ke CSSD.
    Saya sangat mohon informasi nya Yia, sebelumnya makasih yia.
    Email: yan.nesta@yahoo.co.id

  36. hai saya mirna dari papua, skarang sy bkrja di balai litbang biomedis papua, klikharry thanks banget ya uda ngasih info tentang infeksi nosokomial,.. boleh gak saya minta info tentang infeksi saluran kencing…TKB sebelumnya email saya nina2trie@yahoo.co.id

  37. Thanks bangetz atas infonya nih..ini angat berguna bangetz bt aq..soalnya aqlg pengen bt skripsi nih..lam knal ya…dari aq

  38. salam.
    my minor thesis project is about nosocomial infection too!
    i am going to use your work as one of my references for Literature Review,
    and i hope that u don’t mind.

    I Thank you in advance

  39. oh ya mas, kalau bisa mas, sekalian sertakan judul lengkap tulisan mas di atas, kapan di publish nya, buat memenuhi apa, dan sebagainya. soalnya kayaknya ntar sekalian di masukin ke bagian daftar pusaka / references

    makasih mass

  40. Konon infeksi nosokomial di negri paman sam membunuh lebih 100 ribu jiwa per tahun. Bagaimana di negri awak sendiri?. Saya pikir semua ini terpulang kepada bagaimana kita secara induvidu merawat kesehatan, yaitu merawat dan mempertahankan imunitas diri kita. Homeostasis sangat penting baik peran humoral imune system maupun celular imune system. Pemahaman merawat imunitas diri melalui ‘public education’ sangatlah penting.Semoga para dokter enyisihkan waktunya guna mendidik publik tentang merawat kesehatan tidak memfokuskan merawat pesakitan. Semoga

  41. dear, pak harry.
    saya ingin berbagi cerita mengenai infeksi nosokomial yang diderita orang tua saya (nenek saya) dalam 2 bulan ini saya mendapat masalah besar mengenai infeksi nosokomial ini. karena nenek saya setelah dirawat di RS, didiagnosa terkana infeksi nosokomial (HPV) yang berada pada luka bekas penyinaran (operasi tumor kandungan) 20 tahun yang lalu.
    setelah dirawat selama 15 hari di RS, karena biaya yang menipis, saya membawa pulang nenek saya, tentunya dengan bantuan dokter dan perawat RS untuk tetap memberikan pengobatan dirumah.kemudian selama 2 minggu baik2 saja dan saya juga harus bekerja kembali di jakarta, maka nenek, saya titipkan ke anak angkat beliau.tetapi 10 hari kemaren, om saya ini dengan sok tau mengganti dokter yang bersangkutan dengan dokter ahli kulit di yk, dan tanpa ada biopsi mengatakan bahwa nenek saya terkena kanker di depan nenek saya (yang NB. selalu ketakutan dengan kata2 kanker)yang menyebabkan kondisi nenek saya menurun karena down sehingga juga tidak mau makan samasekali, hingga akhirnya beliau meninggal. tambahan lagi Pak, dokter ahli kulit tersebut juga memberikan obat racikan sendiri untuk pengobatan kanker, yang tanpa adanya biopsi atau pemeriksaan yang benar.
    kalo dipikir dengan logika, selama 15 hari di RS dan diperiksa apapun, dan semua normal dan tidak ada jaringan tumor atau kanker, kenapa yang baru sekali melihat dan itu ahli kulit (bukan ahli penyakit dalam/bedah) bisa menyimpulkan hal seperti itu dan dengan sembrono menceritakan penyakit didepan pasien yang sudah lemah. ini pembelajaran dan mungkin sudah garis hidup nenek saya. tetapi merupakan pembelajaran yang sangat baik bagi rekan2 medis. semoga pengalaman kami ini menjadi manfaat bagi semua orang.

  42. harry hebat euy… my fren nih..
    harry ima dapet tugas huehehehe…. mencari bahan tentang sfat resistensi sebagai marker genetik dalam rekombinas DNA. udah dcari cm g nyambung semua…
    thnks ya harry my fren

  43. terimakasih, meski tak banyak, ada bagian yang saya baca/pakai untuk penelitian saya.Selamat berkarya utk tulisan berikutnya…

  44. terimah kasih atas artikelnya ………….tapi aq perlu data tentang infeksi nasokomial di indonesia untuk latar belakang bab 1……..bisa bantu g” ya…………

  45. Information is quite informative. Aside from the fact that yeast infection is treatable, there are also ways to prevent this from ever happening. The best is to drink a glass or two of milk daily as this ensures that there will never be an overgrowth of yeast down there.

  46. saya merasa sangat terbantu dengan adanya ini.,.,
    mgkin untuk selanjutnya, bisa ditambahkan sterilisasi dan DTT.
    terimakasih. . .

  47. mas tlng dong dimana saya cari refrensi yg lebig lengkap tentang gambaran infeksi nosokomial pada pemasangan infus di ruang bedah tlng kirim ke email saya thanks

  48. tq mas bt tulisannya

    mas, tlg krmkan keemail saya mengenai penelitian pengaruh infeksi nosokomial terhdap penggunaan alat pelindung diri dirs.

    trims

  49. Pingback: Asuhan Keperawatan Infeksi Nasokomial | ASKEP

  50. mas saya mau melakukan penelitian tentang infeksi nosokomial di kamar operasi di RS tempat saya bekerja… dan saya sedang mencari data2 pembanding penelitian sebelumnya… kalau mas punya saya boleh minta di kirimin ya.. email saya ns.ilham@gmail.com
    terima kasih atas bantuannya.

  51. maaf sebelumnya,mas saya mau melakukan penelitian tentang identifikasi jamur udara pada ruang rawat inap dirumah sakit…..untuk kelancarannya mohon dibantu mas untuk penelitian ini…..maaf mengganggu…mohon dikirim lewat email saya: tiarayhan@hotmail.com ……trimakasih :-)

  52. terimakasih..banyak atas informasi ini..
    semoga kamu akan selalu berbagi ttg info2 bidang kesehatan agar setiap orang bs mengetahui lebih banyak masalah2 kesehatan…dan cara mengatasinya
    makasih…

  53. Mas, skdr tambahan info saja terkadang sy juga sbg pelaku promosi untuk produk yang berkaitan dgn masalah inoc agak sulit penetrasinya ke RS terkadang ada juga beberapa RS yang belum mempunyai PPI ( panitia Pengendali Infeksi ) terkadang yg sdh ada pun kurang di suport oleh jajaran managementnya sehingga dalam melakukan promosi produk agk sdkt terhambat, dan sampai saat ini dalam penangganan masalah infeksi nosokomial terkadang belum memahami dari mana awal atau gerbang terjadinya penyebaran infeksi tersebut, sebetulnya kalau sy lihat awal mulanya itu bisa terjadi mulai dari IGD ketika pasien dtg dan akan di tindak lanjuti masuk ke dalam perawatan sehingga ketika pasien masuk keruangan itu sdh membawa bakteri penyakit yg baru otomatis pasien yg sdh dirawat pun akan tertular dari dtgnya pasien baru yg akan menambah lama rawat inap, jadi kalau menurut sy alangkah lebih baiknya kalau pencegahan awal berawal dari IGD. sehingga otomatis tune offer pasien akan meningkat dan akan menguntungkan bagi pihak RS.
    ini sih hanya skdr info saja, Tq Salam Sukses.

  54. TERIMA KASIH SANGAT BERMANFAAT,
    Bisa kasih prosedur Desinfeksi dan dekontaminasi untuk ruangan IBS/sterilitas kamar operasi secara berurutan,thx

  55. Terimakasih Infonya sangat bagus….
    cuma ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan:
    1. Apakah ada standar intensitas cahaya alami/kondisi penghawaan/kelembaban ruang rawat yang menyebabkan kuman penyebab infeksi nosokomial bisa mati atau tidak dapat berkembang?
    2. Dapatkah rekayasa kondisi ruang bisa membantu mengatasi infeksi nosokomial di Rg Rawat?
    terima kasih atas bantuannya.

  56. Pingback: INFEKSI NOSOKOMIAL

  57. Pingback: GOOGLE SANDBOX « klikharry

  58. saya setuju dengan mba endang yg selaiin kurangnya tenaga juga pengetahuan dari karyawan RS terutama dari tenaga kesehatan sendiri infeksi nosokomial biasany terjadi karena kurangnya kesadaran karyawan RS terutama tenaga kesehatan sendiri misalnya cuci tangan atau penggunaan sarung tangan yang salah juga kebersihan dari diri sendiri

  59. saya setuju dengan mba endang yg selaiin kurangnya tenaga juga pengetahuan dari karyawan RS terutama dari tenaga kesehatan sendiri infeksi nosokomial biasany terjadi karena kurangnya kesadaran karyawan RS terutama tenaga kesehatan sendiri misalnya cuci tangan atau penggunaan sarung tangan yang salah juga kebersihan dari diri sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s